Showing posts with label BRT. Show all posts
Showing posts with label BRT. Show all posts

18.1.08

Mengintip Busway Nantes

Saking terpesona dengan Busway Nantes dan busgandeng Mercedes Citaro-nya, saya ingin berbagi hasil jalan-jalan ke Nantes pakai google :

logo Namanya BusWay, arti harfiahnya ga jadi soal. Kita juga sering begitu, seperti Metro Mini, Gudang Garam, Kompas, banyak...
Koridornya cuma satu, Line 4, melanjutkan nomor urut koridornya trem: Line 1, 2 dan 3. (line 11 hingga 99 untuk buskota). Slogannya: busway pertama di Prancis, dari Nantes ke Vertou kurang dari 20 menit saja. Kabarnya BusWay Line 5 sedang dikaji untuk 2010.

Busway_nantes_01
11-Station Bourdonnières Panjang koridor cuma 7 kilometer, ada 15 halte. Mulai beroperasi 6 Nopember 2006 dengan 20 busgandeng BBG yang panjangnya 18 meter. Di jam sibuk headwaynya 4 menit, mengangkut 27ribu penumpang per hari.
Populasinya memang kurang dari 300ribu, kepadatan 4ribu orang setiap km persegi (di Jakarta 12ribu orang) dan 2ribu lebih mobil (indexnya 475 mobil per seribu orang).

001-infoSeperti di Jakarta, pembangunan busway juga menarik perhatian besar di seluruh Prancis, semua mengawasi. Bedanya, mereka sepakat bahwa ini pendekatan yang tepat untuk mempermudah mobilitas penduduk. Sementara di Jakarta tidak ada yang berupaya untuk menyamakan visi antar pemangku kepentingan.

papanMaka di saat tahap pembangunan di setiap lokasinya ada papan informasi dilengkapi gambar rancangan desainnya.
Kita juga punya aturan serupa meski sederhana. Tapi seperti biasa, tidak dipatuhi dan yang berwenang juga masabodoh, apalagi masyarakat yang tidak tahu bahwa mereka berhak mengawasi dan melapor.

aesthetic-urban-furnitureKarena busgandeng Citaro berlantai rendah, maka konstruksi halte-haltenya tidak membutuhkan tangga. Ini pendekatan yang mengutamakan penumpang. Lebih manusiawi ya, dan mungkin lebih murah. Penumpang Transjakarta diharuskan berbelok-belok menapaki pelican cross, jauhnya bisa 4kali lebih panjang dibanding kalau lurus menyeberang.
Tapi haltenya jauh lebih sempit dibanding di Jakarta. Barangkali karena headwaynya cuma 4 menit, dan bisa 200 penumpang sekali angkut. Menariknya, halte dipandang sebagai urban furniture. Dan karya para perupa Prancis pun bisa dinikmati dan dipakai untuk duduk, memarkir sepeda atau hiasan. Gagasan yang genial, karya seni difungsikan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya diam di sudut ruang pamer, hanya bisa dinikmati oleh pengunjung galeri.

10-Station-MauvoisinsDi Nantes bukannya tidak ada jembatan penyebrangan. Ini desainnya. Lihat bagaimana pendekatannya: bukan manusianya diminta naik, tapi untuk mobil-mobil dibuatkan underpass. Ini lebih mahal ya daripada membuat jembatan penyeberangan orang.

nantes-google7Tapi ga papa, panorama kota jadi terpelihara, pandangan mata tidak terhalang jembatan atau jalan layang, apalagi jalan tol bertingkat. Belum lagi asap knalpot. Kualitas hidup lebih utama. Dinikmati oleh semua, bukan hanya oleh pemilik mobil.

Ini halte yang sama difoto lewat satelit. Dengan bantuan Google Earth kita bisa melihat dan belajar banyak ke seluruh dunia tanpa harus bangun dari kursi...


parking2 Terlihat di atas bahwa halte diapit oleh fasilitas parkir. Cara penyelesaiannya jauh lebih smart dibanding Jakarta: satu koridor saja dulu, tapi semua fasilitasnya dilengkapi.
Pengendara mobil memang jadi lebih suka meninggalkan mobil di Park and Ride, naik BusWay mewah, paling lama 20 menit. Daripada ke kota naik mobil, parkir mahal, lebih lambat lagi...

Denah-Nantes

Di lihat pada petanya, hanya ada tiga Park and Ride. Tapi kalau mengintip lewat Google Earth, paling sedikit ada 7. Coba tengok.
Kalau ga punya waktu, besok-besok ditampilkan di sini deh.
Semoga bermanfaat.

more

20.9.07

Brisbane Busway

Busway brings public transport flexibility

Construction of Brisbane's Boggo Road Busway's final section is well on its way to providing a dedicated connection to the Eleanor Schonell Bridge says the Queensland Premier Anna Bligh.
And an updated report on the impact of the $226 million bus way concludes it won't significantly increase air pollution for students at the nearby Dutton Park State School.

From the Park Road Busway Station, the bus way will continue in a tunnel below the former Boggo Road jail, Annerley Road and Gair Park to emerge at Dutton Park where it will connect with the Eleanor Schonell Bridge and local road network.

Bligh says the new project will save people time and money.

"People from Brisbane's south and east will be able to travel direct to the University of Queensland without going through the city,"
Bligh says.

"Other passengers will connect with train services at the Park Road busway station, including the Gold Coast line and Airtrain, which will start usin g the station from 2009.

"Still others will transfer at key stations and stops in the corridor to connect to services elsewhere on the network, including the South East, Inner Northern and Eastern busways."

A site office will shortly be established at Dutton Park in preparation for construction activities.

Minister for Transport, Trade, Employment and Industrial Relations John Mickel says
while the updated air quality report confirmed an earlier assessment a planned busway station at Park Road was designed so it could be covered if necessary.

"An independent study investigating the impact of the busway on the health of students at the school was released in February this year.," he says.
"This addendum to that report addresses issues raised during public consultation.
"It is based on models of air pollution concentration that could be attributed to the busway - and it concludes the project will not increase the existing risk in any significant way."

The original report and its addendum were prepared by Professor Lidia Morawska, a consultant to the World Health Organisation on air quality and a member of the Clean Air Society of Australia and New Zealand. Professor Michael Moore from the University of Queensland analysed the health risk posed by the busway.

Mickel says clean bus technology was contributing to this outcome.
"A full bus produces 11 times less greenhouse gas emissions per person, per kilometre, than an average car with just the driver," he says.
"More than one third of Brisbane Transport's buses now run on compressed natural gas, and we plan to gradually replace the remaining older diesel buses with compressed natural gas or alternative, cleaner-fuel buses."


The entire busway between the Princess Alexandra Hospital and the Eleanor Schonell Bridge is due for completion in mid-2009. [from Bus+Coach]
more

19.8.07

187 busgandeng Volvo untuk busway

Melihat pelaksanaan sistem BRT di luarnegeri terkadang kita jadi iri. Rancangannya tampak lebih terencana, transparan, masyarakat dilibatkan — karena ya sasarannya memang untuk masyarakat, kenyamanan masyarakat. Pelaksanaannya lebih serius dan fokus, bukan model tambal sulam seperti yang kita jalani puluhan tahun ini.

Rancangan monorel mungkin menarik bagi semua orang. Subway? Yang terbayang mahalnya biaya dan lamanya pembangunan, sehingga kemacetan akan terus ada hingga tahun 2020, 2050, 2100. Bukankah biaya untuk monorel dan subway lebih baik digunakan untuk menyempurnakan sistem busway dan ruangpublik?
Busway jelas-jelas sudah berjalan dan sejenak kita pernah alami masa nyamannya transportasi publik di Jakarta. Sebaiknya diinvestasikan untuk hal-hal yang mendukung busway. Membeli bus yang lebih nyaman, jumlah bus yang pantas, insentif agar tercapai masa tunggu sependek mungkin, fasilitas Park and Ride yang memadai, ruang-ruang publik yang mendorong orang untuk meninggalkan mobilnya, kampanye, public exposition, dll. Satu urusan bisa jadi akan selesai tuntas dalam setahun ke depan.

Apakah suara para master transportasi publik kita kalah oleh suara pengusaha dan politikus? Sebaiknya masyarakat dilibatkan. Minta bantuan dari publik. Terkadang orang meremehkan publik yang dalam gambaran besarnya bagai kurang terdidik —karena kurangnya sosialisasi. Padahal banyak sekali Phd. Dr. DR. dan lainnya dengan keahliannya masing-masing yang bersedia menyumbang pemikirannya, demi kepentingan bersama...

187 busgandeng Volvo ini bukan untuk Jakarta, tapi untuk Santiago de Cali, Kolumbia (beda dengan Santiago di Chili). Dipesan pada Mei 2007 lalu. Luas kotanya sekitar 5juta km2 (Jakarta lebih dari 6,5juta km2), populasi hanya duajuta lebih jiwa.
Sistem transportasinya dinamakan Masivo Integrado de Occidente (MIO) yang dirancang 2004 dan mulai dibangun April 2006. Anggarannya 308juta dollar untuk: 49km busway (dari 78km jalan utama dan 116km jalan sekunder); 5 terminal utama, 4 terminal 77 stasiun; 655 halte; 31 jembatan penyeberangan; dll.
Koridor utama (troncale) dirancang khusus untuk busgandeng dengan kapasitas 60ribu penumpang per hari. Satu-satunya koridor dengan jalur khusus (busway). Ditopang dengan koridor-koridor Pretroncale dan Complementario tanpa busway.
Pengembangan MIO ini juga dibarengi dengan kampanye kultur bertansportasi, karena banyak hal baru yang perlu dipahami betul oleh masyarakat. Ini sebetulnya kelalaian yang sudah kita alami sendiri. Denah busway Jakarta saja —yang paling utama— baru diedarkan setelah tiga tahun berjalan (dan bukan oleh Pemda), apalagi hal-hal lain seperti tertib antri, akses penyandang cacat dsb.

Seharusnya ada gambaran konkrit, Jakarta yang seperti apa yang ingin dikembangkan. Disosialisasikan agar dipahami publik. Disiplin mulai ditegakkan. Hilangkan segala bentuk toleransi untuk suatu kesalahan. Gandeng masyarakat untuk ikut mengawal agar sasarannya tercapai.
Jika semuanya transparan, publik tentu memilih yang baik untuk publik secara utuh. Bukan untuk kepentingan segelintir pengusaha atau politik.
more

30.7.07

Referendum untuk 2015

Setujukah anda (YA atau TIDAK) dengan tujuan untuk membangun kota berkualitas lingkungan berkelanjutan; udara lebih bersih, kemacetan jauh berkurang, dan kualitas hidup yang lebih baik : mulai 1 Januari 2015 — diterapkan larangan menggunakan semua jenis kendaraan pribadi pada hari kerja, antara jam 06:00-09:00 dan 16:30-18:30.

