Showing posts with label groups. Show all posts
Showing posts with label groups. Show all posts

18.7.07

Max 85 orang

Pagi ini saya naik TB 082 dari Kalideres, dan sudah dipasang pengumuman max 85 orang dipintu samping sopir. Tetapi sampai di halte sumur bor 7 orang maksa masuk sekaligus padahal satgas sudah bilang : 2 orang saja bagi2 dengan halte depan.
Tetapi orang2 tersebut tidak peduli sampai akhirnya ada penumpang yang kakinya terjepit pintu dan penumpang yang diluar malah mengucapkan kata2 kotor kepada satgas.

Alhasil terjadi adu mulut antara satgas dan penumpang di halte tersebut. Kemudian penumpang di bis minta ke ibu sopir untuk segera jalan daripada terjadi ribut besar.
Untuk halte selanjutnya bu sopir memutuskan tidak mengangkut penumpang, walaupun disambut dengan teriakan para penumpang di halte2 tersebut (yah mungkin karena mereka sudah terlalu lama nunggu bus, yang datang terlambat karena jalurnya dipenuhi motor yang menyemut ...).

Sampai dengan halte Jembatan Gantung dipaksakan menaikkan 1 penumpang teapi yang terjadi tas penumpang tersebut terjepit pintu.

Yang saya heran dalam 3 hari ini (mulai hari senin), jalur di kor 3 makin parah lho... tiap pagi dan sore dipenuhi oleh kendaraan pribadi (jalur tomang) dan dipenuhi sepeda motor untuk jalur daan mogot.
Bahkan beberapa hari ini untuk sore hari di daan mogot jalur busway dipenuhi bis mayasari, kopaja dan juga angkutan plat hitam.
Lalu pada kemanakah Bapak2 polisi pengatur lalu lintas itu.........?
Untuk kemarin sore di jalur Sangaji - Tomang Raya justru Pak polisi2 yang mengarahkan mobil2 pribadi masuk jalur busway.
Apakah artinya hasil Muspida kemarin sudah tidak berlaku ya...???

Duwi Suprihatin dari suaratransjkarta
more

Gentleman

Saya tulis kemarin malam, tapi baru sempat posting pagi ini.
Salam (dc)


Herlina? Hervina? Herawati? Saya coba mengingat nama yang tertulis di dadanya satgas itu, tapi tetap saja saya tidak dapat mengingat namanya dengan benar. Yang teringat oleh saya hanyalah tindakannya menyikapi keadaan yang dihadapinya pada pagi tadi.

Karena suatu janji dengan klien yang berkantor di dekat halte Setiabudi, hari ini saya pergi menggunakan TiJe. Pagi tadi sekitar 6.55 halte Pulogadung terasa agak padat. Tidak nampak satupun bus TiJe koridor IV yang siap berangkat.

Ketika datang bus bantuan elang kuning (lagi?), dengan cepat bus segera terisi penuh. Tidak penuh sekali karena banyak calon pengguna yang kemudian turun lagi untuk menunggu bus berikutnya.
Mulai dari halte Pasar Pulogadung, bus sedikit demi sedikit bertambah padat.
Di halte TUGas ada beberapa pengguna yang naik. Kemudian tiga atau empat orang naik dari setiap halte yang disinggahinya. Halte Layur, halte Pelodrome, halte Sunan Giri dst.
Pengguna yang naik dari halte-halte tersebut lebih banyak dibandingkan dengan pengguna yang turun. Akibatnya semakin lama, di dalam bus semakin padat.

Sampai di halte transfer Matraman, TiJe yang saya naiki berhenti di pintu turun halte tersebut. Banyak pengguna yang turun di tempat ini. Dan karena kepadatan pengguna di dalam bus, pengguna yang turun harus bersusah payah untuk mencari jalan keluar dari bus. Cukup lama bus ini berhenti untuk menurunkan pengguna.

Kemudian ketika pintu hendak ditutup dan bus akan maju untuk melayani pengguna yang akan boarding, seorang ibu berkacamata melangkah untuk masuk ke dalam bus. Herlina/Hervina/ Herawati, atau siapapun nama satgas onboard pagi itu, sangat terkejut menghadapi situasi itu. Ia berseru mencegah pramudi untuk tidak meneruskan menutup pintu bus. Dan dengan nada bergetar, ia menegur ibu tersebut supaya tidak masuk melalui pintu itu, tapi menggunakan pintu satunya, pintu boarding. Sejenak ibu tersebut sempat kebingungan, sampai akhirnya seorang satgas halte menjelaskan bahwa ibu tadi terpaksa keluar dari bus untuk memberi jalan kepada pengguna yang akan turun. Ibu tersebut kemudian di persilahkan untuk naik kembali.

Yang menarik perhatian saya dan yang tidak saya lupakan adalah ketika satgas wanita tersebut dengan suara mantap dan tulus, meminta maaf kepada ibu tadi. Walaupun ia seorang wanita, tapi ia sangat gentleman. Ia mau mengakui kekeliruannya dan tidak menimpakan kepada pihak lain. Ia berani memperbaiki dirinya sendiri.

Sesaat sebelum kor IV - kor VII diluncurkan saya sempat posting tentang sikap kita yang cenderung untuk dengan mudahnya menimpakan kesalahan pada orang lain (http://finance.groups.yahoo.com/group/suaratransjakarta/message/10907). Sekarangpun saya merasa suasana serupa terjadi lagi di dalam komunitas kita.

Ketika semakin banyak pengguna TiJe dan banyak terjadi kepadatan di halte maupun di dalam bus, kita menyalahkan operator yang melayani koridor tersebut.
Ketika kepada operator dipertanyakan tentang kekurangan pelayanan busnya, mereka mengalihkan tanggung jawabnya ke BLU yang mengatur operasional lapangan.
Ketika pengaturan yang dilakukan oleh BLU-TJ ini dipertanyakan oleh pengguna, BLU-TJ menyalahkan jumlah subsidi yang dikurangi, sehingga mereka harus berhemat.
Ketika pengurangan subsidi ini dipertanyakan kepada pemda, mereka berlindung dibalik DPRD yang telah telah menyetujuinya.
Ketika kepada DPRD ditanyakan tentang pemotongan subsidi, mereka menyalahkan sistem tarif flat dan tarif yang terlalu murah.
Kalau kemudian DPRD menyetujui kenaikan tarif, mereka bisa beralasan kenaikan itu konsekwensi dari tuntutan pengguna.
Selanjutnya pengguna akan menyalahkan siapa lagi?

Seorang rekan saya, bila kita sedang mengadakan evaluasi untuk perbaikan suatu proses dan menemukan suatu kesalahan, sering bercanda dengan mengatakan: "Pasti bukan saya". Kecenderungan untuk menimpakan kesalahan atau kelemahan pada pihak lain dan tidak mau memperbaiki diri, nampaknya sudah menjadi fenomena yang terjadi di masyarakat kita.
Maka bila pagi ini seorang satgas berani mengakui kesalahannya dan minta maaf, itu merupakan hal yang sangat menyejukkan hati.

