8.2.07

Transportasi Jakarta masih lumpuh

Hampir seluruh kawasan permukiman di Jakarta dilanda banjir. Tak terkecuali kompleks hunian menengah ke atas di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Warga kompleks elite itu mengungsikan harta bendanya, termasuk anjing kesayangan
Korban Tewas 31 Orang, Pengungsi 216.393 [foto: edy chandra]

JAKARTA - Sudah lima hari ini Jakarta dikepung banjir. Aktivitas warga di ibu kota itu masih belum berjalan normal. Beberapa jalan protokol belum bisa dilalui karena terendam air yang tingginya rata-rata mencapai satu meter. Hal itu memicu kemacetan luar biasa.

Sejak pagi, jalan tol dari arah Tangerang, Bogor, dan Bekasi dipadati kendaraan yang menuju pusat Kota Jakarta. Mereka adalah para pekerja yang mulai masuk kerja. Kemacetan parah terjadi di Jalan Petamburan, Jakarta Pusat. Penutupan Jalan Sudirman dan Jalan Rasuna Said (Kuningan) yang masih tergenang air membuat kendaraan yang akan melewati daerah tersebut beralih ke Petamburan.

Sarana transportasi umum juga masih lumpuh. Misalnya, busway. Di antara tujuh koridor, hanya satu koridor (koridor I) yang beroperasi. Koridor tersebut melayani rute Stasiun Kota-Blok M. Meski harus melewati genangan air di Sudirman, busway koridor I itulah yang satu-satunya beroperasi.

Busway di koridor II-VII tidak berjalan karena halte-halte bus terendam air. Di antaranya, di Jalan Perintis Kemerdekaan dan Rasuna Said. Ada juga halte busway yang dijadikan tempat pengungsian. Misalnya, di koridor III (Kalideres-Harmoni) ada dua halte yang dijadikan tempat pengungsian. Salah satunya di Daan Mogot. "Jumlah pengungsi di satu halte mencapai 300 orang," ujar Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono kepada wartawan kemarin.

Sarana transportasi kereta api juga masih lumpuh. Kepala Humas Daops I PT Kereta Api Ahmad Sujadi menjelaskan, akibat banjir, pihaknya mengalami kerugian hingga Rp 4 miliar. Kerugian tersebut disebabkan tidak terjualnya karcis dalam empat hari terakhir. "Rata-rata per hari rugi Rp 1 miliar dari jumlah karcis yang tidak terjual," ungkapnya.

Salah satu kereta yang tidak beroperasi adalah KRL Jakarta-Serpong. "Kereta tersebut tidak beroperasi karena Stasiun KA Tanah Abang dan depo kereta tergenang air hingga hari ini (kemarin). Demikian pula, KRL Jakarta-Serpong dan Jakarta-Tangerang belum beroperasi," ujarnya.

Lumpuhnya sarana transportasi dan kemacetan jalan pagi kemarin membuat sebagian pekerja memilih balik kucing, pulang ke rumah masing-masing.

Sejumlah PNS (pegawai negeri sipil) di DKI Jakarta, Tangerang, Bogor, dan Depok memilih membolos karena akses jalan ke kantor sulit. Staf Badan Pengawas Kota Jakarta Pusat Dewi Suwarsih mengatakan, sebagian pegawai yang datang pada pagi hari hanya melakukan absen. Setelah itu, mereka kembali ke rumah masing-masing. "Pagi sih banyak yang datang, tapi pulang lagi setelah absen. Sebagian lagi menelepon karena rumahnya tenggelam dan akses terputus," ujarnya.

Kepala Bidang Kesra Badan Kepegawaian Daerah Zairin mengungkapkan, seharusnya kemarin semua PNS sudah wajib masuk. Jika ada yang tidak masuk dengan alasan masih kebanjiran atau akses yang terputus, itu masuk dalam sesuatu yang tidak terduga. Namun, hal itu masuk dalam penilaian tersendiri terhadap PNS tersebut. "Berdasar aturan, tetap akan kami nilai dan akan dilakukan cross check terhadap PNS tersebut, apakah benar kebanjiran dan aksesnya terputus. Jangan sampai ini menjadi alasan untuk mbolos," katanya.