Terkecuali: Kendaraan umum, kendaraan untuk penyandang cacat, ambulan, pemadam kebakaran, bus sekolah, bus pegawai, patroli lalulintas, mobil derek, iring-iringan presiden, kendaraan polisi dan militer, mobil diplomatik, iring-iringan jenazah.

YA | TIDAK | ABSTAIN

Referendum ini bukan untuk warga Jakarta lho. Tapi untuk warga Bogota pada Oktober 2000, sebelum TransMilenio diluncurkan sebulan kemudian. Dari 1,5 juta kertas suara, 520ribu menyatakan setuju, 340ribu menolak. Sisanya abstain atau tidak dicoblos.

Inilah perbedaan mendasar antara TransMilenio dengan TransJakarta/TransBatavia.
Bogota melaksanakannya berdasarkan kesepakatan warga, dan dalam kerangka jangka 15 tahun ke depan yang sudah disosialisasikan.
TransMilenio adalah bagian dari rancangan Pico y Placa 2015 di atas. Ia juga bagian dari program pengembangan kota yang berazaskan: Mengutamakan si Miskin, Ruang Publik, dan Transportasi, yang memang jauh lebih demokratis.

Saat pergantian walikota pada 1998, ada terkumpul 7 juta dollar pendapatan pajak. Para ahli dari Jepang mengusulkan membangun underpass dan fly over dalam sesi konsultasi mengatasi kemacetan. Namun sang walikota justru terinspirasi menggunakan dana itu untuk program yang mengutamakan warga miskin. Bagaimana sepak terjang yang mengutamakan si miskin bisa dibaca di sini.
more

17.7.07

Bus Rapid Transit Planning Guide

Ada referensi penting untuk mereka yang berkecimpung di bidang transit: Bus Rapid Transit Planning Guide namanya.
Buku yang mencakup permasalahan desain BRT dan operasionalnya ini terdiri dari enam bab: project preparation, operational design, physical design, integration, business plan, serta evaluation and implementation.
Sementara ini masih dalam bahasa Inggris, versi bahasa Indonesia dan bahasa lainnya sedang dalam penyelesaian.

Dokumen ini merupakan hasil kerja keras selama lima tahun, para kontributornya adalah para ahli transportasi dari berbagai belahan dunia. Ada sekitar 800-an halaman, termasuk di dalamnya foto-foto dan diagram.
Dokumen yang sangat berharga ini bisa diunduh secara cuma-cuma di Institute for Transportation and Development Policy
more

16.7.07

Bus gandeng bulan Agustus


Ini bukan bus gandeng TransJakarta, melainkan bus gandeng di Kanton, Cina.
Menurut Nurrachman, Kepala Dinas Perhubungan, bus gandeng akan mulai dioperasikan bulan Agustus nanti di koridor V, Ancol-Kampung Melayu. Setelah itu akan diterapkan di koridor I, Blok M-Kota. Kapasitas: 160-170 duduk, 40 berdiri.

Dikatakan bus-bus itu kini sedang menunggu Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dari Polda Metro Jaya.

Sepintar-pintarnya warga Jakarta, tetap perlu sedikit panduan untuk segala hal yang baru. Fotonya saja sulit didapat. Perlukah merekrut Public Relation Officer yang handal?


Yang ini adalah busgandeng yang beroperasi di Prancis. Produk Mercedes Benz model Citaro G, berbahan bakar gas dengan mesin Mercedes-Benz M 447 hLAG.

Bus-Way adalah sistem BRT di Nantes, Prancis, hanya satu koridor —koridor 4— dan 20 bus Citaro, mulai beroperasi sejak Nopember 2006. Koridor 4 panjangnya 8 kilometer dengan 15 halte, dari Nantes ke Porte de Vertou. Setiap harinya digunakan oleh sekitar 25.000 penumpang.

Busgandeng Citaro sepanjang 18 meter ini dicat iridium silver bergaris hitam dan kuning. Profilnya terinspirasi bentuk trem, panel di sisinya melewati atap untuk menutupi tanki gas. Di dalam ada enam kamera memantau pintu masuk, pintu keluar, area kursi roda dan interior secara keseluruhan. Juga ada empat denah rute Bus-Way, monitor 15 inci dan LED panel untuk iklan dan berita.
Ruang pramudi dan pintunya terisolasi dari area penumpang. Penumpang yang tidak memperoleh tempat duduk tidak akan bergelayutan, melainkan berpegang pada tiang-tiang yang ada di sandaran kursi.

Bus-Way Citaro bermesin Mercedes-Benz M 447 hLAG, dengan output 240 kW (326 tenaga kuda). Bahan bakarnya compressed natural gas (CNG), disimpan dalam tekanan 200 bar di delapan tanki yang terletak di atap, kapasitas 1.520 liter – cukup untuk sepanjang hari. Persneling otomatis dengan enam kecepatan.
more

7.7.07

Busway di Curitiba


Untuk mengajak orang keluar dari mobil dan menggunakan bus, anda harus memberi mereka alternatif yang lebih baik. Artinya: kepercayaan, kecepatan, kenyamanan, dan keyakinan bahwa jika ia masuk ke bus setiap hari, hujan atau panas, bus itu akan membawanya ke tujuan dalam jangka waktu yang sama setiap harinya.[Zev Yaroslavsky, anggota perancang sistem BRT Los Angeles]

Sistem transportasi bus di kota Curitiba, Brazil merupakan model dasar yang menjadi acuan berbagai sistem transportasi besar di dunia. Diantaranya TransMilenio, di Bogota, Kolumbia yang disebut-sebut sebagai sistem BRT terbesar dan paling efisien di dunia, tempat TransJakarta berguru.

Evolusi sistem BRT Curitiba diawali sejak 35 tahun lalu, dengan sasaran mendapatkan sistem public transitnya yang cepat, efisien dan terjangkau. Ketika proposal pembangunan subway (kereta bawah tanah) diajukan, biaya yang mencapai Rp 900 milyar per kilometer mendorong mereka mencari alternatif lain. Usulan membangun "subway di atas permukaan tanah" akhirnya disepakati. Biaya per kilometer maksimal hanya Rp. 200 juta.

Sistem BRT Curitiba kini berkembang mencapai 80 kilometer menggunakan busgandeng ganda (bi-articulated bus) yang ekstra panjang, berkapasitas 270 penumpang, dengan headways (interval antar dua bus, waktu tunggu) dua menit. Total biaya mencapai Rp. 450 milyar, separuh dari biaya 1 kilomenter subway.

Kecepatan keluar-masuk penumpang diatur dengan penjualan tiket di halte. Desain halte Curitiba berbentuk silinder transparan, dilengkapi perlindungan atas perubahan cuaca, lift untuk kursi roda, pintu dibuka otomatis menggulung ke atas. Jarak antar halte minimal setengah kilometer. Pintu bus lebih lebar dari biasanya, saat terbuka ada lantai tambahan yang keluar menempel ke halte. Bus hanya berhenti sekitar 15-20 detik. Harga tiket sekitar Rp. 3.600 (40 sen dollar) tanpa ada batasan transfer antar koridor di halte transit.


Tulang punggung busway di Curitiba dipencar dalam lima arteri. Sistemnya didesain untuk mengakomodir karakteristik urban yang telah terbentuk. Jalan raya di samping setiap busway diperuntukkan untuk lalulintas biasa, dengan kecepatan rendah. Paralel dengan busway, terpisah satu blok, disediakan jalan satu arah sebagai jalur cepat kendaraan pribadi.

Zona kota ditata ulang. Bangunan pencakar langit untuk perkantoran dan perumahan ditetapkan berada di sepanjang lima koridor itu. Ini berhasil mendorong pertumbuhan kota yang tidak bertumpuk di pusat. Untuk bangunan medium, berlantai 4 hingga 6, boleh dibangun di zona yang terpisah 3 hingga 4 blok jauhnya dari koridor-koridor busway. Lebih jauh dari itu, hanya boleh dibangun perumahan biasa hingga berlantai tiga.

Secara umum sistemnya berjalan lancar sesuai rencana: transit dan density penumpang beriring bersama, terpusatkan dan menghubungkan ribuan perumahan dan tempat kerja, satu sama lain saling menunjang secara efisien. Sekitar 70% dari 2 juta penduduknya menggunakan BRT, sehingga kemacetan lalulintas dan polusi udara sangat rendah.


Backbone koridor busway ini dihubungkan dengan jaringan bus lain, tiketnya dibeli di atas bus, seperti: Alimentadoras bus kota biasa berwarna kuning sebagai feeder dari terminal ke BRT. Troncias, minibus berwarna putih, beroperasi di perumahan-perumahan di pusat kota. Ligeirinhos, bus ekspres berwarna abu, penghubung antar tempat-tempat yang memiliki konsentrasi penumpang tinggi, hanya berhenti di halte tertentu. Linha Turismo, bus berwarnawarni yang setiap 2 setengah jam berkeliling ke 25 tempat kunjungan wisata seperti museum, taman, pusat-pusat urban dan rekreasi. Selain itu, ada juga bus khusus yang menghubungkan antar rumahsakit, bus khusus untuk pelajar penyandang cacat, dan bus antarkota.

Kini setiap orang bisa menuju kemana saja di Curitiba dalam waktu yang singkat. Bagi golongan menengah-ke-atas cukup nyaman, bagi golongan kurang mampu —di Curitiba cukup banyak pendatang dari desa-desa sekitar yang kurang berkembang— sangat berarti untuk mengakses pekerjaan dan menjalani kehidupan sehari-harinya.[sumber urbanhabitat.org, www.reason.org, www.lightrailnow.org Foto:wikipedia]
more

Bus Rapid Transit


Bus Rapid Transit (BRT) merupakan istilah untuk sistem transportasi menggunakan bus dengan layanan yang lebih tinggi kualitasnya dibanding buskota umumnya.
Istilah rapid transit awalnya digunakan untuk sistem transportasi menggunakan rel berkapasitas penumpang tinggi, dengan jalur tersendiri: railway.
BRT merupakan upaya menggabung kelebihan sistem metro (subway, yang memiliki jalur eksklusif, ketepatan waktu dan frekuensi) dengan kelebihan sistem buskota (biaya pembangunan dan pemeliharaan yang rendah, tidak harus memiliki jalur eksklusif di sepanjang rutenya)

Ada berbagai macam sistem BRT di dunia, karakteristik utamanya antara lain :
- memiliki jalur sendiri, busway.
- menggunakan kendaraan dengan karakteristik seperti trem. Teknologi terakhir bahkan mengembangkan bi-articulated bus, atau busgandeng ganda, dan guided bus atau bus yang dijalankan dengan panduan komputer.
- penjualan tiket di luar bus

Ada yang menganggap biaya pembangunan sistem ini lebih baik digunakan untuk membangun sitem dengan LRT (light rail transit atau trem) yang memberi kecepatan lebih tinggi, headway lebih singkat, kapasitas lebih banyak dan kemampuan untuk digabung dengan sistem rel kereta api.
Ada juga yang menganjurkan penggunaan trolley-bus, bus dengan energi listrik, karena emisi gas dan noise-nya sangat rendah.