Saya berharap setiap pihak yang terkait dalam masyarakat transportasi ini juga belajar untuk tidak menyalahkan pihak lain dahulu sebelum mencoba untuk mengadakan perbaikan yang dapat dilakukan di dalam lingkup tanggungjawabnya masing-masing.
Salam (071707 dc).

david chyn dari suaratransjakarta
more

12.7.07

Keadilan suatu relatifitas

david chyn dari suaratransjakarta:

Hari-hari ini adalah hari libur untuk sebagian besar anak sekolah. Bagi mereka yang beruntung ada yang menikmati liburannya di Singapura atau ikut tur ke negara-negara lain. Sedangkan bagi mereka yang orangtuanya kurang beruntung karena tidak mempunyai waktu atau tidak mempunyai ¢waktu¢ ( baca: ¢waktu¢ = uang, ingat time is money), terpaksa ikut ¢ngantor¢. Maksudnya, pergi bersama ke kantor orangtuanya. Bermain di taman sekitar kantor atau pergi ke mall dekat kantor orangtuanya, menjadi alternatif untuk menghilangkan kejenuhan di rumah.

Siang ini saya melihat dua anak lelaki kakak-adik bersama ayahnya, sedang menunggu makanan, sate padang. Ketika piring dari daun pisang yang berisi sate tersebut datang, sempat terjadi keributan kecil. Si kecil yang menerima lima tusuk sate tampaknya protes ke ayah mereka. Ia ingin mendapatkan sepuluh tusuk sate, seperti kakaknya. Ia merasa diperlakukan tidak adil oleh ayah mereka. Seharusnya ia harus diberi sate yang sama seperti kakaknya. Keadilan ,menurutnya, adalah bila ia diberi hal yang sama.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah melihat keadaan yang hampir bertolak belakang. Ini tentang dua anak laki-laki, kakak-adik juga. Mereka berdua berjalan beriringan. Mereka membawa koper yang sama, koper pakaian mereka masing-masing. Si adik juga tampak bersungut-sungut, karena menurutnya koper yang dibawanya terlalu berat buat dia. Menurutnya, supaya terasa adil, seharusnya sebagian bawaannya diangkat oleh kakaknya. Atau setidaknya, ia membawa koper yang lebih kecil dari pada koper yang dibawa kakaknya. Menurutnya, keadilan adalah bila yang kuat membantu yang lemah.

Di dalam poligamipun disyaratkan bahwa seorang suami harus berlaku adil terhadap istri-istrinya. Masalahnya, bagaimana yang disebut adil? Apakah adil bila setiap istri mendapatkan satu rumah dan satu sepeda motor, sedangkan yang seorang mempunyai lima anak, sedangkan yang seorang tanpa anak? Keadilan itu relatif.

Beberapa saat lalu dalam diskusi tentang tarif, sempat ada wacana untuk penyesuaian tarif TiJe dengan argumentasi masing-masing. Detik.com kemarin menurunkan berita tentang kemungkinan bangkrutnya TB, bila terus diadakan pembatasan bus yang beroperasi oleh BLUTJ untuk menekan besarnya subsidi. Yang kemungkinan berujung pada kenaikan tarif TiJe.

Tapi posting ini tidak bermaksud sama sekali untuk semata-mata menjadi alasan untuk menaikan tarif. Kenaikan tarif tidak boleh juga menjadi alasan untuk meningkatkan kenyamanan transportasi umum. Kenyamanan dan keamanan pengguna adalah hal yang utama yang harus tetap diusahakan. Kalau kemudian kemampuan besarnya subsidi dari pemda untuk TiJe terbatas dan harus ada penyesuaian tarif. Maka hendaknya penyesuaiaan tersebut harus tetap memperhatikan rasa keadilan. Mengapa ¢rasa¢? Karena sekali lagi, keadilan adalah relatif.

Anggaran transportasi keluarga sebesar 30% bahkan 20% dari UMR untuk sebagian orang terasa sangat berat, sedangkan nilai absolutnya bagi sebagian orang yang lain terasa tidak ada artinya. Jadi subsidi yang diberikan oleh pemda untuk TiJe seharusnya diterima oleh orang yang tepat, yang layak mendapat subsidi.

Pengguna mobil akan beralih menjadi pengguna TiJe, bila faktor kenyamanan (temasuk di dalamnya faktor ketepatan) dan keamanan dapat dijaga. Sedangkan tarif sampai Rp 4500 (harga 1 liter premium) setiap 10 kilometer, menurut saya masih dapat diterima, bila faktor setara dengan kendaraan pribadi dapat diperolehnya.

Sedangkan pengguna tertentu seperti pelajar berseragam dan lansia tetap diberikan subsidi yang lebih. (Alasan mengapa hanya kedua golongan ini yang perlu mendapat subsidi, pernah saya kemukakan pada posting yang lalu, yaitu: lebih sederhana mengontrolnya dan juga untuk mendorong pengurangan penggunaan mobil pribadi untuk mengantar kedua golongan tersebut).

Semoga subsidi untuk masyarakat transpotasi dapat diterima dengan adil.
Salam (071107 dc)

Looking Destiny:

Perlakuan BLU Tije dan Dishub terhadap operator sangat tidak adil. Tadinya operator disuruh menambah armada secepatnya. Namun, sekarang setelah operator dengan bersusah payah (ngutang sana sini) telah berhasil memenuhi kewajibannya untuk memenuhi target jumlah armada dengan modal yang sangat besar, malah armada mereka tidak boleh beroperasi. Para investorpun yang telah menanamkan modalnya di para operator dan kosorsium tentunya cemas. Inilah salah satu contoh kecil tidak adanya kepastian dan keamanan dalam menanamkan modal di negeri ini. Maka tak heran jika para investor enggan untuk menanamkan modalnya di negeri ini.

Sangat tidak adil juga bagi kita-kita para pengguna Tije. Di satu sisi kita dipaksa untuk berlama-lama menunggu Tije, berdesak-desakan (sampai ada yang pingsan), dorong-dorongan, akibat langkanya armada, karena dikandangkan oleh BLU Tije dengan alasan menghemat subsidi. Sementara, di lain pihak, anggaran alokasi APBD sebagian besar malah dianggarkan untuk baju dinas gubernur (mencapain milliaran rupiah/tahunnya), DPRD beli mobil dinas dan jalan-jalan studi banding yang ga jelas, dan masih banyak lagi pengeluaran yang ga penting. Bayangkan jika pengeluaran-pengeluaran yang ga penting itu bisa dialokasikan untuk subsidi Tije, pasti kita semua tidak sengsara seperti sekarang ini.

Yang sudah pasti bisa ditebak, keputusan Bang Yos nantinya adalah menaikkan tarif Tije, mungkin menjadi Rp. 5000,- hingga Rp. 7000,- dengan alasan untuk menutupi subsidi yang kurang demi menjaga kelancaran beroperasinya Tije. Mungkin solusi ini kurang populer, tapi jika diimbangi dengan pelayanan yang baik, misalnya menunggu bus di halte maksimal 3 menit, tidak berdesak-desakan, sarana dan prasana halte baik (tidak ada halte yang gelap, plat yang bolong, dll), pelan-pelan masyarakat bisa menerimanya, dan jika kenyamanan ini nantinya benar-benar terwujud, akan banyak pengguna mobil pribadi yang berpindah menggunakan Tije, sehingga kemacetan dan kesemrawutan di jalan pun akan berkurang. Amin....


more

6.7.07

Kuliner Busway

Mo nambahin daftar wisata kuliner aja.

Ada temen yang bilang di Pasar Baru ada tauge goreng yang enak banget.
Kemaren nyobain. Ternyata bener enak banget..Harganya cukup
terjangkau..Udah sama tehbotol dan kripik (emping) harganya total
sepiring Rp.10rb, itu kenyang banget. Rame banget..nunggu duduknya
lumayan lama. Konon katanya SBY suka nyuruh ajudannya bungkus untuk
dibawa ke Istana...Lokasinya persisnya di depan SMU 20 Pasar Baru.
Bentuknya warung kakilima gitu. Walking distance kq dari Halte Pasar Baru.

