Showing posts with label parkir. Show all posts
Showing posts with label parkir. Show all posts

18.1.08

Mengintip Busway Nantes

Saking terpesona dengan Busway Nantes dan busgandeng Mercedes Citaro-nya, saya ingin berbagi hasil jalan-jalan ke Nantes pakai google :

logo Namanya BusWay, arti harfiahnya ga jadi soal. Kita juga sering begitu, seperti Metro Mini, Gudang Garam, Kompas, banyak...
Koridornya cuma satu, Line 4, melanjutkan nomor urut koridornya trem: Line 1, 2 dan 3. (line 11 hingga 99 untuk buskota). Slogannya: busway pertama di Prancis, dari Nantes ke Vertou kurang dari 20 menit saja. Kabarnya BusWay Line 5 sedang dikaji untuk 2010.

Busway_nantes_01
11-Station Bourdonnières Panjang koridor cuma 7 kilometer, ada 15 halte. Mulai beroperasi 6 Nopember 2006 dengan 20 busgandeng BBG yang panjangnya 18 meter. Di jam sibuk headwaynya 4 menit, mengangkut 27ribu penumpang per hari.
Populasinya memang kurang dari 300ribu, kepadatan 4ribu orang setiap km persegi (di Jakarta 12ribu orang) dan 2ribu lebih mobil (indexnya 475 mobil per seribu orang).

001-infoSeperti di Jakarta, pembangunan busway juga menarik perhatian besar di seluruh Prancis, semua mengawasi. Bedanya, mereka sepakat bahwa ini pendekatan yang tepat untuk mempermudah mobilitas penduduk. Sementara di Jakarta tidak ada yang berupaya untuk menyamakan visi antar pemangku kepentingan.

papanMaka di saat tahap pembangunan di setiap lokasinya ada papan informasi dilengkapi gambar rancangan desainnya.
Kita juga punya aturan serupa meski sederhana. Tapi seperti biasa, tidak dipatuhi dan yang berwenang juga masabodoh, apalagi masyarakat yang tidak tahu bahwa mereka berhak mengawasi dan melapor.

aesthetic-urban-furnitureKarena busgandeng Citaro berlantai rendah, maka konstruksi halte-haltenya tidak membutuhkan tangga. Ini pendekatan yang mengutamakan penumpang. Lebih manusiawi ya, dan mungkin lebih murah. Penumpang Transjakarta diharuskan berbelok-belok menapaki pelican cross, jauhnya bisa 4kali lebih panjang dibanding kalau lurus menyeberang.
Tapi haltenya jauh lebih sempit dibanding di Jakarta. Barangkali karena headwaynya cuma 4 menit, dan bisa 200 penumpang sekali angkut. Menariknya, halte dipandang sebagai urban furniture. Dan karya para perupa Prancis pun bisa dinikmati dan dipakai untuk duduk, memarkir sepeda atau hiasan. Gagasan yang genial, karya seni difungsikan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya diam di sudut ruang pamer, hanya bisa dinikmati oleh pengunjung galeri.

10-Station-MauvoisinsDi Nantes bukannya tidak ada jembatan penyebrangan. Ini desainnya. Lihat bagaimana pendekatannya: bukan manusianya diminta naik, tapi untuk mobil-mobil dibuatkan underpass. Ini lebih mahal ya daripada membuat jembatan penyeberangan orang.

nantes-google7Tapi ga papa, panorama kota jadi terpelihara, pandangan mata tidak terhalang jembatan atau jalan layang, apalagi jalan tol bertingkat. Belum lagi asap knalpot. Kualitas hidup lebih utama. Dinikmati oleh semua, bukan hanya oleh pemilik mobil.

Ini halte yang sama difoto lewat satelit. Dengan bantuan Google Earth kita bisa melihat dan belajar banyak ke seluruh dunia tanpa harus bangun dari kursi...


parking2 Terlihat di atas bahwa halte diapit oleh fasilitas parkir. Cara penyelesaiannya jauh lebih smart dibanding Jakarta: satu koridor saja dulu, tapi semua fasilitasnya dilengkapi.
Pengendara mobil memang jadi lebih suka meninggalkan mobil di Park and Ride, naik BusWay mewah, paling lama 20 menit. Daripada ke kota naik mobil, parkir mahal, lebih lambat lagi...

