Showing posts with label busgandeng. Show all posts
Showing posts with label busgandeng. Show all posts

30.5.08

Ujicoba busgandeng

"Semuanya siap beroperasi," ujar Direktur Utama PT Jakarta Mega Trans Atin Soetisna. Tiga dari 10 bus gandeng Transjakarta melakukan uji coba di lintasan koridor V, Kampung Melayu-Ancol. Bus dengan kapasitas 160 penumpang itu akan dioperasikan mulai pekan depan.

Atin menerangkan bus itu sebenarnya sudah akan beroperasi setahun lalu. Namun, pihak operator belum bisa mengoperasikan bus tersebut lantaran adanya sengketa penyelesaian pajak bea masuk. Saat itu, kata dia, besaran pajak yang ditetapkan sama dengan ketentuan mobil mewah atau sebesar 40 persen.

"Belakangan, pemerintah melalui Departemen Keuangan dan Departemen Perhubungan menyetujui untuk menurunkan beban pajak bea masuk menjadi 10 persen," kata Atin. Menurut rencana, tutur Atin, PT Jakarta Mega Trans akan menambah jumlah bus gandeng menjadi 17 unit. "Akan kami datangkan dalam waktu dekat," katanya.

Bus sepanjang 10 meter itu memiliki kapasitas 38 bangku dengan 110 pegangan bagi penumpang yang berdiri. Tersedia ruang bagi penumpang dengan kebutuhan khusus, terletak persis di belakang bangku sopir. "Yang jelas, daya tampungnya lebih besar," katanya.

Direktur Operasional Badan Layanan Umum Transjakarta Rene Nunumete menambahkan, operasionalisasi bus gandeng juga sedang direncanakan untuk koridor I, Blok M-Kota. Meski demikian, ia belum bisa memastikan kapan rencana tersebut dapat direalisasi. "Tarif bus gandeng tetap sama," ujarnya. [dari Koran Tempo]

Sebanyak 10 bus gandeng akan dioperasikan Juni 2008 mendatang dibarengi dengan beroperasinya tiga koridor busway baru lainnya yaitu busway Koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni), Koridor IX (Pinang Ranti-Pluit), dan Koridor X (Cililitan-Tanjung Priok).

"Ini belum mengangkut penumpang. Ini baru sebatas uji coba koridor," kata Rene Nunumete. Menurutnya ini ujicoba untuk pengenalan koridor serta penyesuaian kondisi lalu lintas. Tiga bus gandeng diujicobakan di koridor VII Ancol-Pademangan-Senen-Matraman-Kampung Melayu.
Tanggal pengoperasian bus gandeng menunggu Gubernur. "Beroperasinya pada Juni mendatang. Namun, waktu persisnya masih harus menunggu keputusan gubernur," tandas Rene.

Pemerintah akan membayar Rp 16.661 per kilometer tempuh sesuai dengan tarif lelang. Daya tampungnya 180 penumpang, dua kali lebih banyak daripada daya angkut bus tunggal. Tarif akan sama dengan tarif bus tunggal yaitu sebesar Rp 3.500.

Sejak didatangkan dari China pada tahun 2007 lalu, pengadaan armada bus gandeng ini banyak mengalami kendala. Pemerintah DKI Jakarta mengeluarkan biaya bea masuk sebesar Rp 471 juta. [dari BeritaJakarta]

Bus Gandeng di Busway
more

7.4.08

Busgandeng sengaja tidak dioperasikan

Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta mengaku tekor. Penerimaan dari penjualan tiket hanya bisa menutupi biaya pengeluaran sekitar 64,2 persen. Konsorsium atau operator busway menduga ada kebocoran dalam penjualan tiket.

Berdasarkan data BLU, tahun lalu, jumlah penumpang busway tercatat 61.761.573 orang. Pendapatan dari penjualan karcis Rp 206,89 miliar dan pengeluarannya Rp 322 miliar. Sehingga ada defisit Rp 115 miliar.

Defisit ditutup oleh subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI Jakarta senilai Rp 200,5 miliar. Dana itu hanya terserap Rp 152,34 miliar. "Sisanya, Rp 48 miliar, dikembalikan ke kas daerah," kata Kepala BLU Transjakarta Drajad Adhyaksa.

Dijelaskan, dari pengeluaran Rp 322 miliar, sebanyak 87,79 persen atau Rp 282,89 miliar dipakai untuk membayar operator busway di 7 koridor. Karena pendapatan dari penjualan tiket hanya Rp 206 miliar, BLU tekor Rp 76 miliar untuk membayar konsorsium.

Biaya operasional menghabiskan dana Rp 40 miliar untuk gaji pegawai. Saat ini BLU memiliki 150 pegawai tetap dan sekitar 2.000 karyawan outsourcing. Pekerja outsourcing terdiri atas petugas tiket, keamanan, dan kebersihan.

Meski BLU mengaku tekor, konsorsium berpendapat ada kebocoran dalam hitung-hitungan penjualan tiket.

Hitung-hitungan versi konsorsium.

Operator busway memperkirakan jumlah penumpang busway sehari rata-rata 250 ribu atau 90 juta penumpang per tahun. Jika jumlah penumpang itu dikalikan dengan harga tiket Rp 3.500, dibukukan penghasilan Rp 315 miliar per tahun. Dengan pengeluaran BLU senilai Rp 322 miliar dan pemasukan Rp 315 miliar, defisitnya hanya Rp 7 miliar.

"Subsidi dari APBD bisa dikurangi," ujar seorang pejabat konsorsium yang enggan disebutkan identitasnya kepada Tempo. Jumlah Rp 315 miliar itu jauh lebih besar daripada hitungan versi BLU sebesar Rp 206 miliar.

Drajad menyatakan konsorsium tidak bisa pukul rata, jumlah penumpang dikalikan harga karcis Rp 3.500. Sebab, pada jam sibuk, karcis busway dijual Rp 2.000. Tahun ini BLU memang mentargetkan penerimaan karcis mencapai Rp 213 miliar.