Yang kedua, di Gajah Mada Plaza di lantai 3 foodcourt, ada stand yang
jual sop buntut dan gado-gado di pojok foodcourt, dekat eskalator
(lupa nama standnya). Gado-gado dan sop buntutnya enak banget.
Porsinya banyak dan harganya terjangkau. Selain itu, ada stand yang
jual tahu gejrot. Rasanya enak banget. Jangan lupa juga es cendolnya
juga patut dicoba. 3 tempat di Gajah Mada itu aja yang rasanya worth
it untuk dicoba. Tinggal nyeberang aja dari halte Sawah Besar.

Yang lain ada masukan?

b2150st - suaratransjakarta more

Implementasi Muspida 8


Duwi Suprihatin dari suaratransjakarta :

Yup, betul...nyatanya kemarin sore waktu lewat jalur tomang sekitar pukul 18.30 jalur busway masih dipenuhi mobil pribadi yang diarahkan polisi untuk masuk. Ditambah lagi disepanjang Daan Mogot masih dipenuhi motor yang berseliweran padahal jalur reguler ga macet loh...
Dan pagi ini Elang kuning yang saya tumpangi juga harus antre dibelakang mobil pribadi sampai dengan lampu merah cideng :((.

Dan petugas DisiHub yang selalu berjaga & menutup mobil pribadi yang mau masuk jalur busway di ujung jalan Tomang Raya kok pagi ini tak nampak satupun ya..?? :(( more

40 menit menunggu

w32nimda dari suaratransjakarta :

Slamet malem para pembaca...
saya cuma mau uneg2 niih...

Sejak jalan di depan halte senen menuju atrium di cor.. kok busway jadi makin tersendat yaa...
Saya biasanya nunggu di halte juanda paling lama sekitar 30 menit..
Tapi sejak jalan di lampu merah halte senen menuju atrium di cor...
Wueleh2...
Bisa sampai 40 menit...
Bahkan tadi para penumpang yang menunggu diluar halte sampai menumpuk..
Kapan ya selesai di cor...
Soalnya saya liat, tiap busway mau pindah jalur, selalu terhambat kendaraan umum dan sialnya kena lampu merah..
Jadi bisa dibilang tiap 2 bus kena lampu merah...
Ini mungkin masalah yang tidah mudah..
Tapi sangat merugikan para penumpang.. Bahkan beberapa hari lalu ada ibu2 yang pingsan karena menunggu...

Mudah2an uneg2 saya ada yang dengerin dehh.. more

5.7.07

Implementasi Muspida 7


Agriadi Yulianto dari suaratransjakarta :
menanggapi pertanyaan arianto.nugroho tentang penerapan kesepakatan Muspida tentang sterilisasi busway dari kendaraan lain:

Tadi pagi sktr jam 8an di sekitar pasar rumput (dr arah pulogadung),
mobil2 dan pastinya motor2 masih berseliweran di jalur busway, dan ga
ada polisi satupun.
Mirisnya lagi yg lewat jalur busway BMW 318i keluaran 2003, Honda
Accord VTiL keluaran 2003, Opel Blazer LT keluaran 2005,paling
belakang Kijang LGX 'plat aneh'. hiks hiks....
agriadi more

Implementasi Muspida 6


b2150st dari suaratransjakarta :
menanggapi pertanyaan arianto.nugroho tentang penerapan kesepakatan Muspida tentang sterilisasi busway dari kendaraan lain:

Tadi teman saya cerita, dia lewat Tomang Raya pas waktu Maghrib. Jam segitu di Tomang Raya macetnya selalu parah banget, ga bergerak. Tadi juga ga bergerak dan untuk sampai ke Taman Anggrek butuh waktu sejam.
Tapi yang membuat saya terkagum dari ceritanya dia adalah jalur busway mulai dari jalan Suryopranoto hingga Tomang Raya, ga ada satupun mobil pribadi yang masuk. Jalur busway steril. Padahal jalanan macet banget loh. Jalanan reguler ga bergerak sama sekali. Transjakartapun melaju dengan kencangnya bebas hambatan...whusssss.....
Semoga jalur busway yang steril dapat terus dipertahankan sepanjang masa. Amin.. more

Laporan situasi


Looking Destiny dari suaratransjakarta melaporkan:

Selama perbaikan jalur, jalannya Tije memang sangat terhambat. Di beberapa halte manuvernya susah sekali. Pernah saya liat di halte RSPAD, busnya ampe mundur, karena pintu bus ga pas ma pintu halte. Ini tentu makan waktu yang tidak sebentar.

Belom lagi perbaikan jalur di jalan Veteran, depan Istana Negara, lamanya minta ampun, dan macet banget. Banyak yang tersendat disitu sebelum masuk di HCB.

Tapi, ada kabar baik untuk hari ini. Katanya seluruh jalur udah mulai steril. Teman saya tadi cerita, di Tomang Raya yang biasanya parah karena mobil masuk di jalur busway, tadi ga ada satu mobil pribadipun yang masuk, walaupun Tomang Raya sangat macet dan tidak bergerak. Semoga ini bisa tetap dijaga. more

Implementasi Muspida 5


Ridwan Fauzi Rakhman dari suaratransjakarta :
menanggapi pertanyaan arianto.nugroho tentang penerapan kesepakatan Muspida tentang sterilisasi busway dari kendaraan lain:

Wuih.. kalo tertahan di Tomang Raya gara-gara mesti ngantri dengan kendaraan pribadi sangat menyebalkan sekali. Abis ngantri lama, ditambah aroma kali yang bau plus pul pres bodi di dalam busway alias penuh banged. Klimaksnya macet di Tomang Raya. Ditambah lagi ngeliat tontonan kendaraan pribadi yang nyerobot jalur busway ternyata hanya diisi satu-dua orang. Hiks.. dimana hati nurani orang -orang yang bikin jalur busway 'diperkosa' rame-rame.
Salam,
[ridwan]
more

Implementasi Muspida 4



duwi suprihatin dari suaratransjakarta :
menanggapi pertanyaan arianto.nugroho tentang penerapan kesepakatan Muspida tentang sterilisasi busway dari kendaraan lain:

Pak Ariyanto,
Kondisi di koridor 3, kemarin sore semakin parah.Pulang kantor kemarin saya jam 18.10 sudah masuk Elang Kuning sekitar pukul 18.45 saya masih tertahan di Biak disebabkan jalur tersebut dipenuhi mobil pribadi.
Setelah lampu merah Biak kita dikasih kesempatan untuk lewat jalur arus balik sampai lampu merah Cideng. Tetapi di jalur Tomang Raya kita juga harus antre dengan mobil pribadi. Alhasil Elang Kuning baru tiba di Xderes sekitar pukul 19.30, padahal biasanya perjalanan Xderes - Harmoni paling lama 1 jam.
Situasi di Daan Mogot pagi ini juga tak berubah, jalur busway masih dipenuhi motor yang menyemut.