Denah-Nantes

Di lihat pada petanya, hanya ada tiga Park and Ride. Tapi kalau mengintip lewat Google Earth, paling sedikit ada 7. Coba tengok.
Kalau ga punya waktu, besok-besok ditampilkan di sini deh.
Semoga bermanfaat.

more

29.11.07

Park and Ride?

Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta akan berkoordinasi dengan instansi terkait dalam penyediaan lahan parkir bagi pengguna kendaraan pribadi yang memanfaatkan angkutan umum busway.
“Kita akan berkoordinasi untuk menyiapkan lahan parkir di simpul-simpul halte untuk memudahkan pengguna kendaraan pribadi memarkir kendaraannya sebelum beralih ke angkutan busway,” kata Rene Nunumete, Manajer Pengendalian BLU Transjakarta kepada SH, Kamis (29/11).

Saat ini jalur transportasi busway belum mampu mengatasi kemacetan lalu lintas Jakarta dan mengalihkan minat pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum massal. Kendaraan pribadi masih memadati sepanjang jalan protokol Jakarta.

Diperkirakan kondisi ini terjadi karena belum seluruh jalan Jakarta dan daerah penyangga di sekitarnya dibuat busway. Sehingga belum memfasilitasi penumpang-penumpang yang berasal dari kawasan penyangga Jakarta seperti Tangerang, Bogor, Depok maupun Bekasi.
Kendati demikian, ditambahkan Rene, sistem peralihan kendaraan pribadi sudah mengarah ke angkutan massal. Kondisi ini terlihat di areal parkir Ragunan dan Kalideres yang jumlahnya meningkat. Masyarakat pengguna kendaraan pribadi beralih dan memanfaatkan busway setelah me-markir kendaraannya terlebih dahulu.

“Dari catatan kita, jumlah kendaraan yang parkir di areal Ragunan mencapai 400 unit. Memang jumlahnya belum signifikan, tapi sudah menunjukkan indikasi tanda positif pengalihan kendaraan pribadi ke busway,” jelas Rene.

Secara kuantitatif, jumlah penumpang bus Transjakarta setiap tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 jumlah pengguna busway sebanyak 20.798.196 orang, tahun 2006 naik menjadi 38.828.039. Sekarang, dalam catatan BLU Transjakarta per bulan Agustus 2007 jumlah penumpang menjadi 38.718.053 orang.

Kepala BLU Transjakarta Drajat Adhyaksa mengakui saat ini penumpang masih berasal dari perpindahan angkutan umum reguler. Angkutan busway belum sepenuhnya me-ngalihkan minat pengguna kendaraan pribadi.
Dikatakannya target perpindahan penumpang dari kendaraan pribadi membutuhkan proses. Belum dapat memprediksi kapan minat masyarakat akan beralih ke busway. Apalagi saat ini belum semua jalan di Jakarta dilalui lintasan busway. (romauli - Sinar Harapan)
more

16.10.07

Park and Ride

Dukung Busway, akan Dibangun 'Park and Ride'
Selamat Saragih

Pemprov DKI akan membangun park and ride serta rest area sebagai fasilitas pendukung pelayanan terhadap penumpang bus Trans-Jakarta di terminal akhir.

Pembangunan fasilitas parkir kendaraan dan tempat istirahat lengkap dengan restoran dan toilet itu akan selesai tahun ini, kata Wakil Kepala Dinas Perhubungan (Waka Dishub) DKI Udar Pristono kepada Media Indonesia di Jakarta, Senin (15/10) malam.

Sekarang sedang dalam tahap pembangunan park and ride (areal parkir mobil, sepeda motor, dan sepeda) milik calon penumpang busway di Terminal Bus Kalideres, Jakarta Barat. Tempat parkir ini dilengkapi dengan restoran dan toilet, ujar Pristono.

Ia juga menjelaskan calon penumpang bisa memarkir mobil, sepeda motor, dan sepeda di areal parkir khusus seluas 3.820 M2 yang mampu menampung 122 unit mobil, 36-40 sepeda motor, dan 20 buah sepeda di Terminal Bus Kalideres.