Menurut Drajat, subsidi dihapus asalkan konsorsium setuju dengan harga lelang. Juli tahun lalu, BLU melakukan tender. Hasilnya ditetapkan tarif baru anyar Rp 9.300-9.500 per kilometer kepada operator busway. Tarif baru itu bisa menghemat pengeluaran Rp 130 miliar setahun. "Uang yang dihasilkan dari penghematan itu dapat menghapus subsidi dari APBD," ucap Drajad.

Namun, tarif baru itu ditolak. Konsorsium tetap meminta bayaran Rp 12.885,11 per km sesuai dengan kontrak lama. Kisruh pun berlanjut. Sebanyak 10 bus gandeng milik PT Jakarta Mega Transportasi (JMT), yang seharusnya dioperasikan di koridor V rute Kampung Melayu-Ancol, sejak Juni tahun lalu hingga kini nganggur.

"BLU sengaja tidak mengoperasikan bus gandeng karena belum ada kesepakatan harga," kata Drajad. Di koridor V, konsorsium menawarkan Rp 28 ribu per km, sedangkan hasil lelang yang dimenangi oleh PT Ekasari Lorena Transport hanya Rp 16 ribu. "Kalau mereka setuju harga lelang, silakan jalan," ujarnya.

Namun, Direktur Utama PT JMT Atin Soetisna menolak tegas harga lelang baru itu. Alasannya, "Tidak bisa menutupi biaya." Apalagi, selama dikandangkan, pihaknya harus membayar bunga bank sebesar 20,5 persen setahun dan membayar gaji sopir yang telanjur direkrut.

Agar kisruh hitung-hitungan pendapatan busway lebih transparan, anggota Dewan Transportasi Kota, Harya Setyaka Dillon, menyarankan agar BLU menggunakan sistem elektronik atau online untuk penjualan karcis. "Pengawasan pendapatan menjadi lebih mudah," ujarnya. Sofian

Aturan Main Harus Dievaluasi

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta meminta konsep kerja sama busway harus disusun ulang. Menurut Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Sayogo Hendrosubroto, dari awal pembentukan, koordinasi dan kesepakatan tidak jelas.

"Semuanya serba terburu-buru untuk mengejar target," kata Sayogo kepada Tempo kemarin.

Ketidakjelasan network planning inilah, Sayogo melanjutkan, menjadi sumber kekisruhan antara BLU dan konsorsium. Ia mencontohkan, pembangunan koridor IV, V, VI, dan VII yang hanya menggunakan satu anggaran. "Hasilnya jadi berantakan," ujarnya.

Penentuan tarif operasional, subsidi bahan bakar gas, dan masalah tagihan memperuncing kekisruhan tersebut. Belum lagi permasalahan tender dan pengadaan-pengadaan lain yang membuat satu dengan yang lain saling curiga. "Kalau dihitung secara transparan, mungkin bisa mengatasi masalah ini," katanya.

Menurut Sayogo, sebelum dibentuk aturan baru, semua pihak diharapkan duduk bersama membahas masalah ini dengan kepala dingin. "Evaluasi semuanya, nanti bakal kelihatan siapa yang salah," katanya. [dari koran Tempo]

more

18.1.08

Mengintip Busway Nantes

Saking terpesona dengan Busway Nantes dan busgandeng Mercedes Citaro-nya, saya ingin berbagi hasil jalan-jalan ke Nantes pakai google :

logo Namanya BusWay, arti harfiahnya ga jadi soal. Kita juga sering begitu, seperti Metro Mini, Gudang Garam, Kompas, banyak...
Koridornya cuma satu, Line 4, melanjutkan nomor urut koridornya trem: Line 1, 2 dan 3. (line 11 hingga 99 untuk buskota). Slogannya: busway pertama di Prancis, dari Nantes ke Vertou kurang dari 20 menit saja. Kabarnya BusWay Line 5 sedang dikaji untuk 2010.

Busway_nantes_01
11-Station Bourdonnières Panjang koridor cuma 7 kilometer, ada 15 halte. Mulai beroperasi 6 Nopember 2006 dengan 20 busgandeng BBG yang panjangnya 18 meter. Di jam sibuk headwaynya 4 menit, mengangkut 27ribu penumpang per hari.
Populasinya memang kurang dari 300ribu, kepadatan 4ribu orang setiap km persegi (di Jakarta 12ribu orang) dan 2ribu lebih mobil (indexnya 475 mobil per seribu orang).

001-infoSeperti di Jakarta, pembangunan busway juga menarik perhatian besar di seluruh Prancis, semua mengawasi. Bedanya, mereka sepakat bahwa ini pendekatan yang tepat untuk mempermudah mobilitas penduduk. Sementara di Jakarta tidak ada yang berupaya untuk menyamakan visi antar pemangku kepentingan.

papanMaka di saat tahap pembangunan di setiap lokasinya ada papan informasi dilengkapi gambar rancangan desainnya.
Kita juga punya aturan serupa meski sederhana. Tapi seperti biasa, tidak dipatuhi dan yang berwenang juga masabodoh, apalagi masyarakat yang tidak tahu bahwa mereka berhak mengawasi dan melapor.

aesthetic-urban-furnitureKarena busgandeng Citaro berlantai rendah, maka konstruksi halte-haltenya tidak membutuhkan tangga. Ini pendekatan yang mengutamakan penumpang. Lebih manusiawi ya, dan mungkin lebih murah. Penumpang Transjakarta diharuskan berbelok-belok menapaki pelican cross, jauhnya bisa 4kali lebih panjang dibanding kalau lurus menyeberang.
Tapi haltenya jauh lebih sempit dibanding di Jakarta. Barangkali karena headwaynya cuma 4 menit, dan bisa 200 penumpang sekali angkut. Menariknya, halte dipandang sebagai urban furniture. Dan karya para perupa Prancis pun bisa dinikmati dan dipakai untuk duduk, memarkir sepeda atau hiasan. Gagasan yang genial, karya seni difungsikan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya diam di sudut ruang pamer, hanya bisa dinikmati oleh pengunjung galeri.