Namun sistem BRT di Los Angeles, Amerika Serikat, ternyata berhasil mengungguli kecepatan dan reliabilitas kereta. Mungkin karena BRT di sini termasuk bagian integral dari sistem transportasi rel Los Angeles.

Lain lagi dengan Vancouver, Kanada. Sistem BRTnya berhasil mengurangi emisi kendaraan. Reliabilitas sistem dan kepuasan pengguna juga terus menanjak. Karena kapasitas semakin tinggi, dan sudah melampaui efisiensinya, maka pada 2009 nanti jalur 98 B-line (rute ke bandara internasional Vancouver sepanjang 16 km, per hari 18.000 penumpang), akan diganti dengan sitem rel, The Canada Line. Sekaligus untuk mengantisipasi kebutuhan Olimpiade Musim Dingin 2010 [Foto: BRT di Milano, Italia)
more

7.6.07

Jakarta operasikan waterway

JAKARTA - Impian warga ibu kota untuk mendapatkan layanan transportasi air menjadi kenyataan. Ini setelah dua kapal penumpang secara resmi melayani masyarakat dari Dermaga Halimun hingga Dermaga Dukuh Atas sepanjang 1,7 kilometer kemarin. [foto: detikfoto]

Gubernur DKI Sutiyoso menyatakan, angkutan air tersebut dapat dijadikan alternatif transportasi umum di Jakarta. Hanya saja, untuk jangka waktu hingga dua tahun mendatang masih difokuskan untuk keperluan pariwisata.

Peresmian ini sekaligus menjawab keraguan masyarakat atas keseriusan Pemprov DKI Jakarta membenahi wilayah sungai dan dijadikan sebagai salah satu alternatif angkutan umum.

Menurut pria kelahiran Semarang itu, pembangunan waterway merupakan bagian dari skenario besar penataan sistem transportasi di wilayahnya yang dikenal dengan Pola Transportasi Makro (PTM). Penataan transportasi ini meliputi pembangunan Bus Rapid Transportation (busway), Light Rapid Transit, Mass Rapid Transportation (Monorel) serta waterway (angkutan sungai).

"Ini merupakan cikal bakal hadirnya transportasi makro di Jakarta setelah adanya busway, waterway, dan menyusul monorel," katanya.

[waterway di Jerman: jembatan air - sebuah terobosan teknologi | foto: nonprophet]

Lebih lanjut Sutiyoso menambahkan, peresmian waterway merupakan cikal bakal hadirnya moda transportasi yang terintegrasi. Rencananya, ke depan transportasi ini akan menghubungkan beberapa wilayah yang sebelumnya tak terlayani angkutan umum lain. Misalnya, kawasan Halimun, Stasiun KA Dukuh Atas, tepian Jalan KH Mas Mansyur, dan berakhir di pintu Karet, tanah Abang Jakarta Pusat.

Untuk mengatasi hal tersebut, dibuka jalur waterway dengan rute Halimun-Karet sepanjang 1,7 kilometer dari rencana awal sepanjang 3,6 km dari Manggarai-Karet.

Sutiyoso juga menyinggung kebiasaan warga Jakarta yang membuang sampah di sungai. Akibat kurang sadarnya masyarakat dengan kondisi tersebut, pemerintah harus merogoh dana APBD Rp 30 miliar untuk menangani masalah sampah saja.

"Mestinya Anda menanyakan pada gubernur baru nantinya berapa besar dana yang disiapkan untuk penanganan sampah," ucapnya kepada wartawan kemarin.

Pada bagian lain, pembenahan transportasi air sebetulnya belum berjalan sempurna. Pasalnya, longsor sepanjang 500 meter yang terjadi di sepanjang kawasan Sungai Ciliwung di kawasan Jalan Sultan Agung masih terlihat belum banyak mendapat sentuhan.

Begitu juga dengan kondisi dinding pembatas sungai yang ada di sepanjang kawasan Halimun, Jakarta Pusat. Dinding pembatas yang banyak retak dan berlubang tidak mendapat pembenahan dari petugas.

Sedangkan pembongkaran jembatan dan saluran air yang menghadang di kawasan itu juga belum banyak mendapat alternatif. Apakah itu akan dibongkar atau ada alternatif pembuatan jalur baru. Hingga kemarin, saluran yang menghadang tersebut masih tampak melingkar di atas sungai. Begitu juga dengan jembatan yang ada. Tidak ada perubahan yang cukup signifikan. Semuanya masih tetap seperti hari biasanya.

Menurut Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Sutanto Soehodho, masalah utama yag dihadapi waterway Jakarta adalah menumpuknya sampah. Ribuan kubik sampah mengalir setiap harinya dari hulu hingga hilir.

Sehingga, tak heran, di sepanjang Sungai Ciliwung tersebut, sampah masih tampak mendominasi. Namun, kata dia, kondisi sampah di atas aliran sungai tersebut bukan alasan bagi pemda untuk tidak bisa berbuat. Apalagi, hingga menunda proses angkutan air menjadi angkutan alternatif yang menjadi kebutuhan mendesak tersebut. "Tidak perlu bertahun-tahun. Jika serius, tiga bulan saja sudah cukup," ungkapnya. (anz/aak) indopos
more

1.1.07

Busway - unofficial blog

Warga Jakarta dan para pengunjungnya,

Busway hadir sejak Januari 2004, harapan untuk memiliki transportasi yang nyaman dan cepat akhirnya mulai terwujud. Blog ini lahir berkat kenyamanan yang dijanjikan hanya berlangsung sesaat.
Tigatahun lebih, bagaikan tetap di posisi awal, bahkan mundur jika melihat layanannya. Faktor penyebabnya banyak dan kompleks, dari tidak adanya sosialisasi, uji coba sistem, hingga perekrutan tenaga-tenaga ahli transportasi urban.
Kita memang harus menjalaninya dengan trial and error, karena tidak ada acuan yang tepat untuk diterapkan di Jakarta.
Blog ini adalah upaya untuk merekam perkembangannya, mengumpulkan data dan tawaran solusi untuk terciptanya sistem dan kultur bertransportasi yang lebih baik dari sekarang...
Anda bisa berpartisipasi menyumbang pemikiran yang berkaitan dengan transportasi Jakarta dengan mendaftarkan email anda. more

1.4.05

Tak Rekomendasi Monorel dan Subway

TEMPO Interaktif, Jakarta:Anggota dewan transportasi kota (DTK) Andi Rahmah menilai, pembangunan subway dan monorel di Jakarta tidak akan seefektif busway. Karena, biaya investasi dan operasional keduanya memakan dana yang sangat besar. "Biaya investasi monorel mencapai US$ 650 juta. Padahal, panjangnya hanya sekitar 27,8 kilometer, "kata Rahmah usai bertemu gubernur DKI Jakarta di Balaikota Jakarta, Jum\'at (1/4).

Sedangkan proyek koridor I busway Blok M-Kota sepanjang 12,9 kilometer hanya menyerap biaya sekitar Rp 240 miliar atau tidak lebih dari US$ 20 juta. Andi juga mempertanyakan alasan monorel yang bisa mengurangi kemacetan. Menurutnya, orang yang berkendaraan pribadi belum tentu mau naik monorel jika jarak yang mereka tempuh sangat pendek, dan itu tidak akan mengurangi kemacetan.

Tarif yang mahal mengakibatkan masyarakat ekonomi lemah enggan berpindah dari angkutan umum. "Ketika jumlah penumpang tidak terpenuhi, maka ditutup dengan subsidi,"katanya. Seharusnya, subsidi diberikan untuk masyarakat dalam bentuk pendidikan dan kesehatan. "Masa uang itu dikasih ke pengusaha. tidak fair kan,"katanya.

Subway juga dinilai memerlukan biaya yang sangat besar. Contoh, di Bogota, Colombia, pembangunan satu kilometer subway menelan biaya yang setara dengan 35 kilometer busway. "Di Indonesia lebih panjang lagi," kata Rahmah.

Untuk menyelesaikan problematika pola transportasi makro di Jakarta, Andi Rahmah mengusulkan agar dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) membuat peraturan daerah (perda) tentang pola transportasi makro. Tujuannya, agar pergantian gubernur tidak mempengaruhi kebijakan transportasi yang ada. Jika gubernur ganti, "Kebijakan yang sudah ada tidak diteruskan. Itu bahaya, "katanya.

Bentuk Perda ini, mirip dengan Perda tentang rencana tata ruang wilayah. Alasannya, pada perda tentang transportasi yang telah ada saat ini, pengaturan tentang pola transportasi makro sangat kecil. "Itu hanya satu baris. Enggak jelas,"kata Rahmah.

Ewo Raswa
more

11.1.04

Senja yang Indah di Bogota

Majalah Tempo Edisi. 45/XXXII/05 - 11 Januari 2004

Penerapan busway di Bogota cukup berhasil karena dipadu dengan penataan kota yang matang. Inilah hasil lawatan TEMPO ke sana.

CUACA di Kota Bogota selalu sulit ditebak. Hujan bisa turun kapan saja karena setiap hari awan lalu-lalang di langit. Bertengger di ketinggian 2.764 meter di atas permukaan laut, ibu kota Negara Kolombia ini terbilang murah hujan. Musim panas dan musim dingin hanya bisa dibedakan dari suhu udaranya. Pada musim panas, udaranya sedikit lebih hangat, tapi hujan tetap saja bisa tercurah setiap saat.

Seperti sore itu. Gerimis tiba-tiba turun lagi setelah matahari sempat menyebarkan sinarnya beberapa lama. Genangan air hujan di Avenida Caracas (jalan utama Bogota) yang belum mengering diguyur lagi air. Dengan mengenakan jas hujan dan payung, orang yang berlalu-lalang buru-buru memenuhi trotoar di sepanjang jalan teramai dan tersibuk itu. Jalan ini membelah Bogota dari pusat perkantoran Gonzalo Jimenez de Quesada dan kota tua El Centro-La Candelaria di sebelah selatan hingga permukiman elite La Calleza di utara.