Regards,
Duwi more

Koridor 4


xunarto rusli dari suaratransjakarta:

Kemaren sore, saya dari naik Koridor 4 dari Halte Pasar Pulogadung
sampai ke Dukuh Atas 2. Dan lagi lagi di depan Landmark, terdapat
2 bis Transjakarta yang ngetem di jalur busway (padahal penumpang menumpuk
di halte), sehingga bis yang saya tumpangi tidak bisa melintasi jalur tersebut dan harus
melewati jalur reguler yang pada saat itu macet sekali.

Yang lebih membuat saya dongkol, setelah bis yang saya tumpangi ini hendak
berbelok kiri ke arah halte, kedua bis Transjakarta yang ngetem di jalur
busway itu jalan, dan ikut berbelok ke arah halte. !!!@$#@*&#^&*^#@ more

4.7.07

Implementasi Muspida 3


david chyn dari suaratransjakarta :
menanggapi pertanyaan arianto.nugroho tentang penerapan kesepakatan Muspida tentang sterilisasi busway dari kendaraan lain:

Benar, ternyata Pulogadung ke TUGas itu jauh sekali.
Pagi tadi TiJe yang saya tumpangi memerlukan waktu hampir 20 menit untuk keluar dari terminal Pulogadung dan 30 menit untuk mencapai TUGas. Hanya seorang petugas dengan seragam Dishub yang mengatur kekusutan di jalur keluar terminal Pulogadung dan tidak ada seorang polantaspun di mulut terminal.
Ada juga empat atau lima orang petugas Dishub yang berdiri-diri di pertigaan pasar Pulogadung sambil memegang HT, tetapi tidak melakukan sesuatupun terhadap mikrolet dan bus ynag berhenti dan menaikkan penumpang di jalur busway.
Pada sekitar jam 18.00an, Tampak banyak polantas di sekitar Tugu Tani, dan persilangan jl. Kwitang-Kwini. tapi mereka tidak bereaksi atas penyerobotan yang dilakukan di jalur busway.
Waktu tempuh Pulogadung ke TUGas pagi ini sangat lama, tetapi tampaknya lebih lama lagi waktu tempuh keputusan dari pertemuan Muspida di Merdeka Selatan kemarin ke jalanan/jalur busway.
Salam (dc) more

Implementasi Muspida

arianto.nugroho dari suaratransjakarta:

Hallo2 ..
Setelah kemaren ada muspida dan hasilnya adalah kesepakatan untuk
men-sterilkan jalur busway, gimana implementasinya ?? gimana
pengalaman rekan-rekan pagi ini ??
saya sendiri di koridor 6, masih ada motor masuk .. di ruas mampang
prapatan sebelum lampu merah gatsu, dari arah kuningan ke ragunan
masih ada mobil yg masuk, di jalur saya sendiri kurang tahu, karena
posisi saya yg ditengah-tengah jadi gak bisa liat depan maupun belakang .. more

Implementasi Muspida 2


yanto tri dari suaratransjakarta :
menanggapi pertanyaan arianto.nugroho tentang penerapan kesepakatan Muspida tentang sterilisasi busway dari kendaraan lain:

Halo pak Arianto,
kalo saya di koridor 4 seperti biasa tuh, ga ada yang berubah..
Dari perempatan Matraman (turunan flyover) sampai belok jalan Tambak tetap aja saingan dengan mobil motor..(walaupun pendek, tapi kan tetep ada tuh tanda dilarang masuk di atasnya..), juga jalur sebaliknya dari Tambak mau belok ke arah Matraman, klo yang ini motor yang menyemut.
Dari pertigaan menjelang Pasar Rumput, seperti biasa juga, motor yang ga mau kena macet masuk ke jalur busway dg leluasa..
Tapi entah kenapa hari ini ketemu petugas2 DisHub, tapi bukan di jalur busway...=)
memang kesepakatan siy, tp klo ga diimplementasikan, ya sama aja...=(
tri. more

11.4.07

Joggling

Dari suaratransjakarta, diposting oleh david chyn

Setelah melalui kesibukan selama seminggu penuh, saya menyempatkan diri untuk melepaskan kepenatan dengan duduk di depan televisi. Tanpa punya pilihan acara khusus, saya coba memindai setiap stasiun yang ada.
Sejenak saya berhenti pada suatu tayangan tentang akrobat. Tampak seorang pemain sedang bermain joglling. Dengan tangan kanannya ia melemparkan pin bowling nomer satu ke atas. Dan sebelum ia menangkapnya kembali dengan tangan kirinya, ia sempat memindahkan pin bowling nomer dua yang ada di tangan kirinya ke tangan kanannya.
Pin bowling nomer dua inipun kemudian dilemparkan ke atas untuk ditangkap lagi dengan tangan kirinya. Tampak kedua pin bowling tersebut berputar melayang dari tangan kanan
ke atas, ke tangan kiri, ke tangan kanan kemudian melambung ke atas lagi dan terus berulang.
Permainan bertambah seru ketika pemain tersebut tidak hanya menggunakan dua pin bowling saja, tapi setiap saat ditambah satu lagi sampai akhirnya menjadi enam atau tujuh atau delapan.

Saya tidak konsentrasi menghitungnya lagi karena pikiran saya berpindah pada masalah antri dan kepadatan di halte (transfer) TiJe.
Mengapa kita harus antri di halte? Karena kita datang pada waktu yang tidak tepat (saat bus TiJe tidak tersedia).
Mengapa terjadi penumpukan pengguna di halte (terutama halte transfer)? Karena pengguna dari koridor yang hendak transfer dan turun di halte tersebut lebih banyak daripada kapasitas angkut bus koridor terusannya. Inbound ke halte lebih banyak daripada outbound nya.

Kalau ada rekan miliser yang mengusulkan penambahan jumlah armada suatu koridor untuk mengurangi kepadatan di halte, menurut saya, itu hanya akan efektif hanya pada halte awal (terminal keberangkatan) dan halte antara saja. Sebaliknya pada halte transfer (DukuAtas2, Halimun, Senen, Kampung Melayu etc.), seperti yang dikeluhkan rekan miliser tersebut, penambahan armada, sekali lagi menurut saya, tidak selalu berarti akan mengurangi kepadatan halte tersebut.

Ada kemungkinan penambahan armada, malah dapat menyebabkan kepadatan yang lebih parah di halte tersebut. Bayangkan kalau armada suatu koridor yang menurunkan penumpang transfer bertambah banyak, dan ada keterlambatan sedikit saja dari armada koridor terusannya, halte transfer tersebut dalam sekejab akan dijubeli pengguna.

Jadi untuk menghindari antrian dan penumpukan pengguna di suatu halte tranfer, menurut saya, kuncinya adalah koordinasi dan ketepatan sinkronisasi. Seperti pemain akrobat yang hanya dengan dua tangannya dapat memainkan enam, tujuh atau delapan pin bowling sekaligus. Pin di tangan kanannya harus segera dipindahkan.

Di suatu halte transfer, pada saat yang sama (atau paling lama selisih beberapa detik sesuai dengan kapasitas halte transfer tersebut) harus ada bus-bus dari koridor yang berlainan yang berhenti di halte tersebut yang masing-masing siap menerima/mengangkut pengguna yang transfer.

Di dalam kenyataan masalahnya menjadi tidak sederhana, karena jumlah pengguna antar koridor tidak berimbang (karena karakteristik jalurnya, karena letak halte transfer yang bukan terminal, faktor waktu etc.) dan hambatan jalur yang sulit diprediksi. Juga karena sifat interkoneksitas antar koridor. Ketidakseimbangan suatu segment dalam satu koridor atau koridor itu sendiri, dapat mempengaruhi koridor lain. (http://finance.groups.yahoo.com/group/suaratransjakarta/message/10278)
Apalagi tidak adanya data OD yang akurat dari tiap segmentnya.