10-Station-MauvoisinsDi Nantes bukannya tidak ada jembatan penyebrangan. Ini desainnya. Lihat bagaimana pendekatannya: bukan manusianya diminta naik, tapi untuk mobil-mobil dibuatkan underpass. Ini lebih mahal ya daripada membuat jembatan penyeberangan orang.

nantes-google7Tapi ga papa, panorama kota jadi terpelihara, pandangan mata tidak terhalang jembatan atau jalan layang, apalagi jalan tol bertingkat. Belum lagi asap knalpot. Kualitas hidup lebih utama. Dinikmati oleh semua, bukan hanya oleh pemilik mobil.

Ini halte yang sama difoto lewat satelit. Dengan bantuan Google Earth kita bisa melihat dan belajar banyak ke seluruh dunia tanpa harus bangun dari kursi...


parking2 Terlihat di atas bahwa halte diapit oleh fasilitas parkir. Cara penyelesaiannya jauh lebih smart dibanding Jakarta: satu koridor saja dulu, tapi semua fasilitasnya dilengkapi.
Pengendara mobil memang jadi lebih suka meninggalkan mobil di Park and Ride, naik BusWay mewah, paling lama 20 menit. Daripada ke kota naik mobil, parkir mahal, lebih lambat lagi...

Denah-Nantes

Di lihat pada petanya, hanya ada tiga Park and Ride. Tapi kalau mengintip lewat Google Earth, paling sedikit ada 7. Coba tengok.
Kalau ga punya waktu, besok-besok ditampilkan di sini deh.
Semoga bermanfaat.

more

26.10.07

Busgandeng belum beroperasi

Bus Gandeng Masih Tunggu Surat Kendaraan

Pengoperasian 10 bus gandeng di koridor V busway (Kampung Melayu-Ancol) masih menunggu surat tanda nomor kendaraan dari kepolisian.

"Sudah kami ajukan pekan lalu," ujar seorang pejabat PT Jakarta Mega Trans, operator koridor V, kepada Tempo kemarin.
Menurut dia, lazimnya waktu pengurusan surat kendaraan adalah satu pekan. Jika surat sudah beres, masih perlu serangkaian uji coba, yaitu uji mutu, uji karoseri, dan uji tabung gas, bus oleh Dinas Perhubungan di Cibitung, Jawa Barat. Pengujian dijadwalkan berlangsung pekan depan.

Namun, "Tanpa STNK kami tidak berani keluarkan bus," kata sumber itu. Sepuluh bus gandeng itu kini parkir di pul Jakarta Mega Trans di Kampung Rambutan, Jakarta Timur.
Permohonan pembuatan STNK untuk bus gandeng, kata Kepala Subdirektorat Administrasi Registrasi dan Identifikasi Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Giri Purwanto, sudah diterima. "Kalau persyaratan sudah lengkap, (STNK) bisa (keluar)," ujarnya kepada Tempo.

Surat-surat bus gandeng, kata dia, harus melewati proses layaknya pengurusan surat kendaraan lain. Lama prosesnya, kata dia, tak sampai sebulan. Pada prinsipnya, kata Wakil Direktur Lalu Lintas Ajun Komisaris Besar Firman Shantyabudi, pihaknya mendukung program pemerintah Jakarta itu. "Yang penting, kami memberi kontribusi ke warga," ucapnya.

Badan Layanan Umum Transjakarta berharap evaluasi surat kendaraan segera rampung. "Bus gandeng bisa menurunkan antrean penumpang," ujar Manajer Pengendalian Transjakarta Rene Nunumete kepada Tempo.

Dengan kapasitas 160 penumpang (bukan 180 penumpang seperti diberitakan sebelumnya), bus gandeng dapat mengangkut dua kali lebih banyak dibanding bus reguler. Dengan demikian, Rene melanjutkan, antrean penumpang, terutama di halte padat, seperti Kampung Melayu, Matraman, Senen, dan Pademangan, dapat dipangkas. REZA MAULANA| IBNU RUSYDI | M IQBAL MUHTAROM - koran Tempo
more

25.10.07

27 Busgandeng kapan-kapan

Pengoperasian Sisa Bus Gandeng Tidak Pasti

JAKARTA -- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak mengetahui kapan sisa bus gandeng sebanyak 27 unit dari 37 bus yang telah dipesan ke Cina akan dioperasikan.

"Bisa jadi kapan-kapan. Semua tergantung konsorsium," kata Kepala Dinas Perhubungan Nurachman ketika dihubungi Tempo kemarin.

Padahal penambahan bus itu sangat dinantikan. Sebab, saat ini hampir setiap hari halte busway dipadati penumpang. Pada jam sibuk, di beberapa halte, antrean pengunjung tampak mengular.

Saat ini telah ada 10 bus gandeng di Jakarta. Tiga bus di antaranya telah dioperasikan di koridor V (Kampung Melayu-Ancol). Sementara itu, tujuh bus lainnya sudah disiapkan dan rencananya akan mulai dioperasikan hari ini.

Menurut Nurachman, selain menyiapkan bus gandeng, pihaknya sudah melatih khusus pengemudi yang akan mengendarai bus ini. Dia menuturkan tidak semua koridor akan dilalui bus ini, bergantung pada bentuk jalur. "Busway gandeng ini lebih cocok di jalur yang tidak banyak beloknya," katanya.

Sebelumnya, Dinas Perhubungan merencanakan bus gandeng dioperasikan di koridor I (Blok M-Kota), koridor IV (Pulogadung-Dukuh Atas), VI (Halimun-Ragunan), dan VII (Kampung Melayu-Kampung Rambutan). Namun, halte di jalur itu lebih rendah daripada pintu bus gandeng.