"Walau dalam tahap awal bangunan areal parkir khusus calon penumpang busway itu posisinya horizontal, tapi konstruksi bangunannya kita rancang untuk bertingkat (vertikal), karena mencari lahan di Jakarta sulit dan kalaupun ada harganya relatif mahal," ungkap Pristono.

Menurut dia, park and ride yang dilengkapi areal untuk bersitirahat dengan fasilitas toilet itu juga sedang dibangun di Terminal Bus Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Sedang yang di Terminal Bus Ragunan, Jakarta Selatan, sudah ada dan kini dalam peningkatan kapasitas daya tampung parkir.

Pada tahun anggaran (TA) 2008, lanjutnya, Dishub DKI juga akan membangun fasilitas serupa di Terminal Bus Pinang Ranti, Jakarta Timur, dan Terminal Bus Lebak Bulus dua lantai, Jakarta Selatan.
Diharapkan areal parkir khusus itu mampu menampung semua kendaraan, termasuk sepeda, milik calon penumpang busway.

Sementara di terminal akhir busway Ancol, menurut Pristono, sudah ada areal parkir khusus milik PT Pembangnan Jaya Ancol. Karena pengertian areal parkir calon penumpang busway boleh juga di areal milik swasta maupun masyarakat.
"Intinya parkir di areal yang dibangun Pemprov DKI, milik swasta, dan perkantoran boleh saja bila berdekatan dengan terminal akhir bus Trans-Jakarta. Karena di mana pun parkir tetap bayar retribusi termasuk yang disiapkan milik pemprov," ujar Pristono.

Sementara terkait dengan rencana kepindahan Terminal Bus Pulogadung, Jakarta Timur, ke Pulogebang, Jakarta Timur, sekitar dua tahun lagi, kata Pristono, maka di atas eks areal terminal itu akan dibangun gedung parkir bertingkat untuk kebutuhan penumpang busway dan kendaraan umum.

Lokasi parkir penumpang busway di Pluit sama dengan Ancol, yaitu boleh menggunakan areal parkir swasta Mega Mal. Hal serupa juga bisa dilakukan di Terminal Bus Ciilitan, yang bisa memanfaatkan areal parkir Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur.

Untuk pembangunan fasilitas parkir khusus kendaraan calon penumpang busway di Terminal Bus Blok M, sulit dilakukan karena tidak ada lahan.

"Kendala kita sulit mencari lahan. Jika ada biasanya harganya mahal. Bahkan tidak ada yang mau menjual walau ditawar harga tinggi. Makanya kita rancang gedung parkir di DKI sistem vertikal. (Ssr/Ol-03 - Media Indonesia)
more

20.9.07

Park and Ride Ragunan

Parkiran Ragunan Mulai Laris

KOMPAS--Lahan parkir di Kebun Binatang Ragunan kini laris diminati ratusan pengendara mobil dan motor. Mereka saban hari memarkir kendaraannya di KB Ragunan untuk kemudian menggunakan bus Transjakarta. Warga sekitar pun mulai tertarik menjadikan jasa penitipan kendaraan di rumahnya, sebagai bisnis yang menjanjikan.

Saat ini, ratusan mobil dan motor tampak parkir di lahan parkir berkonblok seluas hampir empat hektar. Sebagian tampak mobil-mobil mewah seperti Mercedes dan BMW seri baru. Mobil dan motor itu mulai parkir sejak pukul 06.00 hingga 20.00. Tarif untuk parkir mobil seharian sebesar Rp 5.000 dengan asuransi Rp 500. Sementara, tarif motor Rp 2.800, termasuk asuransi.

Menurut Humas KB Ragunan Marzuki, sejak bus Transjakarta Koridor VI jurusan Ragunan-Dukuh Atas beroperasi, setiap hari sekitar 400 mobil dan 200 motor terparkir di Ragunan. Kapasitas lahan parkir di Ragunan mencapai hingga 2000 mobil. ”Berarti yang terpakai baru 20 persen. Sebelum ada busway, parkiran baru penuh akhir pekan,” kata Marzuki.