Keheranan segera menyergap TEMPO yang mengunjungi kota tersebut belum lama ini. Genangan air hujan dan kerumunan orang di trotoar itu sama sekali tidak membuat lalu lintas macet seperti yang biasa terjadi di Jakarta. Kesibukan hanya terlihat di sisi tengah ruas jalan. Di sana hilir-mudik bus-bus berwarna merah yang amat nyaman ditumpangi. Orang Bogota menyebutnya transmilenio. Bus-bus inilah yang menjadi tulang punggung transportasi massal di kota itu.

Warga Bogota telah melupakan kemacetan lalu lintas yang pernah membekap kota berpenduduk 7 juta jiwa ini. Dulu Jalan Avenida Caracas termasuk yang paling parah menderita kemacetan. Sekarang? Lalu lintas di sana sungguh lancar karena tidak terlalu banyak kendaraan pribadi yang berlalu-lalang. Warga kini lebih suka naik bus. Lihatlah ketika lampu merah di persimpangan Avenida Caracas-Calle 76 menyala. Orang yang berkerumunan segera berpindah ke halte bus di tengah ruas jalan. Di dalam halte yang lapang membujur sepanjang 50 meter itu, mereka cukup membayar 1.000 peso (sekitar Rp 2.900 ) untuk karcis segala jurusan. Setelah mendapat karcis token itu (karcis plastik bermagnet), mereka menunggu tak sampai lima menit. Empat pintu kaca halte dan bus lalu terbuka otomatis.

Tertib mereka masuk ke dalam bus. Pada suatu saat, TEMPO melihat para penumpang memberikan kesempatan kepada pengguna kursi roda masuk dengan mandiri. Maklum, pintu hanya terbuka satu menit pas. Di dalam bus sudah tersedia dua tempat khusus kursi roda. Ada juga kursi khusus wanita hamil dan orang tua. Dalam transmilenio yang terdiri atas dua gerbong bus, tersedia lebih banyak tempat untuk berdiri ketimbang tempat duduk. Setelah pintu tertutup lagi, meluncurlah bus itu dengan lancar.

Mereka yang kebanyakan berdasi kini lebih suka meninggalkan mobil pribadinya di garasi rumah. "Dengan bus ini, saya hanya membutuhkan waktu tak sampai 20 menit sampai di rumah setiap hari," ujar Pedro Antonana Abalos, seorang eksekutif bank di kawasan Gonzale Jimenez, dengan bahasa Inggris yang fasih. Di Bogota, yang penduduknya berbahasa ibu Spanyol, amat jarang ditemukan orang yang bisa berbahasa Inggris, kecuali di kalangan elite.

Simpel, murah, dan yang pasti cepat, itulah alasan orang memilih transmilenio. Sistem transportasi ini bisa mengurangi kemacetan lalu lintas hingga 40 persen pada jam sibuk. Saat ini, dengan 470 bus, bisa dilayani sekitar 700 ribu penumpang setiap harinya. Pelayanan ini semakin baik karena pemerintah Kota Bogota berhasil menyelesaikan beberapa koridor busway ke arah Avenida Americana. Rencananya, hingga tahun 2015, jalur ini akan terus diperpanjang sehingga dapat menggapai 85 persen warga Bogota.

Kisah sukses penerapan transmilenio segera saja menyebar ke seantero dunia. Beberapa negara berupaya mengadopsinya, termasuk Jakarta. Tapi, harap diingat, transmilenio di Bogota bukanlah kisah Bandung Bondowoso yang berhasil membangun 1.000 candi dalam semalam. Bogota mempersiapkan sistem angkutan massal itu sejak sembilan tahun lalu. Juga penting dicatat, keberhasilan sistem busway di sana hanyalah bagian dari berhasilnya pembenahan tata kota secara menyeluruh.

Dua Wali Kota Bogota yang amat gigih merencanakan dan kemudian melaksanakan transmilenio adalah Antanas Mockus Civicas dan Enrique Penalosa. Mereka secara bergiliran memerintah Bogota sejak 1995 dan dengan konsisten membenahi tata kota Bogota. Keduanya, yang berlatar belakang akademis dan hampir tak punya pengalaman politik, bersikeras menjadikan Bogota sebagai kota yang humanistis. "Kota layaknya jalinan sosial yang padat, tempat semua fasilitas seperti ruang publik, seni budaya, dan pendidikan harus dibangun untuk seluruh warga," ujar Antanas Mockus Civicas. Dia dikenal sebagai profesor matematika dan filsafat sebelum tampil sebagai wali kota.

Selama masa pemerintahannya (1995-1997), Civicas memfokuskan diri buat mendidik warga Bogota agar merasa memiliki kotanya dan bersama-sama mengelola kotanya. Dia mulai membenahi fasilitas publik. Di antaranya mengubah kawasan kumuh di sudut kota menjadi taman kota. Jalan-jalan raya dan pedestrian diperlebar. Lalu sang Wali Kota mulai memikirkan sistem transportasi massal yang cocok untuk Bogota. Menurut catatan Kedutaan Besar RI di Bogota, saat itu ia merancang sistem subway (kereta bawah tanah). Tapi, karena biayanya sangat mahal, ia akhirnya memutuskan memperlebar jalan-jalan utama dan memperbaiki trotoar sebagai langkah awal penerapan busway.

Pada 1997, Wali Kota Penalosa, seorang akademisi ekonomi, meneruskan semua kebijakan dan konsep tata kota yang dirintis Mockus Civicas. Penalosa melakukan pembenahan besar-besaran. Dia memperbanyak taman hingga mencapai 1.200-an buah. Beberapa jalan raya bahkan diubahnya menjadi plaza untuk pejalan kaki. Kini beberapa tempat yang dibangunnya, antara lain kawasan bernama Zona Rosa, menjadi tempat nongkrong yang paling mentereng di Bogota. "Sementara orang kaya dapat bersantai di country club, kalangan bawah bisa menikmati hari liburnya di taman-taman kota," kata Penalosa dalam sebuah seminar tata kota negara dunia ketiga di Bogota yang dihadiri lebih dari 30 negara pada tahun lalu.

Saat Penalosa memerintah Bogota, konsep busway benar-benar digodok matang. Dia sungguh risau terhadap kemacetan lalu lintas yang terjadi di berbagai ruas jalan dan menyebabkan polusi udara yang luar biasa. Di Jalan Avenida Caracas, misalnya, dibutuhkan waktu sampai satu jam untuk bergerak dan melewati beberapa blok. Ini amat menyiksa warga. "Tidak adil rasanya jika kendaraan menjajah hampir semua ruang jalan. Waktu warga yang dihabiskan di jalanan juga mengurangi produktivitas mereka," ujarnya suatu saat di depan pejabat Bank Dunia.

Sang Wali Kota lalu melirik sistem busway yang telah diterapkan di beberapa negara Amerika Latin lainnya. Dia menilai sistem ini lebih murah dibandingkan dengan jenis transportasi massal lainnya. Hanya, Penalosa tak menjiplak begitu saja. Ia juga mengantisipasi jika suatu saat sistem busway mesti dikombinasikan dengan sistem subway. Ide dasarnya adalah bagaimana memindahkan orang yang duduk di dalam kendaraan pribadi dalam kemacetan ke sistem transportasi massal.

Bukan cuma demi mengurangi kemacetan, konsep busway yang belakangan diberi nama transmilenio itu dirancang buat memudahkan setiap warga bepergian. Itu sebabnya bus transmilenio dilengkapi dengan fasilitas yang memudahkan anak-anak, orang cacat, wanita hamil, dan orang lanjut usia masuk ke dalamnya.

Agar diterima warganya, terutama yang sebelumnya biasa naik mobil pribadi, Penalosa melakukan kampanye besar-besaran. Dia bahkan menyisihkan 30 persen anggaran belanja kotanya hanya untuk mendidik masyarakat agar memahami busway. Ahli ekonomi ini juga gencar mendatangkan sukarelawan ke sekolah-sekolah dengan harapan anak-anak bercerita kepada orang tua di rumah. Di perempatan jalan, dia menaruh artis-artis pantomim untuk berkampanye kepada para pengemudi. Dia juga mulai menyebarkan poster busway.

Untuk mengurangi mobil pribadi yang berlalu-lalang, Penalosa memberlakukan kebijakan pico y placa (pembatasan kendaraan pada jam sibuk). Selama dua hari dalam seminggu, pemilik kendaraan pribadi tidak bisa ke luar rumah pada jam-jam sibuk. Misalnya, kendaraan berpelat nomor buntut 1 hingga 4 tidak boleh keluar dari garasi pada hari Senin dan Kamis. Cara ini ternyata cukup efektif, bisa mengurangi kepadatan lalu lintas pada jam sibuk.

Kebijakan itu semula tidak diterima begitu saja oleh sebagian besar warga. Penalosa kerap dihujani kritik karena menghapus jalan sebagai pedestrian dan mengurangi hak pengguna mobil pribadi. Tapi lama-lama warga mulai memahami tujuan dari semua kebijakannya.

Ketika warga mulai siap menerima angkutan massal, sang Wali Kota menyiapkan infrastruktur busway dengan dana US$ 350 juta. Pada tahap awal, dia hanya membangun 48 kilometer jalur transmilenio, melintang sepanjang jalan utama Avenida Caracas, Autopista Medellin, dan Carrera 30. Jembatan penyeberangan pun didirikan dan dapat dinaiki dengan mudah bahkan oleh orang cacat karena sangat landai.

Pada setiap simpul jalur busway, terdapat terminal feeder yang terpadu dan luas. Terminal pemasok ini memudahkan orang berpindah dari bus biasa ke bus angkutan massal. Lalu sebanyak 60 halte dengan bahan baja dan kaca didirikan di sepanjang jalur busway.

Kesulitan sempat muncul karena di Jalan Avenida Caracas terdapat situs sejarah kota tua Bogota El-Centro dan bangunan-bangunan tua. Jika didirikan jembatan penyeberangan dan halte di kawasan ini, situs bersejarah tersebut akan rusak. Akhirnya Penalosa memutuskan untuk tidak merusak nilai seni dan keindahan situs ini. Dia cuma membangun halte di setiap persimpangan jalan terdekat, sehingga orang dapat dengan mudah mencapai kawasan tersebut hanya dengan menyeberang di zebra cross.

Setelah segala persiapan dilakukan, akhirnya pada tahun 2000 bus-bus transmilenio mulai dioperasikan di jalur busway. Praktis di sepanjang jalur itu tidak ada bus jenis lain yang berkeliaran. Bus-bus lain yang sebelumnya beroperasi di sana dialihkan fungsinya menjadi bus feeder, yang memasok penumpang ke bus transmilenio. Segalanya berjalan lancar karena masyarakat memahami kebijakan tersebut jauh-jauh hari.