Kehadiran bus gandeng itu sempat terlambat. Sebab, bus tersebut terganjal masalah bea masuk sehingga tertahan selama tiga bulan, sejak Juni lalu, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Awal Oktober lalu, pemerintah pusat memberikan keringanan bea masuk terhadap 10 bus gandeng itu.

Menurut Nurachman, pengurangan bea masuk itu dilakukan karena bus tersebut merupakan angkutan masyarakat yang murah dan ramah lingkungan.

Bus gandeng berkapasitas 40 tempat duduk dan dapat mengangkut 180 penumpang. Bus sepanjang 18 meter ini dioperasikan secara matic. Berat bersih bus bermesin Cummins ini 26 ton. Bus dengan lebar 2,5 meter dan tinggi 3 meter itu dapat melaju dengan kecepatan 70 kilometer per jam. MUSTAFA SILALAHI - koran Tempo
more

6.10.07

Busgandeng akhirnya lolos

Setelah lima bulan menganggur di Tanjung Priok, akhirnya sepuluh busgandeng resmi diluncurkan hari ini. Berhubung manuver busgandeng jauh lebih sulit maka busgandeng hanya dioperasikan di jalur yang paling mhemungkinkan: koridor 5 Kampung Melayu - Ancol.
Menteri Keuangan memberi rekomendasi dan keringanan pajak yang didasarkan pada klausul bahwa kendaraan penumpang di atas 24 ton dan mampu mengangkut 10 orang mendapat keringanan hingga 10 persen.
Busgandeng asal Cina seharga $279.000 ini berbahanbakar gas dan mampu mengangkut hingga 200 penumpang. Tahun depan direncanakan mendatangkan 7 unit lagi dan koridor I akan disiapkan untuknya. more

26.9.07

Busgandeng menebar ancaman

Organda Ancam Mogok Bila Bus Gandeng Tetap Ditahan

beritajakarta.com — Belum dikeluarkannya surat izin pengoperasian 10 unit armada bus gandeng dari pelabuhan Tanjung Priok yang akan digunakan untuk busway koridor V (Kampung Melayu-Ancol) oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyebabkan pengoperasian bus gandeng itu menjadi terkatung-katung.

Salah satu penyebabnya karena Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklasifikan bahwa 10 unit bus gandeng itu termasuk barang mewah sehingga harus dikenakan bea masuk sebesar 40 persen dari harga bus gandeng sebesar Rp2,6 miliar/unit atau sebesar Rp1,1 miliar.

Padahal, menurut Herry, pajak bea masuk yang diberlakukan terhadap 306 unit armada busway koridor II-VII hanya sebesar 5 persen. “10 bus gandeng merek Huang Hai buatan China itu sudah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok sejak 27 Juni 2007 dimana 7 bus untuk Mayasari Bakti dan 3 bus untuk Pahala Kencana sebagai konsorsium busway,” kata Ketua DPD Oraganda DKI Jakarta Herry JC Rotty kepada wartawan, Rabu (26/9).

Kondisi tersebut dinilai sangat merugikan program pola transportasi makro (PTM) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebab busway merupakan angkutan publik yang harus dibebaskan pajak bea masuk.
“Bagi kami kondisi itu juga sangat memberatkan karena anggota konsorsium harus tetap membayar suku bunga bank karena mereka meminjam uang dari bank untuk membeli bus gandeng itu,” ujarnya.

Selain itu, kata Herry, dengan masih ditahannya 10 bus gandeng itu selama 3,5 bulan di Pelabuhan Tanjung Priok itu akan mengakibatkan bus menjadi rusak.
Dan bila Menteri Keuangan tetap bersikukuh bahwa bus gandeng itu tetap dikenakan bea masuk sebesar 40 persen, lanjut Herry, pihaknya akan menginstruksikan seluruh operator busway untuk tidak mengoperasikan armadaya. “Kita akan stop operasi,” tegasnya.

Herry menuturkan, sebenarnya Menteri Perhubungan Yusman Syafii Djamal telah mengirim surat ke Menteri Keuangan pada tanggal 29 Juni 2007 perihal intensif fiskal untuk 10 bus tempel/gandeng untuk busway. “Tapi permintaan itupun tidak diterima,” ucapnya.
Kemudian pada 4 Juni 2007 giliran Menteri Perindunstrian melayangkan surat tentang permintaan keringanan bea masuk bus gandeng busway. Selanjutnya pada 6 September gubernur DKI Jakarta Sutiyoso juga melayangkan surat yang sama kepada Menteri Keuangan. “Namun surat permohonan dari Menteri Perindustrian dan Gubernur Sutiyoso juga tetap tidak dikabulkan,” terangnya.

Secara terpisah Gubernur Sutiyoso merasa kecewa dengan keputusan Menteri Keuangan yang tetap menolak permohonan penghapusan bea masuk bagi 10 unit bus gandeng itu.
“Saya sangat kecewa, seharusnya mereka kan tahu bahwa bus gandeng itu digunakan untuk angkutan umum sehingga seharusnya tidak dikategorikan sebagai barang mewah,” tegas eks Pangdam Jaya ini. | wawan
more

21.9.07

Undangundang menolak busgandeng

Bea Masuk

[SUARA PEMBARUAN] Departemen Keuangan tidak dapat memenuhi keinginan importir bus transjakarta agar memberikan pembebasan bea masuk atas 10 bus transjakarta yang ditahan di Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai. Pasalnya, sesuai dengan Undang-undang Nomor 17/2006 tentang Kepabeanan, Menteri Keuangan tidak bisa lagi membebaskan bea masuk barang-barang impor seperti itu. Kendati demikian, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menegaskan pihaknya akan mengupayakan penyelesaiannya.

"Masalah bea masuk, itu karena ada perubahan Undang-undang Pabean. Kita coba tangani nanti ya, kebijakannya agak complicated karena undang-undangnya berubah. Tapi kita akan coba atasi. Kita sedang mengupayakan dengan DPR maupun dari mekanisme yang ada," kata Menkeu, baru-baru ini di Jakarta.