Rivelino Eka Putra, salah satu pengguna busway, mengaku sudah tiga bulan terakhir dia memarkir mobilnya di KB Ragunan. ”Dengan busway, perjalanan ke kantor di Kuningan bisa hemat satu jam. Saya bisa lebih santai, enggak stres di jalan, bisa sambil kirim data lewat internet,” tutur Rivelino, yang tinggal di Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Taufan Hidayat, karyawan di salah satu perusahan asing di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat menuturkan hal serupa. Taufan sebelumnya adalah pengendara motor. Sejak busway koridor VI beroperasi di menitipkan motornya di jasa penitipan motor milik warga di Jalan Saco, sekitar 50 meter dari halte busway Ragunan. Di tempat itu, waktu titip bisa lebih malam yaitu hingga pukul 23.00 dengan ongkos Rp 3000. Taufan pun kerap menginapkan motornya saat keluar kota.

”Saya bisa lebih segar sekarang. Enggak perlu berjuang dan maki-maki lagi di jalanan. Bisa baca buku di bus, buka internet,” ujar Taufan, warga Ciganjur, Jakarta Selatan.

Rudi Chandra, warga Cinere Depok, mengatakan, seharusnya seluruh koridor membangun perpakiran yang layak. Sistem tiket pun suatu saat harus dibuat terintegrasi dengan monorail dan Mass Rapid Transit. (SF)
more

14.8.07

Paradigma Kampungan

Sutiyoso: Ubah Paradigma Kampungan ke Metropolitan
Warga disarankan lebih banyak memanfaatkan kendaraan publik.

REPUBLIKA -- Masyarakat diminta mengubah paradigma dalam tertib lalu lintas. Selain itu, warga juga disarankan lebih banyak memanfaatkan kendaraan publik dan mengurangi pemakaian kendaraan pribadi.
Menurut Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, perubahan paradigma dalam tertib lalu lintas ini menyusul upaya pemerintah provinsi (pemprov) yang sudah mencanangkan pola transportasi makro (PTM). Dengan demikian, masyarakat tidak lagi direpotkan dengan fasilitas transportasi publik yang terus dikembangkan.

''Paradigma kampungan harus diubah ke paradigma metropolitan. Dalam pemanfaatan transportasi publik harus diimbangi dengan pelayanan yang prima, seperti di Terminal Kalideres kali ini sudah tersedia rest area maupun park and Ride (area istirahat dan lahan parkir),'' ujar Sutiyoso dalam sambutan peresmian rest area dan peletakan batu pertama park and ride di Terminal Kalideres, Jakarta, Senin (13/8). Dengan demikian, lanjutnya, masyarakat pengguna bus TransJakarta bisa memarkir kendaraannya di terminal.

Sutiyoso menjelaskan, dalam pola PTM, pemerintah sudah optimal meningkatkan pelayanan transportasi publik. Untuk bus TransJakarta, saat ini sudah tersedia tujuh koridor, dan tahun ini ditarget menjadi 10 koridor. Kemudian proyek waterway sudah berjalan, meski belum efektif. Selanjutnya proyek subway. Untuk proyek ini ada bank di Jepang yang sudah siap membantu pendanaan. ''Kemudian proyek monorel tiang pancang sudah disediakan, dan Insya Allah akan terwujud.

Perubahan paradigma juga disoroti mengenai penggunaan jalur bus TransJakarta. Sutiyoso mengaku saat menuju ke Terminal Kalideres, melihat dua kendaraan sepeda motor yang melaju ke jalur busway. Maka tidak heran, katanya, dua hari lalu dia mendengar ada informasi dua warga tewas ketika melaju di jalur bus TransJakarta.

''Paradigma ini yang harus diubah, pemerintah menyediakan sarana masyarakat harus ikut menertibkan dan mematuhi peraturan lalu lintas. Saya juga meminta petugas polantas dan petugas Dishub menindak tegas pengguna jalan yang melaju ke jalur busway. Begitu juga masyarakat saatnya beralih ke transportasi publik,'' paparnya.

Sutiyoso mengatakan guna menambah kenyamanan pengguna bus TransJakarta tapi menggunakan kendaraan pribadi, saat ini di Terminal Kalideres telah disediakan lapangan parkir kendaraan pribadi seluas 3.820 meter persegi. Penumpang kendaraan pribadi yang ingin naik bus TransJakarta dapat memarkirkan kendaraannya terlebih dahulu.