Pelayanan di RSUD Tarakan juga masih terganggu. Staf Humas RSUD Tarakan Zuraidah mengatakan, terganggunya aktivitas itu akibat sebagian perawat bahkan dokter belum hadir. Di antara sekitar 200 orang perawat, 30 persen belum hadir. "Jelas kami kesulitan karena sebagian perawat belum hadir," ujarnya.

Kondisi perkantoran di Jalan Sudirman dan Thamrin juga masih belum normal. Sebagian karyawan yang berkantor di kawasan tersebut memang sudah masuk kerja. Tetapi, sebagian lagi terpaksa mbolos kerja. Lili Irawati, karyawati sebuah perusahaan sekuritas (Trimegah Securities) yang berada di kawasan Sudirman, mengungkapkan bahwa sebagian rekan kerjanya masih mengurus rumah mereka yang kebanjiran. "Banjir memang surut, tapi banyak yang izin membersihkan rumah mereka yang terkena banjir," jelasnya.

Di Kelapa Gading, Jakarta Utara, genangan air masih tinggi, rata-rata 1-1,5 meter. Aktivitas masyarakat belum berjalan. Pusat perbelanjaan, kantor, dan pusat bisnis masih tergenang. Beberapa kantor meliburkan karyawannya hingga Senin pekan depan.

Sejumlah anggota TNI dan personel Tim SAR masih melakukan evakuasi terhadap warga yang masih bertahan di lantai dua ruko maupun rumah-rumah.

Rumah Menko Polhukam Jadi Dapur Umum
Rumah Menko Polhukam Laksamana (pur) Widodo A.S. di Jl Boulevard Barat Kelapa Gading, Jakarta Utara, dijadikan posko dan dapur umum untuk menyuplai makanan bagi warga sekitar. Rumah itu sedikit tergenang, namun tidak separah sekitarnya.

Ibu-ibu dari persatuan istri prajurit maupun dari relawan hilir-mudik menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk membuat nasi bungkus serta mengepak mi instan dan air mineral bagi korban banjir.

Deputi Kominfo Menko Polhukam Irjen Pol Alex Bambang menjelaskan, aktivitas Widodo tidak terganggu meski rumahnya dikepung air.

Di Mabes TNI-AD, KSAD Jenderal Djoko Santoso memerintahkan prajuritnya untuk maksimal membantu evakuasi dan penanganan pengungsi korban banjir. Meski sama-sama menjadi korban, personel TNI wajib menyingsingkan lengan baju membantu korban banjir.

Asrama TNI-AD yang terkena banjir adalah Asrama Zeni AD di Kalibata, Batalyon Kavaleri 9, Kodim Jakarta Pusat seperti Koramil Tanah Abang, Kodim Jakarta Utara, Kodim Jakarta Barat, dan Kodim Tangerang. Ketinggian air di asrama itu bervariasi. "Meski anggota kita juga menjadi korban banjir, mereka harus membantu korban lainnya," kata Jenderal TNI Djoko Santoso di sela-sela acara donor darah di Mabes AD, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, kemarin.

Korban Meninggal 31 Orang
Hingga kemarin, terdapat 31 korban meninggal akibat banjir. Berdasar data di Polda Metro Jaya, ada 29 korban meninggal yang tercatat identitasnya. Identitas dua korban lainnya belum diketahui. Sementara itu, Satkorlak DKI Jakarta kemarin baru mendata 23 korban meninggal akibat banjir.