Bulan April sampai Juni 2007 ini, dijanjikan akan ada penambahan armada TiJe dalam jumlah yang cukup significant. Ini berpotensial untuk menciptakan kepadatan di halte-halte tranfer bila koordinasi dan ketepatan sinkronisasi antar koridor tidak tercapai.
Untuk mengatasinya, saya mengusulkan agar penambahan armada dilakukan secara gradual sambil memperhatikan keseimbangan antar koridor dengan indikator kepadatan halte transfer. Jangan karena armada sudah tersedia, kemudian dilakaukan penambahan armada di suatu koridor tanpa memperhatikan kemampuan koridor lain.

Semoga tradisi baru bertransportasi dengan nyaman segera terwujud di Jakarta kita ini.
Salam. (041207 dc)

Putra memberi tanggapannya, 12 April 2007:

Dalam konsep angkutan umum, termasuk BRT atau lebih dikenal busway disini, ada dua macam model pelayanannya:

1. TRUNK - FEEDER
2. KONVOI

Transjakarta secara umum mengadopsi model no 1. TRUNK - FEEDER, artinya jaringan suatu koridor utama akan saling mengumpan koridor lainnya dan juga diumpan oleh suatu angkutan feeder (ranting) yang lebih kecil, sehingga terjadi perpindahan penumpang (transfer) karena tidak ada jalur yang saling paralel. Contoh, penumpang BLOK M yg ingin ke KALIDERES harus transfer di HARMONI, penumpang RAGUNAN yg ingin ke Sudirman harus transfer di HALIMUN dan DUKUH ATAS.

Sedangkan model no 2. KONVOI, bisa melihat contoh dari pelayanan KRL Jabotabek dan bus reguler. KRL Depok dan KRL Pakuan tujuannya sama2 ke Stasiun Kota dengan menggunakan jalur KA yang sama (lintas Bogor-Manggarai-Kota), tetapi yg membedakan origin destination-nya, yang satu berawal dari St. Depok Lama, dan satu lagi dari St. Bogor.
Metromini 74 jurusan BLOK M - REMPOA dan bus 71 BLOK M - Bintaro rutenya 70% paralel, tetapi tujuan akhirnya berbeda.

Masing2 model punya keunggulan dan kekurangan. Kalo dari penumpang lebih nyaman dengan model konvoi, karena model konvoi mengakomodasikan variasi tujuan yg lebih banyak, sehingga penumpang tidak perlu repot berpindah2 bus. Tetapi hal ini kurang menguntungkan dari segi operasional, karena pangsa penumpang sudah dipecah/didistribusikan sehingga kapasitas bus menjadi tidak efisien (kelebihan tempat duduk) pada satu ruas yang bercabang, hal ini memunculkan biaya yg tidak perlu.
Selama model TRUNK - FEEDER mengakomodasikan tempat transfer yang nyaman dan proses yang cepat, penumpang tidak akan terlalu mempermasalahkannya.

Kalau mau transjakarta lebih optimal, efektif, dan efisien, model pelayanannya harus mengkombinasikan 2 model tsb tergantung dari karakteristik koridornya. Seperti koridor 6 RAGUNAN - HALIMUN yang mempunyai demand tinggi untuk menuju koridor 1. Supaya efisien, harusnya koridor 6 di-extend hingga koridor 1 DUKUH ATAS dengan sharing sebagian jalur koridor 4.

Dalam usulan ITDP terdahulu, karena mengukur banyak demand penumpang dari BLOK M yang ke KALIDERES dan PULOGADUNG, diusulkan dibuat jalur secara konvoi (beriringan) BLOK M - KALIDERES, dan BLOK M - PULOGADUNG yang sharing jalur yang sama dengan jalur BLOK M - KOTA. Jadi penumpang yang ke KALIDERES maupun PULOGADUNG tidak perlu lagi pindah bus. Hal ini bertujuan memaksimalkan kapasitas bus pada suatu ruas dalam koridor.

David menanggapinya kembali, 13 April 2007:

Pak Putra,
Menurut saya saat ini TiJe hanya melayani trunk/back bone saja, tidak temasuk feeder nya.
Topology yang dipakai saat bukan star lagi yang semuanya bermuara di HCB. Tetapi dengan adanya kor IV s/d kor VII, sudah berubah menjadi grid/jemaring yaitu kombinasi ring dan star.
Ini menyebabkan interdependensi antar koridor menjadi sangat tinggi dan pengaturan trafik semakin rumit.
Inilah yang menuntut pengelola untuk mengkoordinasikannya dengan lebih baik lagi.
Salam (dc)

Sedangkan Adhitya mengomentari posting awal David , 12 April 2007:

Untuk mas David:
Ide anda bener sekali dan ini sistem ini memang diterapkan di banyak negara maju. yang paling benar dari analisa mas adalah bahwa kalo nambah armada jusru halte transfer makin sesak. Kelemahannya adalah bahwa infrastruktur dan mentalitas kita masih belum cukup untuk membuat sistem ini berjalan.

Kita gak mungkin tepat waktu selama:
1. polisi masih membolehkan mobil masuk jalur busway.
2. Separator jalur busway hilang di beberapa titik. seperti di jembatan kuningan-menteng.
3. jalur busway melintasi jalur yanghierarkinya lebih penting. contoh: melintas jalur KA. Kereta api jelas lebih atas hierarkinya dan menunggu mereka lewat bisa mendelay waktu.

Jadi sejauh ini yang terbaik masih hanya menambah armada tapi dengan koordinasi. maksudnya gini:
- armada yg sekarang sudah penuh duluan di halte transit sehingga tidak memberi ruang masuk untuk penumpang di halte-halte berikutnya.
- ini bisa dipecahkan dengan: kalo bus di depannya udah angkut penumpang di halte transit secara signifikan, maka bus berikutnya langsung lewat aja, gak usah berhenti. prioritasnya adalah mengambil penumpang dari halte-halte non-transit. Kalo dia sampai di halte transit, hanya turunkan penumpang saja. bus ketiga baru konsen lagi memuat sepenuhnya halte transit. begitu seterusnya.

Salah satu masalah terbesar bagi kami-kami yang menunggu di halte non-transit adalah itu: dari halte transitnya aja udah penuh.
rgds.
Mempublikasikan Kiriman

Agriadi mengajukan pendapatnya, 13 April 2007:

Kalo saya kok lebih sreg dgn headway busnya ya.. Selama headway bus terjaga dgn baik dan teratur, mnrt saya penumpukan tidak berlebih baik di halte transfer ataupun halte biasa.
Coba kalo liat TB jalan, mereka sering jalan beriringan (nempel) dgn bus depan atau belakangnya.

Misal kalo ada bus langsung misal Blok M - KaliDeres, apa nantinya ga kisruh di halte pemberangkatan? Penumpangnya aja desek2an buru2 mau masuk bus. Ntar bisa ketuker mau naik jurusan Blok M - Pulogadung.

Sedangkan Asepsap menawarkan solusi lain, 13 April 2007:

Menurut saya jumlah armada boleh jadi mengurangi waktu tunggu. Tapi saya mikir2 apakah ada cara yg lebih murah dan gampang untuk mengurangi waktu tunggu penumpang di halte transit yg penuh.