Kepala Dinas Perhubungan Nurachman, menjelaskan, kawasan park and ride ini berkapasitas 122 unit kendaraan roda empat ditambah 36 unit parkir kendaraan roda dua serta 20 lahan parkir sepeda biasa.

Sutiyoso menjelaskan, park and ride diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai area parkir saja tetapi dapat dikembangkan sebagai tempat fasilitas penunjang seperti pertokoan, rest area serta area makanan. Untuk rest area (tempat releks) berada di 1.200 meter persegi, yang tersedia 12 ruang usaha, sepuluh di antaranya food court, tempat ATM serta toko berbagai assesoris.

"Akhir tahun ini akan dikembangkan di Terminal Kampung Rambutan dan Ragunan. Tahun depan akan disediakan di Terminal Rawa Buaya," jelas Sutiyoso.

Fakta Angka: 3.820 M2 Luas lapangan parkir untuk kendaraan pribadi
more

Busway parking improved

Busway parking improved to up ridership
Mustaqim Adamrah, The Jakarta Post, Jakarta

With an eye toward encouraging commuters to take the busway, the city administration plans to increase the space for parking vehicles in terminals.

Governor Sutiyoso on Monday officiated at the groundbreaking ceremony of a 3,820-square-meter parking lot near Kalideres bus terminal, West Jakarta.

Sutiyoso said: "commuters will be able to arrive at their destinations on time, without worrying about their vehicles parked back at the terminal".

Sutiyoso was accompanied by Deputy Governor Fauzi Bowo, who symbolically placed the first stone although construction work does not officially begin until November.

According to city transportation agency head Nurachman, who also attended the ceremony, the parking lot will be able to accommodate 122 cars, 36 motorcycles and 20 bicycles.
"We are also making sure the site will later be able to support vertical parking space so as to accommodate more vehicles," he said.

Apart from parking space, the administration has already established 12 business shelters comprising 10 food-and-drink stalls, one mini market and one cafe, as well as room for automatic teller machines, four pushcarts selling accessories and restrooms.

All of the business shelters stand on 1,200 square meters of land, right in the middle of the busway U-turn, and are operational.
"We are providing an alternative place for people to transit," said Nurachman.
Sutiyoso said: "It is time for us to change our paradigm. Our communal facilities must be kept orderly".
"Hopefully, foreign tourists, who will also enjoy the facilities we've provided, will be pleased."

Sutiyoso said the administration, through city-owned Bank DKI, would issue a smart card, the "Jakcard", which would function as a transaction card for the payment of parking fees and purchases in the terminal's business hub.

The administration is also planning to operate similar facilities in Ragunan bus terminal, South Jakarta, and Kampung Rambutan bus terminal, East Jakarta, by the end of this year, according to Nurachman.
"Ideally, we should have such facilities in Pulo Gadung bus terminal (East Jakarta) and in Blok M bus terminal (South Jakarta) but we don't have enough space," he said.
"The area size of the lot in Ragunan will be similar to the one in Kalideres, while the one in Kampung Rambutan will be twice as big as the one in Kalideres."
more

13.8.07

Park and Ride

Akses bagi Pemilik Kendaraan Pribadi Akan Dipermudah

Suara Karya: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dalam upaya mengatasi kemacetan lalu lintas dengan menekan pemakaian kendaraan pribadi, telah membangun fasilitas yang mempermudah pengguna mobil pribadi berpindah moda ke bus TransJakarta.

Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono di Jakarta, Minggu, memaparkan bahwa pada 2007 sejumlah terminal angkutan darat di Jakarta yang dilalui jalur TransJakarta akan memiliki fasilitas park and ride.
Foto: La Tan

"Fasilitas itu memungkinkan para pemilik kendaraan pribadi seperti mobil dan motor memarkirkan kendaraannya di lokasi tersebut dan berpindah moda menggunakan bus TransJakarta," katanya.

Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada Senin (13/8) dijadwalkan akan meresmikan fasilitas tempat istirahat dan park and ride di Terminal Kalideres, Jakarta Barat. "Untuk fasilitas park and ride yang ada di Terminal Kalideres itu akan mampu menampung 122 mobil, 36 sepeda motor, dan 20 sepeda. Untuk rest area akan dilengkapi dengan minimarket dan tempat makan," ujarnya.