Dalam sehari kemarin, di Jakarta Timur, ada tiga warga Jatinegara meninggal karena tersengat aliran listrik. Dengan demikian, jumlah korban meninggal di Jakarta Timur dalam enam hari ini merupakan yang terbanyak dibandingkan wilayah lain. Jumlahnya mencapai 11 orang.

Meski debit air di beberapa kawasan banjir sudah surut, para pengungsi masih belum bisa pulang ke rumahnya. Mereka masih harus tinggal di tenda-tenda pengungsian yang didirikan seadanya di tempat yang tidak tergenang air. Menurut Ketua RT 13 RW 01 Kampung Melayu Amir Hamzah, meski surut dua meter, ketinggian air luapan Sungai Ciliwung masih sekitar 10 meter. Atap-atap rumah penduduk pun hanya terlihat menyembul sedikit dari permukaan air yang kecoklatan bercampur sampah.

"Tidak mungkin ada yang bisa kembali ke rumah. Meski rumah beberapa warga berlantai dua, saya melarang warga untuk kembali ke rumah mereka," ungkap Amir yang saat itu hanya memakai memakai jaket hitam.

Di Kelurahan Karet, banjir juga masih menggenangi rumah warga. Air yang sebelumnya setinggi leher orang dewasa kini surut sampai sebatas pinggang. Menurut seorang warga Jl Karet, sebagian besar warga masih memilih mengungsi di tempat sanak saudara atau mengungsi di Rumah Susun Kalimati. "Kami masih takut ada banjir kiriman lagi. Meski tidak hujan, siapa tahu ada banjir kiriman lagi dari Bogor," kata pria yang merantau dari Pekalongan ke Jakarta sejak 1992 tersebut.

Data terakhir yang dihimpun dari Crisis Center Satkorlak Penanggulangan Banjir menunjukkan, hingga kemarin, total pengungsi mencapai 216.393 jiwa. Jumlah itu berasal dari 100.316 KK dari lima wilayah di Jakarta. Paling banyak berasal dari wilayah Jakarta Timur, mencapai 64.555 jiwa.

Untuk Proyek Banjir, Gunakan Perpres 36
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memerintahkan Pemprov DKI Jakarta menggunakan Peraturan Presiden (Perpres) 36/2005 untuk membebaskan lahan proyek kanalisasi banjir kanal timur (BKT).

Proyek BKT yang menjadi unggulan Pemprov DKI Jakarta dalam mengatasi banjir memang terhambat gara-gara pembebasan lahan yang belum beres. Proyek yang kembali dibangun pada 2002 itu harus membebaskan lahan milik warga sekitar 75 - 80 persen.

"Harus pakai itu (Perpres 36/2005). Alat kita (membebaskan tanah untuk kepentingan umum) hanya Perpres 36/2005 yang sudah direvisi," kata Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto usai sidang kabinet terbatas membahas banjir di Jakarta di Kantor Presiden kemarin.

Dalam Perpres 36/2005, presiden dapat mencabut kepemilikan tanah yang akan digunakan untuk proyek kepentingan umum. Pencabutan dapat dilakukan setelah negosiasi gagal mencapai kata sepakat. Selama proses negosiasi, status tanah dibekukan sehingga tidak bisa dipindahtangankan.

Oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN), Perpres 36/2005 telah dicabut dan diganti dengan Perpres 65 Tahun 2006. "Mekanismenya memang sedang diperbaiki BPN. Karena itu, akan kita pakai Perpres 36/2005 yang sudah direvisi," terang Djoko.

Ketika ditanya wartawan, apakah dalam rapat kabinet itu Presiden SBY memerintahkan gubernur DKI Jakarta menggunakan Perpres 36/2005 untuk membebaskan lahan proyek kanalisasi BKT, menteri PU menjawab dengan tegas, "Iya."

Djoko menegaskan, BKT yang akan menjadi muara 13 anak sungai di Jakarta mutlak diperlukan untuk membebaskan ibu kota dari banjir tahunan.