Kendati dinilai cukup berhasil mengurangi kemacetan lalu litas, Penalosa tidak terpilih lagi menjadi wali kota pada tahun 2000 lalu. Yang tampil kembali justru Mockus Civicas, peletak dasar konsep transportasi massal di Bogota. Dilihat dari dukungan politik, ahli matematika ini memang lebih kuat.

Mendapat kesempatan kedua memerintah, Civicas segera menyempurnakan sistem transportasi di Bogota. Pada 2002, ia memberlakukan car free day. Sebagian besar jalan raya setiap hari Minggu haram bagi pengendara mobil, tapi dibuka lebar-lebar bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda.

Bogota memang dikenal sebagai kota yang memiliki jalur sepeda terpanjang di dunia, lebih dari 200 kilometer. Kebijakan hari bebas mobil membuat semakin banyak orang bersepeda yang tumpah di jalanan. Apalagi pada dasarnya warga Bogota memang senang berjalan kaki dan bersepeda.

Penataan kota yang dilakukan Penalosa dan Mockus Civicas kini telah dirasakan hasilnya. Bogota, yang sempat dijuluki sebagai kandang kriminalitas, polusi udara, dan kemacetan lalu lintas, kini menjadi kota yang sangat humanistis. Dalam kurun 1995 hingga 2002, angka kriminalitas di kota ini menurun drastis, dari 84 kasus per 1.000 orang menjadi 30 kasus per 1.000 orang. Angka kecelakaan lalu lintas pun mengecil. Pada 1995 tercatat 1.387 kasus, tapi pada 2002 telah menciut menjadi 697 kasus saja.

Saat TEMPO menjelajahi kota ini, di mana-mana terbentang fasilitas yang menghadirkan kenyamanan bagi warganya. Jalur hijau yang rimbun, pedestrian yang lapang, dan taman kota yang indah bisa ditemukan di setiap jengkal kota. Semua itu berpadu dengan apartemen dan rumah susun (dihuni kalangan kelas bawah dan kelas atas) yang berderet rapi. Di setiap simpul deretan rumah susun selalu tersedia taman yang asri.

Kondisi politik yang kurang aman di Negara Kolombia juga tak membuat warga kehilangan rasa aman. Soalnya, di setiap sudut kota selalu ada aparat yang berjaga-jaga. Di setiap pintu masuk halte busway juga selalu berdiri dua penjaga bersenapan. Mereka siap mengantisipasi serangan dan sabotase para gerilyawan, yang kerap terjadi di kota itu.

Keberhasilan Bogota dalam menata kotanya memang cukup mengagumkan. Apalagi Kolombia masih masuk kategori negara berkembang. Penduduknya berpendapatan US$ 2.900 per kapita. Tingkat penganggurannya pun cukup tinggi, sekitar 16 persen di Kota Bogota. Sebanyak 1,6 juta jiwa warganya masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Adanya transportasi massal yang efektif membuat warga tak gampang mengalami stres saat cuaca berubah atau hujan turun. Dengan langkah riang mereka bisa menuju halte bus transmilenio yang berada di setiap simpul jalan. Seperti yang terjadi di suatu sore. Seorang lekaki bernama Ricardo Alberto Cruz Moreno tampak berdiri santai di sebuah bus transmilenio. Hanya dalam beberapa menit naik bus, direktur pemasaran sebuah stasiun televisi di Bogota ini akan sampai di dekat rumahnya. "Awalnya saya sendiri meragukan sistem transportasi ini, tapi kini saya bangga dan mulai menggunakannya," ujarnya kepada TEMPO.

Dari dalam bus transmilenio, sore itu Jalan Avenida Caracas tampak semakin basah diguyur gerimis. Walau beberapa ruas jalan digenangi air, semua kendaraan mengalir lancar. Tiada polisi yang mesti berbasah kuyup mengatur lalu lintas. Udara cukup bersih karena kendaraan bermotor tidak menjajah jalanan. Ketika hari mulai meremang, lampu di halte-halte, gedung-gedung, dan juga taman mulai menyala. Dihiasi gerimis yang enggan reda, senja itu sungguh indah di Bogota.

Endah W.S. (Bogota)
more

24.2.03

Kota yang Humanis

Bogota, Tranformasi Menuju Kota yang Humanis

PENGANTAR REDAKSI

Wartawan Kompas, Agus Hermawan, 6-11 Februari 2003 mengikuti seminar internasional Human Mobility di Bogota, Kolombia. "Pelangi", sebuah lembaga penelitian di bidang pembangunan berkelanjutan di Jakarta yang bekerja sama dengan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP, New York) juga mengajaknya mempelajari penerapan sistem bus rapid transit (BRT) TransMilenio di Bogota. Laporannya di halaman ini, 34, dan 35, diharapkan menjadi semacam pelajaran bagi Jakarta yang juga dikabarkan akan menerapkan sistem busway untuk meningkatkan pelayanan angkutan umumnya.

***

ORANG-orang bersepeda di jalur yang nyaman. Sebagian lagi berjoging atau berjalan kaki di Pedestrian, di antara taman-taman yang tertata apik. Sementara di jalanan, mereka yang memilih angkutan bus umum bisa melaju dalam kenyamanan. Jalanan lebar, dengan jembatan penyeberangan yang didesain menarik, meliuk-liuk di tengah keramaian jalanan. Pedestrian, jalur sepeda nyaman dan luas memanjakan warga kota untuk bisa menikmati kotanya.

TAMAN-taman rimbun dan menghijau diperindah dengan sejumlah pasangan memadu kasih atau para pelajar tenggelam dalam bacaannya. Rumah-rumah susun dan apartemen tersebar di sejumlah kawasan yang terhubung dengan jalur transportasi.

Gambaran yang biasa tergambar dalam iklan-iklan perumahan atau kota baru di media massa Indonesia itu seperti terwujud nyata saat memasuki Bogota, sesaat menjejakkan kaki di Bandara El Dorado, Selasa (4/2) lalu.

"Jika kita bicara soal kota, kita harus bicara bagaimana seharusnya kita tinggal dan bermukim," kata Enrique Penalosa, Wali Kota Bogota (1998-2000) suatu saat. Wali Kota yang tadinya seorang akademisi bidang ekonomi, sejarah, dan administrasi publik itu akan dikenang sebagai wali kota yang berjuang keras menegakkan sebuah kota ideal. Kota yang tadinya brutal dan kacau menjadi cantik dan menyenangkan, memberantas kemiskinan dan korupsi.

"Warga dulu tidak menghargai kotanya dan mereka merasa kotanya akan semakin buruk," kenang Penalosa. Bogota sebelum era Penalosa dikenal sebagai kota dengan tingkat kriminal tinggi, pengeboman oleh para militer, penculikan, hingga peredaran narkotika.

Namun kini, penduduk Bogota sepertinya menikmati menjadi warga sebuah kota yang memenuhi kebutuhannya. Sistem angkutan umumnya, yang dikenal dengan bus rapid transit (BRT) TransMilenio praktis sudah berjalan dengan mulus dan menjadi kebanggaan mereka.

Kebanggaan warga dan pemerintah kota terhadap TransMilenio-yang sebenarnya pembangunannya baru tahap pertama-itu mengingatkan orang akan kebanggaan warga Singapura terhadap MRT (mass rapid transit) mereka. "Sistem angkutan massal kami saat ini yang terbaik di Amerika Latin, bahkan mungkin di dunia," begitu biasa para pejabat Bogota membanggakan TransMilenio.

Dengan kepemimpinan yang konsisten dan dihargai rakyatnya, Penalosa "merekonstruksi" kotanya dengan 1.200 taman, menanam 100.000 pohon, merehabilitasi sekolah, dan permukiman-permukiman serta memperbaiki lingkungan. Dia memang benar-benar memfokuskan kebijakannya pada bagaimana mendidik warga kota serta memperluas ruang publik.

"Orang-orang kaya bisa menghabiskan waktunya di countryside, pergi ke klub, atau makan di restoran. Tetapi untuk rakyat susah, mereka menghabiskan waktu senggangnya di ruang publik. Untuk alasan itulah, tingkat hidup dan ruang terbuka maupun Pedestrian diperlukan agar demokrasi benar-benar berjalan," kata Penalosa seperti dikutip sebuah media.

Namun, semua itu tidak diperoleh dengan instan dan gampangan, sebagaimana tiba-tiba saja Taman Monas dipagar atau satu lajur jalan di Jalan Sudirman-Thamrin tiba-tiba saja dicat untuk busway. Katanya, pemerintah kota bersama-sama warganya memerlukan waktu lima belas tahun lebih dengan kebijakan pembangunan kota yang konsisten.

Mereka berhasil menjadikan sebuah kota yang tadinya sangat kacau balau, menjadi sebuah kota yang layak dijadikan model bagi kota-kota lainnya di dunia. Bogota dengan penduduk 6,4 jutaan orang itu berhasil menata dirinya dengan jalur bersepeda terluas di Amerika Latin (sepanjang 270 kilometer, dari 300 kilometer yang direncanakan), Pedestrian, angkutan umum massal dengan BRT TransMilenio serta hari bebas kendaraan (car free day) yang meliputi area luas 35.000 hektar, yang terluas di dunia.

Sejak tahun 1995 sampai tahun 2000, pemerintah kota di bawah kepemimpinan Wali Kota Antonus Mockus Sivickas dan dilanjutkan penerusnya Enrique Penalosa, dan kemudian Mockus lagi, mereka benar-benar mengadakan perubahan di bidang tata ruang kota, sosial maupun ekonomi kota.

Mockus seorang akademisi matematik dan filsafat yang sama sekali tidak memiliki pengalaman politik ternyata mengelola kotanya dengan baik. Wali Kota yang dipilih oleh 64 persen dari sekitar 7 juta penduduk Bogota itu benar-benar menjalankan kampanyenya.

Dengan dana hanya 8.000 dollar AS-termurah yang pernah terjadi di Kolombia-ia sangat terkenal dengan kampanye "No P" yang meliputi: no publicity, no politics, no parti atau plata (alias duit). Kalau mikir ke Kota Jakarta memang akan sulit rasanya, mengingat kampanye seorang gubernur saja justru kebalikan dari slogan Mockus.

Pemerintahan Mockus selama dua tahun (1995-1997) memfokuskan pada perencanaan kotanya secara jelas dengan program Formar Ciudad atau "Mendidik Kota" dengan penekanan para kultur warga kota, ruang publik, lingkungan, sosial, produktivitas urban hingga legitimasi institusional.

Mockus mendefinisikan kultur warga kota sebagai "sejumlah kebiasaan, perilaku, dan tindakan serta peraturan perundangan agar warga kota merasa memiliki, harmoni di antara sesama warga, dan menghargai properti dan peninggalan kota". Fokus membentuk kultur baru warga kota semacam itu menjadi tujuan utama pemerintahan Mockus. Dia melakukannya dengan sejumlah program pendidikan bagi warganya.