Anggaplah solusi sekarang menggunakan 10 artinya bus pertama ngangkut, bus berikutnya gak ngangkut alias lewat aja, bus berikutnya kembali ke pola awal (ngangkut lagi) dst 101010...
Pola lain adalah 120, bus pertama dan kedua nganggkut, ketiga lewat aja gak ngangkut, bus berikutnya kembali ke pola awal dst 120120120....
pola 100 yg mana bus pertama ngangkut, bus kedua dan ketiga gak ngangkut alias lewat aja, bus berikutnya kembali ke pola awal (mulai ngangkut lagi), dst

di halte/bus stop lainnya angka 0 artinya tidak mengangkut tapi menurunkan penumpang bisa2 saja

menurut saya, tergantung jam sibuk, juga tergantung wilayah.. harus diputuskan pola mana yg akan digunakan. Mungkin di tiap halte ada seorang 'satpam' yg bisa menganalisa dan memutuskan pola mana yg akan digunakan. Seharusnya ini bisa diputuskan oleh satu sistem komputer terpusat yg bisa memonitor status antrian, tapi ceritanya kan cari solusi yg murah dan gampang tanpa menambah armada jg.

Putra menjelaskan maksudnya, 14 April 2007:

Konsep KONVOI itu maksudnya juga membedakan fasilitas pemberhentiannya, kalau misalnya ada jurusan BLOK M - KOTA, BLOK M - KALIDERES, dan BLOK M - PULOGADUNG, jadi nanti disepanjang jalur Blok M hingga Harmoni (awal percabangan jalur) semua bentuk haltenya terdapat 3 pintu dengan jurusan yang berbeda, bentuknya seperti halte HCB tapi dengan skala yang lebih kecil.

Dengan model KONVOI ini kapasitas suatu koridor bisa ditingkatkan menjadi 15.000 penumpang/arah/jam, hampir 3 kali lipat kapasitas transjakarta sekarang yang berkisar 5.000 penumpang/arah/jam. Saya gak ngusulin sih, karena kalau transjakarta mau menerapkan model ini, ada banyak banget hal yang mesti dibenahi, terutama dari sarana haltenya yang perlu diperbaiki supaya menjadi lebih panjang, jalur busnya, armadanya, dan pengaturan LL-nya.

Kalo untuk penumpukan, seperti kata Pak Yanto memang utamanya yang karena yang sekarang hanya armadanya belum lengkap saja. Kebutuhannya masih jauh dari cukup. Pengadaan bus koridor 8-10 kapan ya? Masak harus telat lagi kayak koridor sekarang?

Konsep itu sebenarnya sudah diterapkan di koridor 1, bus kosong tidak selalu dilepas dari BLOK M atau KOTA saja, saat jam sibuk ada bus yang langsung meluncur ke Bundaran Senayan untuk mengangkut penumpang ke arah Kota, atau diluncur dari Tosari untuk ngangkut penumpang ke arah Blok M.

Yang menjadi masalah hanya selama ini kuota bus untuk seluruh koridor tije masih di bawah keharusan. Selama belum tercukupi, tidak ada hal lain yang bisa membantu mengurangi penumpukan penumpang di tiap halte.
more

4.4.07

Kritik terhadap TJ

Dari suaratransjakarta diposting oleh Adhitya mulya:

Beberapa terakhir ini member milis udah membaca beberapa kritikan saya thd kita, sesama pengguna TJ. memang benar seperti yang salah satu dari kita bilang bahwa customer adalah raja. Tapi kalo raja gak mau liat kondisi, itu namanya raja pandir. Saya simply nyoba ngajak temen-temen utk sedikit lebih bijak karena kelemahan utama dari TJ adalah sistem dan desain produknya. tapi yang pertama kena imbas dari keluhan kita adalah pegawai-pegawai TJ-nya. bagi saya, itu gak adil karena pegawai hanya mengikuti instruksi dan bergerak di batasan-batasan yang sistem TJ berikan.

Kritik saya thd TJ

1. (primer) Armadanya kurang.
Ini orang bego juga tau. Tapi kunci penyelesaian *semua *keluhan konsumen justru terletak di armada. Kalo armada cukup, maka:
- waiting time di halte berkurang
- kepadatan dalam bus berkurang
- Supir gak perlu ngebut utk jemput penumpang, karena supir lain pasti sudah jemput.

Kemarin ada diskusi offline dengan seorang teman. Dia mengabarkan bahwa sebenernya ada 80 unit TJ siap pakai. tapi TJ-nya masih dalam proses rekrut dan beberapa unit itu belum punya ijin operasi.
2. (primer) Rute transit yang dijalankan tidak manusiawi
Ambil halte transit dukuh atas 2 dan halimun. Keduanya dijadikan halte transit namun seseorang yang sangat 'jenius' dari TJ memutuskan untuk membuat kedua halte itu sempit. jelas banget bahwa siapa pun (mau bule kek mau orang indonesia kek) yang mendesain halte transit sesempit itu, gak mikir dan gak ngitung proyeksi jumlah pengguna pas bikin. yang ada adalah waiting time selama 1-2 jam untuk 1 oran bisa masuk ke koridor yang dia inginkan.

3. (primer) jangan tergesa-gesa meluncurkan produk rute
Jika memang masih kurang tenaga kerja, jangan tergesa-gesa daripada ngoyo luncurin tapi servicenya mengundang banyak kritik seperti yang terjadi setelah peluncuran 4-6. Mohon ini dijadikan pertimbangan untuk peluncuran koridor 7 8 9 (dan katanya ada 10 ya?)

4. (primer) Antara peluncuran produk rute dan pemisahan jalur busway, jangan terlalu lama
Dari pengamatan banyak orang, sepertinya kor 4-6 sudah selesai dipisahkan jalur buswaynya, armada dan tenaga kerja belum siap. Yang ada jalanan macet, tapi busway tidak terpakai. Sekarang saya tanya apakah ini yang membuat kor 4-6 diluncurkan dengan ala kadarnya? karena hasilnya cukup mengecewakan bagi pelanggan. Jujur aja, penyelarasan timeline antara proses rekrut, pengadaan unit bus, perijinan dan pembangunan jalur busway itu cuman butuh project management yang baik. gak butuh orang yang kerja di NASA untuk mikir bahwa itu penting. yang penting, dipikirin.

5. (primer) Desain produk yang tidak tepat guna
Di ilmu dasar teknik transportasi ada yang namanya bangkitan dan tarikan (referensi: permodelan transpotasi - Ofyar Z Tamin). bangkutan adalah area di mana titik awal penumpang berada dan tarikan adalah destinasi yang mereka tuju.

Koridor 1 didesain untuk menghubungkan kota-blok m. dalam skala kecil kita lihat selalu penuh. tapi kalo kita lihat demografi dan penyebaran penduduk Jakarta, rute ini gak ada gunanya. Ngapain sih menghubungkan sentra bisnis dengan sentra bisnis? keduanya kan tarikan. Jutaan orang kerja di kota tapi jutaan orang juga kerja di blok m juga. Sedangkan ada jutaan orang yang kerja di sentra bisnis dan bermukim di sentra perumahan (depok, ragunan, pasar jumat, bekasi). yang ada, orang yang kerja di sudirman dan tinggal di pasar jumat, gak make busway. dan akhirnya idealisme TJ untuk memberikan solusi transportasi tidak tercapai.