"Memang tidak ada yang bisa menjamin banjir (tidak akan terjadi lagi). Tapi, kalau BKT jadi, banjir lima tahunan tidak akan terjadi," terangnya.

"Kalau BKT selesai, minimal Kelapa Gading yang sekarang menjadi danau itu tidak kebanjiran lagi," tambahnya.

Proyek BKT didanai APBN. Namun, pembebasan tanahnya dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Proyek yang sebenarnya dimulai sejak Gubernur Ali Sadikin itu hingga kini memang terkendala pembebasan tanah. Dari rencana 23 kilometer, baru 7,7 kilometer yang dibebaskan dan dibangun.

"Jadi, sekarang baru sepertiga. Padahal, uang kita punya, pemborong juga siap," paparnya.

Untuk mempercepat pembuatan BKT, DPU (Departemen Pekerjaan Umum) sebenarnya telah melakukan pekerjaan secara bertahap sesuai perkembangan pembebasan tanah.

"Kalau pembebasan tanah selesai 2007, akhir 2008 selesai," tegas Djoko.

Anak Sungai Ciliwung Harus Dilebarkan
Selain proyek BKT, Menteri PU menganjurkan Dinas PU Pemprov DKI Jakarta melebarkan anak Sungai Ciliwung, seperti Kali Pesanggrahan dan Kali Krukut.

"Duitnya Pemprov DKI Jakarta itu lebih besar dibanding pemerintah pusat, dibanding Departemen PU," tegasnya.

Dalam paparannya usai sidang kabinet, Djoko menjelaskan, banjir besar di Jakarta akibat curah hujan yang sangat tinggi, pasang purnama, dan rusaknya ekosistem di kawasan Puncak.

"Kenapa banjir semakin tahun semakin besar, itu karena kerusakan di daerah resapan air semakin besar," katanya.

Menurut Djoko, banyak situ (danau penampung air hujan) di Bogor yang ditutup dan tanaman yang ditebang menjadi vila. "Saya amati drainase di tengah kota buntu karena masyarakat tidak disiplin membuang sampah," tegasnya.

Menteri PU memaparkan, fenomena pasang purnama juga menyebabkan curah hujan sangat tinggi.

Untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih besar, pemerintah juga segera menyelesaikan revisi RUU Tata Ruang. Saat ini RUU tersebut dibahas dengan DPR.

Kalau UU Tata Ruang disahkan, sanksinya sangat berat. Menimbun situ untuk realestat akan mendapat sanksi sangat berat. "Bisa dibongkar, bisa juga dia harus bayar denda. Bukan hanya yang memakai yang bayar denda, yang memberi izin juga akan kena denda. Jadi, kalau saya yang memberi izin, saya juga akan kena denda," ujarnya.

Selain itu, pemerintah akan membuat embung-embung dan menghijaukan daerah resapan, terutama di daerah hulu Sungai Ciliwung dan Cisadane.

"Kalau semua realestat diwajibkan membuat kolam, itu sudah mengurangi banjir. Kalau kota Jakarta bersih, tidak ada sampah, itu juga sudah mengurangi banjir," tegas Djoko.

Waspada Flu Burung Pascabanjir
Pascabanjir, masyarakat dihadapkan pada berbagai serangan penyakit. Sekretaris Jenderal Departemen Kesehatan Safii Ahmad mengatakan, ada beberapa penyakit yang muncul ketika banjir dan pascabanjir. "Penyakit saluran pernapasan atas (ISPA), diare, dan muntaber mulai menyerang pengungsi," beber Safii setelah gagal rapat dengan Komisi IX DPR kemarin.

Penyakit tersebut saat ini tengah melanda sebagian pengungsi yang belum dapat pulang karena rumahnya masih terendam. Selain itu, penyebaran demam berdarah juga akan semakin cepat karena genangan air banjir. "Air tersebut berpotensi menjadi tempat nyamuk bertelur," jelasnya.