Tantangan dari warga Bogota bagi Mockus maupun Penalosa bukannya tidak ada. Itu terbukti dengan digantikannya dia oleh Penalosa (1998-2000), sebelum dia kembali memimpin Bogota hingga kini. Bahkan Penalosa, sempat dituding "komunis" oleh sejumlah kalangan usahawan atau orang kaya karena dianggap memaksa warga menggunakan bus dan angkutan umum.

Demikianlah, seperti disampaikan Ricardo Montezuma, Direktur Fundacion Ciudad Humana (Yayasan Kota Humanis, sebuah lembaga nonprofit di Bogota), kebijakan-kebijakan Penalosa maupun Mockus yang dilaksanakan secara konsisten tersebut menyebabkan Bogota berubah secara ruang (tata) kota, sosial, ekonomi maupun politik kota yang tadinya semrawut (chaostic) berubah wajah menjadi sebuah kota yang kini bisa dianggap sebagai kota ideal dari segi ketatakotaan dengan tingkat kriminalitas yang rendah.

Pada akhir kepemimpinan Penalosa misalnya, tingkat kejahatan anjlok hingga 50 persennya dan pembunuhan di kota yang oleh media barat dulu dikenal sangat berbahaya itu pun turun hingga 20 persen.

KEBERHASILAN Bogota seperti saat ini juga terjadi karena beruntung Penalosa yang menggantikan Mockus, jauh dari kebiasaan "ganti pejabat, ganti aturan". Penalosa, yang lagi-lagi bukan seorang politisi, melainkan seorang akademisi yang mendalami ekonomi, sejarah, dan administrasi publik, meneruskan program yang telah digariskan Mockus.

Jika Mockus memfokuskan diri bagaimana mendidik warga kota merasa memiliki kotanya dan bersama-sama mengelola kotanya, maka Penalosa melanjutkannya dengan implementasi dari kebijakan-kebijakan rencana pengembangan Kota Bogota.

Kepopuleran Mockus sebagai wali kota yang dipilih rakyat terlihat, Rabu, saat di Bogota mengadakan hari bebas kendaraan (free car day), di sebuah taman kampus Bogota. Warga kota dan mahasiswa mengelu-elukannya, dengan lambaian tangan sebagaimana seorang pemimpin yang lahir karena mereka pilih.

Mockus, juga bergabung dengan warga biasa, menyapa, dan berlaku sebagaimana warga kota lainnya, termasuk bersepeda, jauh dari kesan dibuat-buat atau protokoler sebagaimana yang sering kita lihat pada kebiasaan pejabat-pejabat di negeri ini di zaman Orde Baru, yang kini diteruskan para pejabat Orde Reformasi .

"Keterlibatan warga kota, sebagai sukarelawan mendukung semua program Kota Bogota," kata Mockus. Mungkin karena itulah pembangunan Kota Bogota untuk menjadi sebuah kota yang humanis, bisa berlangsung baik karena warga kota dan pengelola kota sama-sama merasa memiliki kotanya.

Sulit dibantah, Penalosa maupun Mockus memang berhasil menjadikan sebuah kota yang tadinya amburadul, dengan perlalulintasan yang amburadul dan acakadut secara perlahan mulai berubah wajah. Apalagi Bogota yang sepanjang tahun sejuk itu memiliki taman-taman yang luas dan terpelihara baik.

Mereka bertekad menjadikan Bogota sebagai sebuah kota yang humanis. Kota yang benar-benar dibangun untuk dinikmati dan ditinggali warganya dengan nyaman. Mockus berani menata berbagai kawasan kota yang tadinya sumpek dan semrawut dan bisa diterima warganya karena dia memang benar-benar menawarkan sebuah kawasan baru yang bisa dinikmati, tanpa merugikan warga.

Bahkan, rencana awal mau bagaimana kawasan baru itu selanjutnya kelak ditawarkan ke warga. Dan yang terpenting, tidak ada rencana bohongan atau hanya di atas kertas atau dibilang seolah-olah kawasan tertentu akan dibangun untuk kepentingan umum namun dalam kenyataannya untuk kawasan bisnis (!).

Bahkan, dalam rencana induk yang dibuat oleh Penalosa, akses jalan lebih diutamakan untuk pejalan kaki, pemakai sepeda, maupun infrastruktur yang lebih mengutamakan angkutan umum.

Sebaliknya, penggunaan angkutan pribadi lebih dipersulit dengan sejumlah ketentuan. Dengan kebijakan pico y placa (jam sibuk dan pelat nomor) mereka bermaksud mengurangi penggunaan kendaraan pribadi hingga 40 persen pada saat jam sibuk. Mereka juga memberlakukan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dengan kebijakan nomor pelat mobil.

Selama dua hari dalam sepekan kendaraan pribadi dilarang beroperasi. Mereka mengaturnya dengan cara kendaraan berpelat nomor berakhiran 1 hingga 4 dilarang untuk digunakan pada hari Senin, 5 hingga 8 pada hari Selasa; 9,0, 1 dan 2 pada hari Rabu; 3,4,5 dan 6 pada hari Kamis, serta 7,8,9 dan 0 pada hari Jumat.

Pelaksanaan car free day-yang juga disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia-dimaksudkan pemerintah kota agar warganya bisa membayangkan bahwa kota tanpa kendaraan pribadi bukanlah hal yang mustahil. Dalam voting yang diselenggarakan pemerintah kota, warga kota menginginkan acara tersebut bisa berlangsung setiap tahun.

Dalam acara serupa pada Rabu, 5 Februari lalu, kesan itu memang sangat terasa. Walaupun kendaraan yang boleh beroperasi hanya kendaraan umum dan jalanan bersih dari mobil-mobil pribadi warga kota sama sekali tidak tampak terpengaruh dan kegiatan keseharian berlangsung seperti biasa.

Apalagi, selain kebiasaan berjalan kaki (hampir 30 persen warga Bogota berjalan kaki untuk melaksanakan aktivitas kesehariannya, termasuk pulang pergi sekolah atau bekerja), kebiasaan menggunakan sepeda juga semakin membaik. Jika pada tahun 1998, pengguna sepeda hanya 1 persen saja dari seluruh pengguna moda angkutan di Bogota, maka pada tahun 2002 meningkat hingga 4 persen.

Membaiknya struktur kota dengan manajemen perlalulintasan yang konsisten yang dijalankan, juga bisa menurunkan angka kejahatan atau kriminalitas, angka kecelakaan di jalan raya dan, tentu saja, polusi udara. Angka kecelakaan di jalanan misalnya, yang pada tahun 1995 tercatat 1.387 kasus, terus menurun hingga 745 kasus (tahun 2001), dan pada tahun 2002 hanya 697 kasus.

Upaya menjadikan kota sebagai milik bersama itu karena pemerintah kota benar-benar menjalankan program untuk memacu masyarakatnya berpartisipasi atau terlibat langsung dalam pengelolaan kotanya. Untuk setiap pelaksanaan sistem bus baru, hari tanpa sepeda mereka membentuk suatu organisasi berbasis masyarakat, seperti Ciclovia Volunteers (untuk para sukarelawan program pemasyarakatan pemakaian sepeda) hingga Misson Bogota. Merekalah yang bergerak dan mendorong masyarakat lainnya untuk berpartisipasi dan mendukung setiap program pemerintah kota.

Para sukarelawan berseragam oranye-mirip dengan kader GDN (gerakan disiplin nasional) yang dulu juga marak di Jakarta dan kini enggak jelas nasibnya-memberikan panduan kepada warga kota lainnya bagaimana menggunakan TransMilenio, menggunakan Pedestrian, dan mengarahkan para pengguna sepeda agar menggunakan jalurnya. Setidaknya oleh pemerintah kota mereka dibekali dengan prinsip-prinsip bagaimana menciptakan keamanan dan harmoni kotanya, pengelolaan wilayah, ruang publik hingga memberikan berbagai informasi mengenai kotanya kepada warga lain.

WARGA kota ikut mengelola kota. Setidaknya hal tersebut menjadi pelajaran bagi pengelola kota lain, terutama Jakarta, yang sering meninggalkan warganya sehingga mereka menjadi terasing di kotanya sendiri. Pelibatan warga untuk berpartisipasi aktif memiliki dan mengelola kotanya memang dilakukan secara serius oleh Pemerintah Kota Bogota.

Secara telaten terintegrasi dengan sistem yang baik, mereka benar-benar melibatkan dan mendidik warganya secara serius untuk menjadikan kotanya lebih baik. Jauh sebelum mereka mengenalkan sistem BRT TransMilenio misalnya, upaya mendidik dan mengajak aktif partisipasi warga dilakukan dengan berbagai upaya.

"Kami sengaja mendatangkan 21 unit jenis bus yang dipergunakan di berbagai negara, dari Hungaria hingga Brasil. Semua itu untuk mendidik warga bahwa rencana menciptakan angkutan massal itu bukan hanya impian tetapi nyata," kata Dario Hidalgo, seorang manajer TransMilenio.

Bahkan, jauh sebelum sistem bus tersebut benar-benar dilaksanakan, mereka mengajak warganya untuk melek bagaimana mulai mengubah "kultur" naik bus secara modern, mulai dari bagaimana antre hingga membeli tiket yang benar.

Sejumlah sukarelawan diterjunkan hingga ke sekolah-sekolah taman kanak-kanak. Dengan alat peraga sederhana, mereka mengajarkan cara-cara baru kepada anak-anak tersebut bagaimana mulai menjalani hidup baru sebagai bagian dari warga kota modern.

Upaya mereka mengajar kepada anak-anak balita itu bukannya tanpa maksud. "Sepulang sekolah anak-anak itu akan bercerita kepada orangtuanya apa yang kami ajarkan kepada mereka. Mereka juga menjadi penyambung apa yang kami ajarkan kepadanya. Bukankah itu juga secara otomatis mendidik orangtuanya juga," kata Hidalgo.

Terbukti ketika TransMilenio digelindingkan, sistem BRT bisa berjalan dengan baik. Upaya pemerintah menyiapkan infrastruktur dibarengi dengan kesiapan warga kotanya menjalani "kehidupan baru" mewujudkan kultur baru pula bagi kehidupan warga Kota Bogota.

Setidaknya, sebagai warga Jakarta yang demikian amburadul ini, kita cuma berharap semoga para pengelola Jakarta bisa belajar dari Bogota. Mungkin, salah satu pelajaran terbaik yang bisa dipetik dari pengalaman Bogota adalah bagaimana pemerintah mengajak warga kotanya untuk mengubah kotanya.

Soal ruang publik misalnya, Wali Kota Penalosa pernah menyatakan, "Ruang publik sangat perlu untuk hidup, melakukan bisnis, memadu kasih, dan bermain. Semua itu tidak bisa hanya dihitung secara ekonomis maupun matematik tetapi harus dengan perasaan dan nurani".