Bisa saja solusinya adalah diberikan subsidi atas importasi tersebut, tetapi hal itu juga tidak dianggarkan di APBN-P 2007, sehingga permasalahannya adalah apakah harus menunggu sampai 2008. Tetapi menurutnya, pemerintah akan mencoba mengatasi hal tersebut. [L-11/MDM/L-10]

Pembebasan Bea Masuk Bus TransJakarta Masih Diupayakan

KOMPAS - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan sedang mengupayakan masalah pembebasan bea masuk bus Transjakarta dengan DPR terkait dengan masih tertahannya kendaraan kota Jakarta tesebut di Pelabuhan Tanjung Priok karena masalah bea masuk.

"Kita coba tangani nanti ya. Kebijakannya agak rumit karena undang-undang-nya (UU Kepabeanan) berubah. Tapi kita akan coba atasi. Kita sedang mengupayakan dengan DPR maupun dari mekanisme yang ada," katanya seusai rapat koordinasi antara Menteri-Menteri Ekonomi dan Bank Indonesia di Jakarta, Rabu malam.
Ia mengatakan pihaknya tidak bisa membebaskan bea masuk bus Transjakarta yang didatangkan dari Korea Selatan begitu saja karena terkait dengan undang-undang. "Pembebasan bea masuk tak bisa lagi dilakukan Menkeu, karena diatur dalam UU," tegasnya.

Untuk itu, saat ini pihaknya sedang memikirkan cara untuk mengeluarkan bus tersebut, termasuk kemungkinan menggunakan subsidi. "Ya semacam itu. Tapi kan tidak dianggarkan di 2007, jadi komplikasinya adalah apakah menunggu sampai 2008. Kita sedang lihat beberapa mekanisme solusinya ya," katanya.
UU Kepabeanan no 17 tahun 2006 tentang kepabeanan memperbarui UU no 10 tahun 1995. Dalam UU kepabeanan yang baru tersebut, menteri keuangan tidak lagi memiliki kewenangan untuk pembebasan bea masuk. (ANTARA/GLO)

10 Bus Transjakarta Masih Ditahan


Liputan6.com, Jakarta: Hingga Jumat (21/9), Bea dan Cukai masih menahan 10 bus gandeng yang diimpor dari Cina oleh PT Bali Dufri Indonesia. Bus yang rencananya melayani jalur busway di Koridor V jurusan Kampung Melayu-Ancol itu belum bisa dikeluarkan karena bea masuknya belum dibayar.

Sebenarnya, PT Bali Dufri Indonesia telah meminta keringanan bea masuk dengan alasan bus yang memiliki 160 penumpang itu untuk kepentingan umum. Namun, permintaan tersebut ditolak. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Supriyadi mengatakan, keringanan hanya berlaku untuk kepentingan umum yang tak menghasilkan uang. Akibatnya, 10 bus itu ditahan Bea dan Cukai sejak Juni silam.

Bea dan Cukai berharap persoalan ini bisa cepat selesai. Importir segera membayar bea masuk sesuai peraturan yang berlaku.(BOG/Christina Odorus dan Nofrianus Barens)

10 Bus gandeng Transjakarta ditahan

Bisnis Indonesia | Sepuluh unit bus gandeng Transjakarta tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok karena tidak dilengkapi dokumen impor khusus kendaraan. Selain itu, importasi bus itu dinilai melanggar UU Kepabeanan No. 17/2005.
"Importirnya meminta pembebasan dan keringanan bea masuk, padahal dalam UU Kepabeanan itu belum diatur soal pembebasan bea masuk terhadap kegiatan impor seperti ini. Jadi tetap kami tahan," ungkap Dirjen Bea dan Cukai Anwar Supriadi kepada Bisnis, kemarin.

Saat ini 10 bus gandeng merek Dandong Huanghai yang diimpor dari Shanghai-China tersebut di parkir di lahan penumpukan 113X dermaga konvensional Pelabuhan Tanjung Priok.
Anwar mengatakan pihaknya tidak akan memberikan pembebasan maupun keringanan bea masuk sebagaimana permintaan importir. "Importasinya oleh perusahaan importir umum dan ternyata diketahui tidak memiliki izin melakukan importasi mobil." (Bisnis/k1)
more

19.9.07

Busgandeng tertahan di pelabuhan

Sutiyoso Minta Keringanan Pajak Bus Gandeng TransJakarta

SINAR HARAPAN - Gubernur Jakarta Sutiyoso meminta Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memberi keringanan pajak bea masuk 10 bus gandeng TransJakarta yang sudah dua bulan berada di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dia berharap segera ada jawaban dari Menkeu agar bus gandeng bisa dioperasikan dan dinikmati warga Jakarta.
“Saya sudah kirim surat dan meminta keringanan. Belum ada jawaban. Semoga cepat ada keputusan sehingga bus gandeng bisa digunakan,” kata Sutiyoso di Balai Kota, Salasa (18/9) siang.

Secara terpisah Ketua Organda Jakarta, Herry C Rotty kepada SH mengatakan, Departemen Keuangan (Depkeu) diminta jangan menghambat pelayanan masyarakat khususnya di bidang transportasi terutama terkait dengan masih belum keluarnya 10 bus gandeng dari Pelabuhan Tanjung Priok.

Pemda Jakarta akan mengoperasikan bus gandeng. Untuk itu dipilih koridor V Kampung Melalyu-Ancol dengan rencana 30 bus gandeng. Kampung Melayu-Ancol dipilih karena jalannya lurus sehingga tidak sulit mengoperasikannya.
Realisasi bus gandeng secara bertahap. Tahap pertama 10 unit yang semula dioperasikan Juni 2007. Sampai sekarang belum terealisasi karena busnya masih tertahan di gudang Tanjung Priok karena hingga kini belum ada keputusan, apakah masuk barang mewah atau barang untuk pelayanan masyarakat.
(andreas piatu)

10 Bus Transjakarta Ditahan di Priok
Laporan Wartawan Kompas Pascal S Bin Saju

JAKARTA, KOMPAS- Sepuluh bus gandeng atau articulated bus eks Cina untuk melayani jalur khusus bus atau busway transjakarta pada Koridor V, Jakarta masih ditahan pihak Bea dan Cukai Tanjung Priok. Penahanan terkait belum tuntasnya pembayaran kepabeanan, tetapi juga sekaligus mengganggu pelayanan angkutan masal transjakarta.