Diminta Transmigrasi
Masyarakat yang bermukim di bantaran Sungai Ciliwung ditawari pemerintah untuk transmigrasi. Sebab, keberadaan mereka itu dianggap memberi kontribusi bencana banjir di Jakarta.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno hari ini akan memaparkan program transmigrasi tersebut kepada Gubernur Sutiyoso di Balai Kota Pemprov DKI Jakarta. Tahun ini ditargetkan seluruh warga di bantaran Sungai Ciliwung sudah bisa dikirim ke daerah-daerah transmigrasi.(noe/tom/ein/fal/nue/rdl/tom/aya/anz/eko/ind) indopos
more

2.2.07

Banjir meluas, Jakarta lumpuh

PUSAT KOTA TERENDAM: Pusat bisnis dan perkantoran di Jl Jenderal Sudirman kemarin tidak dapat dilalui kendaraan. [foto: detikfoto]

- Jaringan Telkom Terganggu
- 120 Jadwal KA Batal
- 42 Ribu Orang Mengungsi

JAKARTA - Banjir besar di Jakarta lima tahun lalu terulang. Sebagian besar wilayah Jakarta dan sekitarnya kemarin terendam banjir setelah dua hari berturut-turut diguyur hujan. Jalan-jalan protokol pun lumpuh total. Akibatnya, aktivitas warga ibu kota negara itu juga tidak bisa berjalan normal.

Jalan Sudirman yang merupakan akses poros Jakarta lumpuh total. Ini akibat banjir yang menggenangi kawasan Semanggi. Tepatnya di Kampus Universitas Atmajaya hingga Bendungan Hilir. Kedalaman air di Jalan Sudirman 0,5 meter. Ini membuat kendaraan dari Jl Gatot Subroto maupun Thamrin terjebak kemacetan. Kemacetan terjadi sejak pukul 07.00 hingga sekitar pukul 18.00 kemarin.

Bus way koridor I yang melintas di Jalan Sudirman juga tidak bisa beroperasi. Karyawan yang bekerja di kawasan perkantoran tersebut tidak bisa mencapai lokasi kantornya.

Banjir di kawasan Bendungan Hilir juga tidak kalah parah. Di daerah tersebut, kedalaman air sampai 1 meter, mulai ujung Jalan Bendungan Hilir yang berimpitan dengan Jalan Sudirman hingga sepanjang 500 meter. Rumah-rumah warga di sekitar Bendungan Hilir juga terendam. Listrik di kawasan tersebut padam. Pada 2002, banjir di kawasan ini lebih parah.

Kawasan parah lainnya adalah Petamburan. Di kawasan tersebut, kedalaman air sampai 2,5 meter. Pada sejumlah rumah, hanya terlihat genting dan antena TV. Begitu juga di kawasan Kampung Melayu, Daan Mogot, Cililitan, dan Bukit Duri.

Air bah juga menyerang kawasan elite. Misalnya, Perumahan Pulomas, Pondok Indah, maupun Bintaro. Begitu juga kawasan Widya Chandra, kompleks perumahan para menteri.

Beberapa rumah sakit di Jakarta banjir. Salah satunya Rumah Sakit Sumber Waras di Jalan Kyai Tapa, Tomang, Grogol. Awalnya, banjir di RS tersebut hanya sebatas mata kaki. Namun, semakin siang, air terus naik hingga setinggi lutut orang dewasa. "Sebagian pasien sudah kami ungsikan ke RS lain," kata seorang petugas di RS tersebut.

Selain jalan protokol, jalan tol juga menjadi sasaran banjir. Di tol Cawang, sejumlah kendaraan terjebak di genangan air. Kemacetan semakin parah karena banyak kendaraan yang mogok saat melewati air.