Infrastruktur kota yang baik sekalipun tidak akan cukup menjadikan sebuah kota menjadi nyaman, tanpa warga kotanya merasa terlibat dan menikmati semua itu....(Agus Hermawan)
more

Kemanjaan Bersepeda

"Cyclorrutas", Kemanjaan Bersepeda

KOMPAS - BOGOTA memang tidak memiliki pantai, tetapi dia memiliki jalur sepeda". Ungkapan itu lazim dikemukakan oleh warga Bogota untuk membanggakan jalur sepeda atau apa yang mereka sebut cyclorrutas. Di kota yang dalam rencana perkotaannya akan dikembangkan sebagai kota yang humanis (ciudad humana) itu, para pengguna sepeda maupun pejalan kaki sangatlah dimanjakan.

Lajur pedestrian dan sepeda menjadi bagian penting dari akses lalu lintas, yang sepertinya malah lebih penting dengan jalan raya. Bahkan, jalur-jalur pedestrian dan sepeda itu menembus berbagai kawasan, permukiman Bogota. Bukan saja jalur-jalur sepeda yang kompak, terintegrasi dengan akses sangat luas yang ada, Pemerintah Kota Bogota pun memanjakan para pejalan kaki dan pengguna sepeda dengan berbagai regulasi.

Setiap hari Minggu misalnya, sepanjang 153 kilometer (km) jalan raya dijadikan jalur khusus sepeda atau yang oleh warga setempat dikenal sebagai Ciclovias. Jalanan sepanjang itu tertutup untuk angkutan bermotor dan hanya diperbolehkan untuk pedestrian, pesepeda atau peseluncur (skater) dengan sepatu roda atau skateboard.

Itu belum termasuk jalur khusus sepeda yang telah terbangun sepanjang 270 km (dari 374 km yang direncanakan). Jalur sepeda sepanjang itu diklaim sebagai jalur khusus sepeda terpanjang di dunia. Bandingkan dengan jalur sepeda di Paris sepanjang 195 km atau di Lima (Peru) yang hanya 43 km.

Makanya, ketika peserta seminar internasional Human Mobility diajak serta untuk ikut dalam acara bersepeda ria pada Minggu (9/2) pagi, banyak peserta tidak melewatkannya. Apalagi panitia menyiapkan sepeda dan semua perlengkapannya, termasuk helm. "Jangan ke luar dari rombongan. Kita akan bergabung dengan dua juta pesepeda lainnya dari seluruh Bogota," kata seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) Ciudad Humana Fundation (Yayasan Kota Humanis) yang memandu kami.

Mereka menyilakan kami memilih jalur 12,5 km atau 24 km yang akan menelusuri berbagai kawasan Bogota. Kebiasaan bersepeda pada hari Minggu, yang diikuti sekitar 2 juta orang warga kota itu, juga diklaim sebagai yang terbesar dalam gerakan bebas berkendaraan bermotor di dunia.

Begitulah kenyamanan tinggal di sebuah kota yang ramah, langsung menyergap ketika belum separuh jalan ditempuh dengan sepeda yang ringan terkayuh. Di jalur sepeda selebar 3 meteran maupun di jalan raya, termasuk jalan bebas hambatan, yang Minggu itu dikhususkan untuk sepeda, dipenuhi oleh keluarga, tua dan muda, warga Bogota yang bersepeda. Sejumlah lainnya mengasuh anak balitanya yang menggunakan sepatu roda atau sepeda mini.

Keceriaan rekreasi mereka seperti tidak menunjukkan bahwa dua hari sebelumnya terjadi peledakan bom di kelab mewah El Nogal, yang menewaskan 32 orang dan mencederai 160-an orang lainnya. "Kondisi normal yang kami perlihatkan ini menjadikan tindakan-tindakan teroris dan kriminal menjadi tidak efektif," kata seorang warga saat ditanya kok sepertinya ledakan bom tidak mempengaruhi mereka.

Maka dua juta warga Bogota yang diperkirakan bersepeda setiap akhir pekan itu juga menjadi warna lain kota dingin dengan suhu 6-20 derajat Celcius di ketinggian 2.640 meter di atas permukaan laut yang dilingkungi pegunungan itu. Berbeda dengan gaya bersepeda keseharian seperti yang biasa terlihat di Beijing, bahkan Yogyakarta maupun Kudus, Jawa Tengah, para pesepeda di Bogota pada hari minggu menikmati betul sebagai bagian dari rekreasi keluarga.

Warung-warung minum atau makanan ringan, bengkel sepeda sementara sepanjang jalan sepeda, yang hanya buka saat Ciclovias (hari bersepeda) berlangsung, siap menerima para pengayuh sepeda yang ingin melepas lelah. Begitu juga bengkel sepeda dadakan siap menerima reparasi ringan sepeda warga. Sepintas tenda-tenda itu mengingatkan kepada apa yang kita lihat di kawasan Parkir Timur Senayan, namun lebih tertata dan apik.

Para sukarelawan Ciclovias pun selalu sedia membantu, mengarahkan jalan serta menyetop kendaraan bermotor yang akan melintas untuk mengutamakan para pejalan kaki atau pesepeda. Para sukarelawan tersebut sebagai tim pendukung utama bagi pelaksanaan program bersepeda di hari Minggu itu.

Kemanjaan para pengguna sepeda terasa benar di Bogota. Selain jalanan yang kompak, rimbun dan menyenangkan jalur sepeda juga menembus berbagai pelosok permukiman. Sejenak terpikir proyek perbaikan kampung Mohammad Husni Thamrin (MHT) di Jakarta mengapa tidak dirancang seperti di Bogota sini? Pemerintah kota dengan udara sejuk itu benar-benar mempersiapkan infrastruktur yang sangat dibutuhkan warganya.

PEMERINTAH Kota Bogota berniat keras mengurangi polusi kotanya dan meningkatkan pengguna kendaraan non-bermotor di kotanya. Upaya ke arah itu dilakukan secara terencana dengan berbagai langkah yang jelas dan sistematis. Kampanye bahwa sepeda itu modis dan enggak ketinggalan zaman misalnya, dilakukan dengan peragaan para aktor atau aktris idola yang dalam penampilannya menggunakan atau membawa sepeda. "Kami harus meyakinkan warga kami bahwa sepeda itu juga modis," kata Ricardo Montezuma, dari Human Ciudad Fundation.

Langkah memanjakan pejalan kaki dan pesepeda itu, bukan saja dicerminkan dengan pembangunan jalan yang nyaman, yang disesuaikan dengan kondisi wilayah, namun juga berbagai fasilitas pendukungnya mulai dari toilet, bangku tempat mengaso hingga ke tempat parkir sepeda yang dibangun kompak dengan arsitektur kotanya. Bahkan, jembatan penyeberangan pun yang dibuat meliuk-liuk berseni menghias kota, walaupun panjang namun tidak melelahkan untuk dijalani atau ditempuh dengan sepeda. Arsitek dan perencana kota rupanya sudah menghitung benar apa yang dibutuhkan warganya. Berjalan kaki, bersepeda adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dinikmati.

Konon, ketika buruknya pedestrian dan tidak adanya jalur bersepeda dipertanyakan mengapa tidak terjadi di Jakarta, seorang pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI dengan enteng menjawab, "Saya tidak melihat bersepeda sebagai kebiasaan warga Jakarta. Mengapa harus repot-repot menyediakan rute sepeda".

Tidak heran, kejadian sebaliknya terjadi di Jakarta, mereka yang memiliki kendaraan pribadilah yang dimanjakan di Jakarta. Jalan tol dibangun di mana-mana dan siap dipadati kendaraan pribadi. Pedestrian atau jalan tol pun sudah lama dirampas para pengendara motor, bahkan bengkel atau bangunan salah fungsi lainnya.

Dan, ketika warga dengan sendirinya menggunakan protokol Jalan Sudirman-Jalan MH Thamrin untuk berolaraga. Apa yang dilakukan pejabat Pemprov DKI? Mereka berencana menutupnya. Sebuah ironi.(ush)
more

Subway ke busway

Senin, 24 Februari 2003

Penataan Angkutan Umum Jakarta
"Subway" ke "Busway-buswayan"

KOMPAS - DESEMBER 2002 lalu, tiba-tiba saja mereka yang biasa melewati jalur Jalan Sudirman-Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, menemui pemandangan baru. Salah satu lajur di jalur cepat jalan protokol itu tiba-tiba saja bermunculan kotak-kotak berukuran sekitar tiga meter persegi, berabur cat warna merah. Ada juga rambu lalu lintas baru dari aluminium berwarna dasar hijau dengan tulisan putih "Jalur Khusus Bus Way", jalur khusus bus.

SAMA sekali tidak ada conditioning sebelumnya apa dan bagaimana busway itu akan dilaksanakan. Apakah sama dengan jalur khusus bus di Jalan Pramuka yang selama ini atau di Jalan Sudirman-Jalan Thamrin beberapa tahun lalu? Ataukah, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menerapkan sebuah angkutan umum baru?

Wartawan yang mencari tahu ke pejabat Dinas Perhubungan DKI Jakarta akhirnya mendapat sedikit informasi pada awal Januari, Jakarta akan menerapkan sistem angkutan umum baru (busway) di jalur Blok M–Kota sepanjang 12,9 kilometer (km). Namun, pihak Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya pun menyatakan tidak tahu-menahu rencana tersebut. Mereka mengaku tidak pernah diajak bicara oleh Pemprov DKI Jakarta.

Berita pun menjadi simpang siur dan sepotong-sepotong karena para pejabat DKI sama sekali tidak memberi keterangan rinci mengenai rencana tersebut. Bagaimana jenis busnya, pintunya di sebelah kiri atau kanan, halte busnya di tengah jalan atau bagaimana, bagaimana sistem pembayarannya, fasilitasnya, bagaimana nasib para pengusaha bus yang selama ini menjalani rute tersebut, bagaimana load jalan tersebut, apakah kemacetan akan semakin parah atau membaik di jalur busway? Pertanyaan-pertanyaan lain masih cukup banyak dan tidak terjawab.

Katanya, untuk itu telah disiapkan anggaran pada tahun 2002 sebanyak Rp 54 milyar. Dari jumlah itu yang terealisasi Rp 2,4 milyar untuk mengecat marka jalan dan pembuatan rambu busway, yang belakangan dikhawatirkan mubazir. Belakangan, anggaran untuk busway pada tahun anggaran 2003 membengkak hingga Rp 86,25 milyar.