Atin Sutisna, Direktur Utama PT Jakarta Megatrans selaku importir dan Rene Nunumete, Manajer Pengendalian Badan Layanan Umum Transjakarta mengungkapkan itu secara terpisah, Rabu (19/9) di Jakarta. Kepala Bagian Penyelidikan dan Pencegahan Bea dan Cukai Tanjung Priok, Heru Sulastyo mengakui adanya penahanan 10 bus itu.

Menurut Atin, 10 bus gandeng itu diimpor utuh dari Cina dan tiba di Tanjung Priok pada 21 Juni 2007, atau sekitar 2,5 bulan silam. Bus-bus tersebut merupakan bagian dari rencana untuk mengimpor 30 unit sesuai perjanjian kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta dan rencana impor, yang dilakukan pada Desember 2006.

Kata Atin, saat perjanjian dibuat, bus yang diimpor utuh itu diberi keringanan khusus yakni bea masuk lima persen. Meski demikian, karena busnya baru tiba pada Juni lalu, pihak BC malah mengenakannya dengan tarif normal yang jauh lebih tinggi, sekitar 40 persen. “Hal itu sangat memberatkan kami,” katanya.

Rene menjelaskan, bus gandeng itu hendak dioperasikan pada Koridor V yakni Kampung Melayu – Tanjung Priok. Penggunakan bus ini untuk meningkatkan kapasitas angkut, yakni mencapai 160 penumpang. Atin juga menambahkan, bus gandeng ini menggunakan bahan bakar gas yang lebih ramah lingkungan.

Keduanya mengakui, dengan tertahannya 10 bus itu jelas mengganggu pelayanan umum dengan bus transjakarta. Heru tidak merinci alasan penahanan bus-bus itu, kecuali mengatakan, “Urusan administrasi kepabeanan belum dituntaskan oleh pihak perusahaan pengimpor bus.”
more

19.8.07

187 busgandeng Volvo untuk busway

Melihat pelaksanaan sistem BRT di luarnegeri terkadang kita jadi iri. Rancangannya tampak lebih terencana, transparan, masyarakat dilibatkan — karena ya sasarannya memang untuk masyarakat, kenyamanan masyarakat. Pelaksanaannya lebih serius dan fokus, bukan model tambal sulam seperti yang kita jalani puluhan tahun ini.

Rancangan monorel mungkin menarik bagi semua orang. Subway? Yang terbayang mahalnya biaya dan lamanya pembangunan, sehingga kemacetan akan terus ada hingga tahun 2020, 2050, 2100. Bukankah biaya untuk monorel dan subway lebih baik digunakan untuk menyempurnakan sistem busway dan ruangpublik?
Busway jelas-jelas sudah berjalan dan sejenak kita pernah alami masa nyamannya transportasi publik di Jakarta. Sebaiknya diinvestasikan untuk hal-hal yang mendukung busway. Membeli bus yang lebih nyaman, jumlah bus yang pantas, insentif agar tercapai masa tunggu sependek mungkin, fasilitas Park and Ride yang memadai, ruang-ruang publik yang mendorong orang untuk meninggalkan mobilnya, kampanye, public exposition, dll. Satu urusan bisa jadi akan selesai tuntas dalam setahun ke depan.

Apakah suara para master transportasi publik kita kalah oleh suara pengusaha dan politikus? Sebaiknya masyarakat dilibatkan. Minta bantuan dari publik. Terkadang orang meremehkan publik yang dalam gambaran besarnya bagai kurang terdidik —karena kurangnya sosialisasi. Padahal banyak sekali Phd. Dr. DR. dan lainnya dengan keahliannya masing-masing yang bersedia menyumbang pemikirannya, demi kepentingan bersama...

187 busgandeng Volvo ini bukan untuk Jakarta, tapi untuk Santiago de Cali, Kolumbia (beda dengan Santiago di Chili). Dipesan pada Mei 2007 lalu. Luas kotanya sekitar 5juta km2 (Jakarta lebih dari 6,5juta km2), populasi hanya duajuta lebih jiwa.
Sistem transportasinya dinamakan Masivo Integrado de Occidente (MIO) yang dirancang 2004 dan mulai dibangun April 2006. Anggarannya 308juta dollar untuk: 49km busway (dari 78km jalan utama dan 116km jalan sekunder); 5 terminal utama, 4 terminal 77 stasiun; 655 halte; 31 jembatan penyeberangan; dll.
Koridor utama (troncale) dirancang khusus untuk busgandeng dengan kapasitas 60ribu penumpang per hari. Satu-satunya koridor dengan jalur khusus (busway). Ditopang dengan koridor-koridor Pretroncale dan Complementario tanpa busway.
Pengembangan MIO ini juga dibarengi dengan kampanye kultur bertansportasi, karena banyak hal baru yang perlu dipahami betul oleh masyarakat. Ini sebetulnya kelalaian yang sudah kita alami sendiri. Denah busway Jakarta saja —yang paling utama— baru diedarkan setelah tiga tahun berjalan (dan bukan oleh Pemda), apalagi hal-hal lain seperti tertib antri, akses penyandang cacat dsb.