Koridor 6: menghubungkan halimun+kuningan dengan ragunan, buncit, pejaten dan sebagian ps. minggu). Nah, rute ini jauh lebih tepat guna karena menghubungkan sentra bisnis dan sentra pemukinan. bangkitannya kuat (3 pemukiman) tarikannya kuat (2 sentra bisnis).
Tolong kalo mau bikin rute mbok ya konsultasi dulu sama orang yang beneran ngerti transportasi. Gak usah teburu-buru.

6. (primer) Kualitas tenaga kerja
Tidak ada yang senang digampar satgas. Meski kita juga sepertinya buta kalo melihat satgas digampar penumpang. Stres yang terjadi pada satgas dan supir diturunkan dari frustrasinya penumpang yang diturunkan dari kurangnya armada. tapi terlepas dari kurangnya armada, mestinya pemukulan tidak pernah ada. Biar bagaimana pun itu salah. Saya setuju bahwa supir S1, tapi kenapa kalau satgas hanya SMEA? Kenapa gak D3 atau S1 juga? Toh jika mereka gak mau, masih banyak orang yang bersedia bekerja kan.

7. (sekunder) Infrastruktur di tiap kordior beda-beda
Di koridor 1, pake card
Di koridor 6, pake karcis
Emangnya belum punya cukup dana untuk penyelarasan ya?

8. (sekunder) ventilasi di tiap halte
Tiap halte memang ada ventilasi. tapi kurang. Kondisi di mana hampir semuanya kaca juga meningkatkan suhu dalam ruangan karena sinar matahari memanaskan udara di dalam tapi udara di dalam tidak bisa keluar.
Kalo pake kipas angin, pasti listriknya mahal. Apalagi AC. Jadi mungkin kritik ini gak menuju ke kita minta AC. Tapi setidaknya beberapa dari kaca itu dibuka aja. kalo takut ada orang stress dan loncat, yang dijeruji.
lagi-lagi gak perlu sarjana S3 untuk mikir bahwa ini adalah hal penting. Saya lihat beberapa halte kacanya pecah, saya justri senang. Setidaknya udara masuk.

9. (sekunder) batasan kecepatan mengemudi
Ini adalah kritik yang menrupakan perpanjangan dari masalah kurangnya armada. Sebaiknya kecepatan dikurangkan sejalan dengan makin banyaknya unit.
Saya sering mendapati gini:
Ketika penumpang dalam bus, mereka teriak: "Pelan-pelan dong!"
Giliran mereka di dalam halte, mereka teriak: "Aduh cepetan dong!"
Keduanya valid tapi tergantung sama banyaknya unit. Ini sebabnya saya taro di prioritas sekunder karena penumpang pun terkadang permintaannya double standard.

10. (sekunder) Fasilitas Pendukung
TJ bisa menarik pemasukan tambahan jika menyediakan WC dan kulkas yang menjual minuman dingin. Jual yang simple-simple aja agar tidak terlalu banyak sampah. Ekses yang mesti dikontrol mungkin adalah penumpang bertendensi membawa minuman itu ke dalam bus dan minum di dalam bus yang mana, menurut instruksi di dalam bus, dilarang makan/minum.

Nah, baik temen-temen pengguna dan pihak TJ bisa melihat bahwa banyak dari kritikan di atas sebenernya *NON-manusia*. tapi manusia lah yang berkonflik karenanya. Tolong ini dibenahi segera karena banyak di antaranya sangat vital.

Rgds.

Ditanggapi oleh dhikoen ady, 5 April 2007:

Saya tertarik melihat komentar dari sdr.Adhitya Mulya, emang benar yang saudara katakan bahwa semuanya masih ada kekurangannya, tp yang jlas saya sebagai penumpang
yang tiap hari naik busway (P. gadung-Dkh atas) patut bersyukur krn jakarta udah memiliki transportasi massal yang cukup bagus.

Dan oleh Deddy Arief, 10 April 2007:

Salut utk kritiknya mas Adhitya yang bagus sekali, hanya ada sedikit catatan kecil saya utk point 5 sbb.

CMIIW, setahu saya "committed project" Subway Lebak Bulus - Dukuh Atas katanya akan selesai terbangun di tahun 2014-2015.
Kalau koridor Busway I diperpanjang dari Blok M sampai Lebak Bulus guna menjangkau area pemukiman, maka selain akan mengikut-sertakan upaya pembebasan tanah untuk pelebaran jalan yang signifikan dan membutuhkan waktu ber-tahun2 karena terbatasnya kondisi fisik jalan Fatmawati, namun hal ini juga akan mengakibatkan terjadinya duplikasi terhadap rencana Subway dan tentu akan berujung kepada kelebihan kapasitas angkut (over capacity) yang sangat signifikan pada segmen koridor yang tidak terlalu padat ini jika kedua system tersebut dioperasikan secara bersama2.

Menurut hemat saya, dalam konteks azas manfaat berkelanjutan (sustainable benefits), apabila busway pada segmen koridor ini nantinya harus dibongkar sementara baru beroperasi seumur jagung, maka akan mengakibatkan terjadinya pemborosan sumber daya yang sangat signifikan, sehingga tentu akan lebih tepat guna apabila resouces pemerintah yang terbatas dapat dialokasikan pada koridor lain guna menjangkau seluruh pelosok Jakarta yang luas ini.

Puluhan studi yang melibatkan "pakar transport kelas dunia", termasuk JMATS '72, JUTP '86, TNPR '92, JSTSMP '99, BDP '00, PTM '03 telah menetapkan Blok M-Kota sebagai koridor mass transit.
Sebagian mereka berpendapat bahwa utk efisiensi sistem, seperti yang disampaikan juga oleh Pak Dave, "Main Haul Corridor" tidak harus mencapai area pemukiman yang pada umumnya tersebar luas diseantero kota, sepanjang feeder service point-nya telah tersedia dengan baik. Terminal Blok M memenuhi syarat ini, karena puluhan rute bus dari berbagai area pemukiman berujung pada terminal ini.
Salam - DA

more

20.3.07

Keliru konsep, Jakarta Terus Macet


Ada posting menarik di suaratransjakarta yang ditulis oleh David Chyn. Ini adalah suara salah seorang pengguna mobil yang beralih menggunakan bus TransJakarta :

Tergelitik oleh beberapa posting beberapa hari, saya tergerak untuk posting tulisan yang saya buat bulan lalu. Tulisan ini di ilhami oleh postingnya pak Deddy tentang Refleksi Busway.
Semoga bisa jadi bahan renungan kita semua.
Salam (dc)

Keliru konsep, Jakarta Terus Macet

Judul tulisan di atas (tertulis di dalam website Dewan Transportasi Kota Jakarta, yang tidak pernah diupdate sejak peluncurannya) menyadarkan saya akan situasi jalanan di Jakarta akhir-akhir ini.
Pada awalnya, para penggagas dan para pembuat keputusan dan masyarakat (termasuk saya), sangat optimis akan terselesaikannya sebagian besar keruwetan lalulintas di ibukota kita ini dengan, solusi ’busway’.

Ketika koridor I diluncurkan, saya masih mengendarai mobil sendiri ke tempat kerja. Saya menggunakan TiJe hanya untuk menghindari kemacetan di jalan Sudirman dan Thamrin, menghindari ’3 in 1’, juga kadang untuk menghindari kesulitan parkir di kantor-kantor di sepanjang jalan tersebut. Saat itu saya tidak yakin bahwa sistem ini akan mampu untuk mengurangi penggunaan mobil pribadi seperti saya. Tidak memadainya bus ’feeder’ memaksa kita tetap menggunakan mobil pribadi untuk mencapai tempat kerja.