Merasa Aman

Pristono menambahkan, park and ride seluas 3.820 meter persegi di Terminal Kalideres itu sistem perparkirannya akan mengadopsi pola gateway parking seperti yang telah ada di parkir IRTI Monas. Demikian juga tarif parkir yang diberlakukan.

"Memang tarifnya tidak flat dan akan bertambah seiring dengan jam, tarifnya sama seperti di IRTI Monas. Yang paling penting, warga yang menggunakan moda bus TransJakarta merasa aman me-markirkan mobilnya," cetusnya.

Penggunaan park and ride di Terminal Kalideres dapat digunakan secara efektif pada November 2007. Selain di Terminal Kalideres, sistem serupa juga akan dibuat di Terminal Ragunan dan Kampung Rambutan, yang diharapkan selesai pada akhir 2007. Sementara untuk 2008 direncanakan akan dibangun fasilitas itu di Terminal Rawa Buaya dan Terminal Lebak Bulus.

"Dengan adanya fasilitas tersebut, bila selama ini pengguna TransJakarta baru sebatas pada warga yang menggunakan kendaraan umum, kini mereka yang memiliki kendaraan pribadi pun akan kita dorong untuk berpindah menggunakan TransJakarta," katanya tegas.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta sendiri mengharapkan seluruh terminal dan lokasi-lokasi strategis lainnya dapat memiliki fasilitas park and ride untuk tahun-tahun mendatang sebagai upaya untuk mendorong penggunaan transportasi umum sebagai upaya mengatasi masalah kemacetan lalu lintas akibat penggunaan kendaraan pribadi yang melebihi kapasitas jalan di Ibu Kota.

"Kita tidak memiliki target khusus berapa pengguna kendaraan pribadi yang harus berpindah ke bus TransJakarta. Kita hanya ingin mensosialisasikan adanya fasilitas ini, yang dapat mempermudah aksesibilitas warga ke TransJakarta," kata Pristono. (Ant/Dwi Putro AA)
more

Kalideres Park and Ride

Dari agenda Gubernur, hari ini jam 14:00, beliau dijadwalkan meresmikan Rest Area dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Park and Ride di Terminal Kalideres.

Meski terkesan tambal sulam, namun tetap merupakan hal yang menggembirakan. Park and Ride (P+R) sebagai fasilitas pelengkap sistem BRT akan memberi kemudahan bagi pengendara mobil pribadi. Mereka yang tinggal agak jauh dari akses busway bisa mengendarai mobil, meninggalkannya di P+R, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus.
Umumnya sudah dipraktekkan penumpang busway dengan fasilitas seadanya di beberapa tempat seperti di Ragunan, Blok M atau oleh penumpang KRL di Depok misalnya.

Sepatutnya beberapa P+R ini sudah tersedia di lingkar luar sistem busway berbarengan dengan peresmian koridor. Dengan demikian berkurangnya kendaraan pribadi di pusat kota cukup signifikan.
Seperti di Nantes, Prancis, misalnya. Ada 17 P+R untuk sebuah kota dengan populasi hanya 600ribu jiwa, busway yang hanya satu koridor saja difasilitasi 3 P+R dan dua tempat parkir biasa.
Tetapi melihat perkembangan jumlah penumpang Jakarta yang tidak sebanding dengan perkembangan kapasitas, efektifitas P+R tentu menjadi pertanyaan.

Agar lebih persuasif, biaya parkir di P+R umumnya lebih murah dibanding di pusat kota. Jika kemudian kapasitas P+R tidak lagi memadai, biasanya akan terbentuk komunitas-komunitas yang saling bergilir menggunakan satu kendaraan bersama —guna menghemat biaya dan ruang parkir.
Dari sana tercipta kebutuhan akan rest area, dimana menunggu rekan seperjalanan menjadi lebih nyaman, sekaligus sebagai tempat melengkapi kebutuhan-kebutuhan mendesak. P+R juga bisa berkembang menjadi pusat kegiatan dan informasi yang berkaitan dengan kalangan commuters.

Park and Ride memiliki potensi untuk menciptakan kultur baru bertranportasi yang berkarakter efisiensi dan gotong royong. [foto: La Tan]
more