Seharusnya ada gambaran konkrit, Jakarta yang seperti apa yang ingin dikembangkan. Disosialisasikan agar dipahami publik. Disiplin mulai ditegakkan. Hilangkan segala bentuk toleransi untuk suatu kesalahan. Gandeng masyarakat untuk ikut mengawal agar sasarannya tercapai.
Jika semuanya transparan, publik tentu memilih yang baik untuk publik secara utuh. Bukan untuk kepentingan segelintir pengusaha atau politik.
more

16.7.07

Bus gandeng bulan Agustus


Ini bukan bus gandeng TransJakarta, melainkan bus gandeng di Kanton, Cina.
Menurut Nurrachman, Kepala Dinas Perhubungan, bus gandeng akan mulai dioperasikan bulan Agustus nanti di koridor V, Ancol-Kampung Melayu. Setelah itu akan diterapkan di koridor I, Blok M-Kota. Kapasitas: 160-170 duduk, 40 berdiri.

Dikatakan bus-bus itu kini sedang menunggu Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dari Polda Metro Jaya.

Sepintar-pintarnya warga Jakarta, tetap perlu sedikit panduan untuk segala hal yang baru. Fotonya saja sulit didapat. Perlukah merekrut Public Relation Officer yang handal?


Yang ini adalah busgandeng yang beroperasi di Prancis. Produk Mercedes Benz model Citaro G, berbahan bakar gas dengan mesin Mercedes-Benz M 447 hLAG.

Bus-Way adalah sistem BRT di Nantes, Prancis, hanya satu koridor —koridor 4— dan 20 bus Citaro, mulai beroperasi sejak Nopember 2006. Koridor 4 panjangnya 8 kilometer dengan 15 halte, dari Nantes ke Porte de Vertou. Setiap harinya digunakan oleh sekitar 25.000 penumpang.

Busgandeng Citaro sepanjang 18 meter ini dicat iridium silver bergaris hitam dan kuning. Profilnya terinspirasi bentuk trem, panel di sisinya melewati atap untuk menutupi tanki gas. Di dalam ada enam kamera memantau pintu masuk, pintu keluar, area kursi roda dan interior secara keseluruhan. Juga ada empat denah rute Bus-Way, monitor 15 inci dan LED panel untuk iklan dan berita.
Ruang pramudi dan pintunya terisolasi dari area penumpang. Penumpang yang tidak memperoleh tempat duduk tidak akan bergelayutan, melainkan berpegang pada tiang-tiang yang ada di sandaran kursi.

Bus-Way Citaro bermesin Mercedes-Benz M 447 hLAG, dengan output 240 kW (326 tenaga kuda). Bahan bakarnya compressed natural gas (CNG), disimpan dalam tekanan 200 bar di delapan tanki yang terletak di atap, kapasitas 1.520 liter – cukup untuk sepanjang hari. Persneling otomatis dengan enam kecepatan.
more

9.4.07

Busgandeng Busway

Sebanyak 17 bus gandeng untuk busway koridor 5 (Ancol - Kampung Melayu) dijadwalkan tiba Juni 2007 mendatang.
Menurut informasi, kapasitas bus gandeng ini mampu mengangkut 160 penumpang; tigakali lipat dari bus TJ sekarang yang berkapasitas 55 penumpang.
Gambar ini adalah pelatihan pramudi busgandengnya Metropolitan Area Express (MAX) system, di Las Vegas, sama sekali ga ada kaitan dengan jenis busgandeng yang dipilih oleh Tije. Gambar ini dipilih sekedar informasi bagaimana pelaksanaannya di negara lain.
Kalau diteliti fotonya: di sana tidak perlu pembatas jalan, "hati-hati melangkah"nya tidak mengkhawatirkan, ada mikrofon untuk pramudi, ada informasi "Driver Training" di tempat informasi rute.
Info lainnya
more

26.8.04

Penerapan Bus Berekor

Daya Angkutnya Lebih Banyak dan Aman
Oleh D. Wibowo, I. P. Nurprasetio, & I. Nurhadi

Pikiran Rakyat — SARANA transportasi memegang peranan penting dalam kegiatan perekonomian, terutama transportasi darat. Dalam melakukan aktivitas ekonomi, manusia harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Perpindahan manusia ini harus didukung oleh sarana transportasi.

Kendaraan bermotor seperti sepeda motor, roda empat (sedan, minibus) dapat diproduksi dalam jumlah banyak. Meski demikian, jumlah produksi harus disesuaikan dengan kapasitas jalan. Artinya, agar sistem transportasi berjalan optimal, harus tercapai keseimbangan antara kendaraan dan jalan secara proporsional. Indikator proporsionalitas dalam hal ini adalah kelancaran lalu lintas. Apabila, sering terjadi kemacetan, maka kombinasi sarana-prasarana transportasi sudah tidak proporsional lagi atau jumlah kendaraan terlalu besar dibandingkan kapasitas jalan raya.

Agar kegiatan transportasi masyarakat menjadi cepat dan efisien, sistem transportasi harus didesain sebaik mungkin. Ini penting agar tidak terjadi hal buruk seperti kemacetan lalu lintas.
Untuk mencapai kombinasi sistem transportasi yang proporsional, diperlukan sarana transportasi yang dapat mengangkut penumpang dalam jumlah banyak, sehingga ruas jalan yang ada digunakan seefisien mungkin (jumlah orang per satuan luas jalan harus optimal). Selain mampu mengangkut orang dalam jumlah besar, sarana transportasi ini dituntut untuk dapat bergerak cepat. Sarana transportasi ini dikenal sebagai MRT (Mass Rapid Transit).

Meskipun disediakan MRT yang mampu mengangkut orang dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat, manusia tetaplah manusia. Manusia tetap memiliki pilihan dan bebas untuk memilih sarana transportasi yang mereka inginkan. MRT harus didesain sedemikian rupa sehingga orang-orang suka dan ingin menaikinya.

Teknologi MRT yang ada saat ini sangat beragam, diantaranya adalah bus kota, bus bertingkat, trem, kereta (baik itu KRD, KRL, kereta bawah tanah, monorail), dan bus gandeng (Articulated Bus). Agar kegiatan ekonomi berjalan lancar, harus dipilih MRT yang sesuai dengan karakteristik wilayah tempat MRT itu. MRT pun harus didesain sedemikian rupa agar orang suka menaikinya, sehingga jumlah kendaraan pribadi di jalan raya berkurang, yang akan mengurangi peluang terjadinya kemacetan.