Berdasarkan laporan kegiatan Bus Demonstration Project Busway Blok M-Kota yang dikeluarkan Dinas Perhubungan DKI, sistem itu akan menggunakan bus berpendingin udara dengan desain khusus berkapasitas 85 penumpang, 30 penumpang duduk, dan 55 penumpang berdiri, ber-AC, dan memiliki radio komunikasi dan sound system.

Bus ini hanya akan menaikkan dan menurunkan penumpang di halte-halte khusus yang tingginya sama dengan pintu bus sekitar satu hingga satu setengah meter. Bus berhenti 1,5 menit pada jam sibuk, sedangkan di luar jam sibuk 5 menit. Sebelum masuk bus, penumpang harus membeli karcis seharga Rp 2.500 di halte bus.

Di jalur Sudirman-MH Thamrin permintaan penumpang sangat tinggi mencapai 12.600 penumpang per jam per jurusan. Sedangkan bus bisa mengangkut 3.400 penumpang per jam per jurusan atau per harinya bisa mengangkut 30.600 penumpang per hari.

Nyamannya bus di jalur khusus bus serta kemacetan di lajur lainnya diharapkan bisa memancing pengguna kendaraan pribadi untuk berpindah ke bus umum. Para pengguna kendaraan pribadi bisa memarkir kendaraannya di kawasan Blok M atau Kota untuk selanjutnya menggunakan bus khusus di busway menuju kantornya.

Sedangkan, bus-bus kota yang selama ini trayeknya melintasi atau melayani Blok M-Kota akan dialihkan rutenya dan akan menjadi pendukung (feeder bus) dari busway.

Sebuah rencana yang menarik. Namun, jika kita menelisik bagaimana pelaksanaan sistem itu akan direalisasikan ternyata semuanya kabur. Salah satu hal misalnya, bagaimana manajemen bisnis antara busway dengan feeder yang selama ini dilakukan oleh para operator atau pengelola bus swasta, seperti Mayasari Bhakti atau lainnya? Apakah mereka akan disingkirkan atau diikutsertakan dalam sistem baru?

Ketidaksiapan Pemprov DKI Jakarta melaksanakan sistem itu semakin terbukti. Bulan Januari telah lewat. Namun di bulan yang dijanjikan sistem busway akan mulai diujicobakan ternyata berlalu begitu saja. Bahkan, belakangan dikabarkan, Pemda DKI menyatakan menunda sistem busway itu pada bulan Oktober 2003. Dan, seperti biasa, hingga kini bagaimana kelanjutan sistem tersebut akan dilaksanakan tidak jelas terdengar.

Manajer Program Transportasi Pelangi Jack Sumabrata mengkhawatirkan, Pemprov DKI Jakarta bukan saja tertutup, namun yang lebih mengkhawatirkan mereka justru tidak memiliki konsep yang matang mengenai busway tersebut. "Kalau sekadar tertutup, sih, mending, karena konsepnya ada. Namun, jika tidak ada konsep, kan, itu sama dengan celaka," kata Jack, yang LSM-nya bersama Institute for Transportation and Development Policy (ITDP, New York) menggiatkan Indonesia Livable Communities Initiative, yang mendorong penggunaan angkutan untuk mengurangi polusi udara.

Ketidakjelasan konsep itu bukan saja, tercermin dari tidak adanya sosialisasi proyek, namun juga masing-masing instansi seperti memiliki rencana langkah sendiri-sendiri. "Padahal, seharusnya mereka berada dalam satu tujuan yang jelas dan sistematis," kata Jack.

NIAT baik Pemprov DKI Jakarta untuk membenahi angkutan umum itu semoga saja benar adanya. "Kami harus mulai sekarang, kalau tidak kapan lagi. Kondisi lalu lintas Jakarta dan transportasi angkutan umum sudah saatnya dibenahi," kata Kepala Sub-Dinas Teknik Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) DKI U Pristono seperti juga disampaikan KepalaSub-Dinas Pengembangan Sistem Dishub DKI DA Rini.

Kondisi transportasi angkutan umum saatnya dibenahi, semua warga Ibu Kota setuju. Warga Ibu Kota, terutama para pengguna angkutan umum sudah terlalu lama mendambakan sebuah sistem pelayanan angkutan umum yang baik dengan jadwal yang tepat waktu.

Tentu saja, masyarakat semua menyambut setiap niat baik Pemprov DKI Jakarta meningkatkan pelayanan angkutan umum atau membenahi perlalulintasan Ibu Kota yang sudah demikian amburadul. Apalagi sejauh ini, rencana-rencana Pemprov DKI-gubernur berganti gubernur-untuk meningkatkan angkutan umum, membangun subway, mass rapid transit (MRT), hingga triple decker cuma sebatas janji yang tak pernah terwujud. Sejumlah studi atau kajian mengenai itu juga sudah dilaksanakan yang tentu saja mengeluarkan waktu dan uang yang tidak sedikit. "Warga kota mendambakan pelayanan angkutan umum yang baik tidak seperti sekarang, warga pengguna angkutan umum seperti saya, sepertinya diabaikan," kata Tulus Abadi, pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Warga tentu berharap jika sistem busway cuma sekadar mengejar proyek, menghabiskan anggaran, para pejabat Pemprov DKI sebaiknya berpikir ulang. Bahkan, mereka mestinya malu karena janji-janji peningkatan angkutan umum tidak pernah terwujud secara tuntas. Saatnya mereka memikirkan sistem perlalulintasan yang terpadu atau terintegrasi yang benar-benar bermaksud memecahkan kesemrawutan lalu lintas dan pelayanan angkutan umum Ibu Kota.

Sebenarnya jika melihat kondisi perlalulintasan, termasuk angkutan umum di DKI Jakarta tidak ada hal baru. Bahkan, data-data yang disampaikan oleh Rini di depan peserta seminar internasional Human Mobility di Bogota, Kolombia awal Februari merupakan data-data lama yang belum diperbarui (update). Kondisi saat ini tentu saja lebih parah. Apalagi belum ada terobosan-terobosan baru, kecuali sejumlah studi dan rencana proyek, untuk memecahkan persoalan transportasi dan angkutan umum di Jakarta.

Jumlah penumpang 10 juta orang per hari, termasuk 25 persen di antaranya penumpang dari Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Sebanyak 50,7 persen di antaranya menggunakan angkutan umum dan sisanya angkutan pribadi.

Saat ini jumlah kendaraan di Jakarta dan sekitarnya diperkirakan mencapai 4,5 juta unit dengan jumlah angkutan umum hanya 1,3 persennya saja. Selebihnya, kendaraan pribadi 1,6 juta unit (35,3 persen) dan sepeda motor 2,4 juta unit (54,1 persen) dan sisanya kendaraan barang (9,2 persen). Pertumbuhan jumlah kendaraan mencapai 6 persen (1997-2001) atau hampir enam kali lipat dibandingkan pertumbuhan jalan yang kurang dari 1 persen, yang saat ini panjangnya mencapai 6,630 km. Bahkan menurut Rini, pertumbuhan angkutan pribadi mencapai 10 persen per tahun, jauh lebih besar dibandingkan angkutan umum yang merayap 2 persen saja.

"Pemprov DKI Jakarta tidak bisa memecahkan persoalan lalu lintas sendirian. Dia harus melibatkan daerah-daerah di sekitarnya. Tidak bisa sepotong-sepotong, harus terintegrasi, " kata Bambang Susantono, Sekretaris Jenderal SUSTRAN (Sustainable Transport Action Network for Asia and the Pasific). Dia menyatakan pesimismenya, Pemprov DKI Jakarta bisa menyelesaikan persoalan transportasi maupun pelayanan angkutan umum jika mereka hanya memikirkan penyelesaian sepotong-sepotong.

Bahkan, Bambang dan Jack menilai moda angkutan umum di Jakarta-termasuk jaringan KRL/KRD Jabotabek-sebenarnya cukup memadai dan tinggal dioptimalkan. Masalahnya setiap instansi, berjalan sendiri-sendiri tidak dalam sistem angkutan umum yang terintegrasi dan menyeluruh. Akibatnya, potensi kereta api, bus kota, mikrolet seperti terpecah-pecah mengatasi persoalan angkutan umum di Jakarta dan sekitarnya. Sinisme yang kemudian muncul adalah, kesemrawutan yang saat ini terjadi memang sengaja dibiarkan karena memang menguntungan bagi sejumlah oknum tertentu.

Salah satu pemecahan yang bisa ditempuh adalah kemungkinan pemerintah atau Pemprov DKI memiliki suatu badan otoritas yang menangani masalah transportasi. Badan itu terdiri dari semua unsur masyarakat, termasuk pengusaha bus atau investor dan sebagainya. Mereka itulah yang secara utuh mengendalikan, merancang proyek penyelesaian transportasi, termasuk busway sehingga tidak simpang siur. "Selama ini masyarakat tidak pernah dilibatkan untuk berpartisipasi dalam setiap bidang pengelolaan kota. Kalaupun ada yang dibilang sosialisasi program yang ada cuma top down, di mana orang pemda menyampaikan bahwa mereka akan melaksanakan ini-itu tanpa meminta masukan dari warga," kata Azas Tigor Nainggolan, Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta).

Dua orang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Julianson PN Purba (Sekretaris Komisi D) dan Herdin Darlys Silalahi yang hadir dalam seminar Human Mobility di Bogota, juga mengharapkan, Pemprov DKI Jakarta benar-benar menjalankan semua prosedur bagaimana seharusnya sebuah sistem busway dilaksanakan. Semuanya harus kita pertanggungjawabkan kepada rakyat, " kata Julianson.

Repotnya, Pemprov DKI dengan pendekatan proyek, tampaknya belum memiliki tim yang kuat, solid dan kapabel bisa melaksanakan sistem BRT. Pelaksanaan busway di DKI Jakarta itu hanya ditangani oleh para pejabat Dinas Perhubungan DKI. Padahal, pelaksanaan sistem itu seharusnya melibatkan banyak pihak, dinas pertamanan, dinas humas, hukum dan seterusnya. Dinas-dinas lain semestinya juga dilibatkan dan sama-sama bertanggung jawab menangani persoalan perlalulintasan DKI Jakarta. "Keberhasilan pelaksanaan pelaksanaan sistem BRT, 99 persen tergantung tim yang mendukungnya. Sedangkan 1 persen baru yang lain-lainnya, termasuk teknik," kata Edgar Enrique Sandoval, seorang manajer TransMilenio, Bogota.

MENCERMATI apa yang seharusnya dilakukan jika sistem BRT atau busway dilaksanakan dan mencoba mengamati apa yang akan dilaksanakan Pemprov DKI saat ini memang masih jauh panggang dari api. Setidaknya ada berapa tahap untuk menjalankan sistem bus rapid transit (BRT) itu. Empat aspek yang seharusnya dilalui oleh Pemprov
more