Kemudian koridor II dan III diluncurkan. Mulai saat itu saya bertekad mengurangi penggunaan mobil pribadi (Walau ’feeder’ belum dibenahi juga). Saya hanya menggunakan mobil pribadi bila kantor klien saya tidak terjangkau oleh TiJe atau jauh dan sulit mendapatkan taksi. Saat itu saya merasa penggunaan mobil-mobil pribadi agak berkurang. Ini mungkin karena faktor psikologis saya atau faktor ekonomi umum saat itu atau memang karena pendekatan pemilihan koridor yang benar. Koridor II dan koridor III ini banyak melalui area pemukiman yang banyak pengguna mobil pribadi untuk mencapai tempat aktifitasnya (kantor, pertokoan, sekolah/perguruan tinggi etc.). Ketiga jalur ini juga saling terhubung dengan baik.

Akhir Januari lalu, diluncurkan koridor IV sampai koridor VII. Terlepas dari masih kurangnya jumlah armada untuk koridor-koridor tersebut, menurut saya hanya koridor VI (Kuningan/Rasuna Said) yang efektif mengurangi penggunaan mobil pribadi. Disusul dengan koridor IV (Dukuatas-Halimun –Manggarai- Matraman) yang lebih berfungsi sebagai penghubung antar koridor (dan penghubung antar moda).

Pengamatan lain, sebagian (besar?) pengguna koridor-koridor baru ini adalah pengguna angkutan umum reguler yang kemudian berpindah menjadi pengguna TiJe. Jadi pada jalur ini pengurangan kendaraan pribadi tidak terlalu efektif. Sebaliknya yang terjadi adalah kepadatan akibat berkurangnya jalur karena dipakai busway.
Efek lain dari semakin banyaknya koridor yang beroperasi saat ini, adalah kepadatan dan berkurangnya kenyamanan di dalam bus maupun di halte transfer (misalnya: halte Senen).

Bagi mereka yang sebelumnya adalah pengguna angkutan reguler, hal ini mungkin tidak akan terlalu bermasalah, karena tetap lebih nyaman dan lebih murah. Tapi yang cukup menguatirkan adalah kembalinya pengguna yang dahulunya bermobil, yang cenderung untuk memakai kembali mobil-mobil mereka. Bagi mereka, tarif bukan merupakan alasan utama untuk menggunakan TiJe. Mereka lebih mementingkan kenyamanan, kecepatan dan kepraktisan moda angkutan ini. Jadi bisa dibayangkan bila dayatarik tersebut akhirnya memudar; Jakarta akan macet kembali.

Saya teringat akan moto Transjakarta ’Tradisi baru bertransportasi’.
Tradisi baru bukan karena busnya baru. Tradisi baru karena kita (masyarakat dan pengelola) belajar budaya baru, cara bertransportasi. Jangan sampai gerakan ini kehilangan momentumnya.

Salam. (022707 dc)
more

11.1.07

Refleksi Busway

Dari suaratransjakarta:

REFLEKSI BUSWAY - RENUNGAN AWAL TAHUN 2007

Deddy Arief


Dear All Milisers & Profesional Tije,

Terasa ada sesuatu yang hambar apabila di awal tahun yang baru ini kita tidak mencoba untuk turut bersama-sama merenung atas segala perbuatan, sikap dan tingkah laku yang telah kita lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Renungan awal tahun ini tentu bukan hanya menilik atas segala perbuatan kita yang semata baik, bersifat ibadah ataupun amal saja, namun justru yang lebih hakiki adalah berupa refleksi total kita akan segala keburukan, kezaliman, kealpaan, kesalahan, kesombongan, penistaan, penganiayaan dan dosa-dosa yang sesungguhnya tak tertawarkan patut terbuang jauh-jauh dari segenap sendi kehidupan dan perilaku kita, khususnya dalam menyongsong hari depan. Hari ini haruslah selalu lebih baik dari hari kemarin.

Semua keluhan dan kritik yang terungkap di milis ini hendaknya menjadi renungan yang mendalam bagi segenap insan dan jajaran institusi yang bertanggung jawab dalam membina, merencanakan, mengelola, mengoperasikan dan merawat sistem busway yang kita cintai ini. Alih-alih menyelesaikan carut marutnya masalah transportasi di kota tercinta ini hendaknya tidaklah dengan menggali dan mencuatkan masalah yang baru ataupun mengabaikan kepentingan masyarakat luas, terlebih pengguna jasa busway itu sendiri.

Bahwa perjalanan masih jauh dan panjang, tentu perlu disadari oleh semua pihak,

Bahwa benturan akan semakin keras, tentu perlu disikapi secara lebih arif,

Bahwa disiplin dan kerja keras akan semakin lebih dituntut, tentu perlu diikhtiarkan dan diwujudkan secara nyata.

Semoga tiada tim investigasi kecelakaan yang perlu dibentuk khusus pada busway.

Semoga tiada titik air mata awak/penumpang, seperti yang dialami para pramugari akhir-akhir ini dalam setiap doa mereka menjelang take off.
(tentu miris hati ini membayangkan para pramugari nan ayu tersebut terhimpit dalam keterpaksaannya setiap kali mereka hendak menunaikan tugas).

Semoga tiada operator & regulator yang memaksa pramudi memacu bus demi selisih argo & kapasitas penumpang yang tak berarti.
Sekedar anekdot, konon ada pemuka agama yang ditolak masuk surga karena seluruh peserta ceramahnya selalu tertidur. Sebaliknya para pengemudi mikrolet dan metromini yang ngebut, ugal-ugalan, serobot sana sini justru dipersilahkan masuk surga, karena semua penumpangnya yang ketakutan jadi selalu berdoa dengan khusyu dan sungguh-sungguh.
Semoga tiada para pramudi busway yang menjadi kawan baru mereka..

Sekedar catatan akhir, gambar-gambar pada link berikut ini mudah-mudahan dapat memudahkan kita semua dan para pengguna busway pada umumnya dalam melakukan perjalanannya sehari-hari. Klik gambar terkait untuk memperbesar, kemudian klik 'Actual Size' icon pada internet explorer atau pada Window Explorer untuk melihat detailnya.
www.pamintori.com/refleksi-JUMTS


Potensi kapasitas angkut penumpang total dari 7 koridor sistem busway yang insya Allah terimplementasikan diawal tahun ini adalah 3,23 juta perjalanan penumpang/hari.
Daya angkut ini ekivalen dengan 68,7% dari seluruh perjalanan orang yang saat ini berlalu-lalang di wilayah DKI dan telah menyita seluruh ruang jalan kota dengan tebaran polusi dan jutaan liter pemborosan bahan bakarnya.
Betapa nyamannya jalan raya, udara kota dan seluruh sendi kehidupan kita, apabila 68% pengguna jalan raya tidak menyesakinya.
It's a real livable city, Jakarta akan benar-benar menjadi kota yang layak huni dan manusiawi bagi warganya.

Namun, potensi tersebut hanya akan teronggok menjadi potensi semata apabila tidak didaya-gunakan secara maksimal. Jumlah bus yang saat ini mampu disediakan hanya akan mampu mengangkut tidak lebih dari 210 ribu penumpang per hari (dibawah 10% dari total kapasitas angkut sistem). Tentu diperlukan terobosan-terobosan baru dalam pengadaannya.

Mudah-mudahan bermanfaat, membantu dan tidak menyesatkan.
Wass - DA
more