Pada tulisan ini, bus gandeng dipilih sebagai usulan sarana transportasi massal yang cepat (MRT) untuk diterapkan di Indonesia. Berikut ini adalah beberapa kelebihan bus gandeng dibandingkan sarana MRT yang lain:

Dibanding bus standar:

  • bus gandeng memiliki kapasitas angkut yang lebih besar (lebih dari 100 orang).
  • bus gandeng memiliki lantai bus yang lebih rendah, sehingga mempercepat pertukaran penumpang untuk naik-turun.
Dibanding bus bertingkat:
  • memiliki lokasi titik berat yang lebih rendah (lebih stabil).
  • tekanan ban ke jalan lebih rendah (tidak cepat merusak jalan).
  • kecepatan maksimum lebih tinggi.
  • tidak memerlukan tangga (tidak membuat orang lelah).
  • tidak akan menabrak jembatan atau kabel listrik yang rendah.
Dibanding tram:
  • tidak memerlukan lintasan khusus (rel) dan instalasi listrik (initial cost lebih rendah).
  • tram memecah lalu lintas, sehingga sulit diterapkan di Indonesia.
  • bus gandeng memiliki karakteristik pengereman yang lebih baik.
Dibanding kereta bawah tanah dan monorail:
  • kereta bawah tanah dan monorail memerlukan initial cost yang sangat tinggi, perlu membangun lintasan bawah tanah, jembatan, rel, serta instalasi listrik.
  • bus gandeng memiliki karakteristik pengereman yang lebih baik.
  • bus gandeng mudah berhenti di mana pun manakala ada masalah.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bus gandeng memerlukan investasi yang relatif rendah dan memiliki daya angkut yang sama dengan bus bertingkat dengan beberapa kelebihan.

Di Indonesia

Articulated Bus (AB) atau bus gandeng adalah bus yang berbadan dua dan memiliki sambungan di antara kedua badan bus tersebut untuk memudahkan bus berbelok. Sambungan itu disebut articulated joint. Dengan memiliki dua badan bus, AB dapat mengangkut orang lebih banyak. AB juga memiliki lantai yang rendah (low floor/ low deck buses) sehingga memudahkan penumpang untuk naik-turun dan mempercepat proses pertukaran penumpang.

Secara umum, AB terbagi menjadi dua tipe yaitu penarik (puller) dan pendorong (pusher). Berikut ini adalah penjelasan kedua tipe AB dan karakteristik umumnya :

Tipe "puller"
  • engine berada di unit depan (lead unit), di bagian tengah.
  • roda penggerak adalah roda belakang lead unit.
  • unit belakang (trailer) menggunakan steering axle.
  • ruang belok (turn corridor) lebih kecil dibanding pusher.
  • unit belakang "membuang ke luar" saat belok (rear corner excursion).
Tipe puller ini telah dinyatakan kedaluwarsa karena beberapa kelemahan, yaitu : kabin penumpang bising karena suara mesin di bawah lantai.

Tipe "pusher"
  • engine berada di unit belakang (trailer).
  • roda penggerak adalah roda pada trailer.
  • memerlukan active torque control untuk mengakomodasi manuver berbelok.
  • ruang belok (turn corridor) lebih besar dibanding pusher
  • bagian belakang unit depan terdorong ke luar saat belok (body intrusion).
Dewasa ini, tipe pusher-lah yang banyak digunakan di negara-negara maju, karena secara teknis kinerjanya lebih baik dibanding puller. Kabin penumpang tidak bising karena letak mesin di bagian belakang bus serta lantai bus yang rendah dapat dibuat lebih mudah karena tidak terhalang posisi mesin.

Bagian paling krusial dari bus tipe pusher adalah sambungannya (articulated joint). Sambungan pada pusher harus dilengkapi dengan modul active torque control. Modul ini berfungsi untuk mempertahankan sudut di sambungan agar bus dapat berbelok sebagaimana mestinya, terutama saat bus dipercepat atau diperlambat (direm) sambil berbelok. Modul ini merupakan investasi besar pada AB tipe pusher, selain chassis bus yang harus didesain untuk memenuhi kondisi low floor, poros roda penggerak yang bertipe drop axle, serta instrumen kontrol yang lebih rumit dibandingkan bus biasa dan tipe puller.

Dengan adanya modul active torque control dan peralatan lain, pusher menjadi tipe AB yang terbilang mahal. Berkaitan dengan ini, diusulkan AB tipe lain dengan tujuan menekan biaya pembuatan AB untuk diterapkan di Indonesia.

Bus gandeng tipe lain ini mengambil konsep modifikasi bus standar untuk dijadikan bus gandeng, dengan basis truk gandeng yang sudah beroperasi di Indonesia, dan dengan lantai bus yang lebih rendah. Berikut adalah penjelasan usulan bus gandeng dan perbandingannya dengan tipe pusher (tabel perbandingan pusher dan 4 axle).

Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa 4-axle memerlukan investasi yang lebih rendah dibanding pusher, serta memiliki beberapa kelebihan spesifik, di antaranya :
  • Memberi kesempatan pada industri karoseri di Indonesia untuk ambil bagian dalam pengembangan bus gandeng sebagai langkah awal pengembangan bus gandeng di Indonesia. Trailer dapat dilepas dari lead unit sehingga dapat digunakan sewaktu-waktu tanpa trailer .
  • Apabila dimungkinkan, trailer dan lead unit dapat menjadi sarana untuk memisahkan penumpang pria dan wanita, guna mencegah kejahatan.
Atas dasar pembahasan dan pertimbangan dalam artikel ini, bus gandeng tipe 4-axle direkomendasikan sebagai tahap awal pengembangan bus gandeng di Indonesia dalam rangka memenuhi tuntutan (demand) masyarakat akan sarana transportasi.

Penulis Prodi Teknik Mesin, FTI-ITB.
more