Lalu lintas di tol tengah kota antara Cawang-Grogol juga macet. Hingga tadi malam pukul 20.00, arus lalu lintas di kawasan itu belum lancar. Polisi juga mengalihkan kendaraan yang akan menuju Bandara Soekarno Hatta melalui Tangerang.

Di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, banjir juga memutuskan ruas tol jurusan Jakarta-Merak. Akibatnya, lalu lintas di kedua jalur tol itu macet total. Yang lebih parah, tol dua jalur yang seharusnya terbagi dua arah itu malah menjadi satu arah.

Banjir tersebut terjadi di sepanjang Jalan Perjuangan, depan Studio RCTI, dan meluber hingga ke ruas tol Jakarta-Merak. Sejak pagi, arus kendaraan di jalur tersebut tersendat, sedangkan dari arah sebaliknya lancar.

Keadaan semakin parah saat memasuki pukul 14.00. Kemacetan sudah melanda di dua arah tol terebut. Kendaraan yang masuk dari pintu tol Tomang menyerobot ke jalur kanan karena kendaraan di jalur Merak-Jakarta itu samasekali tidak bergerak. Kendaraan di jalur Merak-Jakarta itu bertemu satu titik di depan RS Graha Medika, Kebon Jeruk. Banyak pengendara mobil yang keluar dari kendaraan. Sebagian lagi memilih tidur di dalam mobil.

Berdasar data dari Satkorlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi DKI Jakarta, terdapat 42.014 penduduk dari 5 wilayah DKI mengungsi. Pengungsi terbanyak berasal dari daerah Jatinegara, Jakarta Timur, yakni 13.780 orang.

Satkorlak juga telah mengerahkan 284 perahu karet, 4 unit helikopter, dan 713 kendaraan roda empat. "Ada 242 dapur umum dan 264 pompa air di 52 lokasi," kata petugas Satkorlak Ahmad Musa. Selain itu, untuk keperluan kesehatan, Satkorlak menerjunkan 586 dokter serta menyiagakan 240 ambulans dan 324 puskesmas.

Fasilitas Umum Terganggu

Banjir yang melanda ibu kota tidak hanya mengakibatkan kondisi perkantoran sepi karena sedikitnya karyawan yang masuk. Tapi, banjir juga mengakibatkan jaringan telekomunikasi terganggu.

PT Telkom Tbk yang merupakan operator dengan jumlah pelanggan terbesar di Indonesia mengalami gangguan pada semua jenis layanannya. Setidaknya, 70 ribu satuan sambungan telepon (SST) di kawasan Gatot Subroto, Jakarta, mengalami gangguan.

"Itu karena Sentral Telepon Otomat (STO) Semanggi II dengan kapasitas 70 ribu SST yang terletak di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta, saat ini dalam keadaan terganggu akibat matinya catuan listrik," kata Public and Marketing Communication PT Telkom Muhammad Awaluddin kemarin. Dia menambahkan, tidak terjadi perhubungan putus (perpu) sentral, tetapi STO sementara waktu beroperasi hanya dengan mengandalkan catuan genset yang diperkirakan hanya bertahan 6-8 jam. "Gangguan catu daya terjadi akibat banjir besar yang melanda berbagai wilayah di Jakarta," tambahnya.

Gangguan tidak hanya terbatas pada layanan telepon tetap, tapi juga dirasakan pada layanan telepon tetap nirkabel Telkom Flexi dan layanan data berbasis Internet Protocol (IP) Telkom. Bahkan, layanan Internet Broadband Telkom Speedy juga mengalami gangguan parah.

Sementara itu, 209 BTS (base transceiver station) dari sekitar 3.300 BTS Telkomsel di kawasan Jakarta juga tidak berfungsi maksimal akibat putusnya jaringan listrik dan terendamnya BTS tersebut. Hal itu membuat koneksi telekomunikasi pelanggan Telkomsel mengalami gangguan.

"Jika banjir terus berlangsung, BTS akan terendam. Gangguan jaringan tidak bisa dihindari," tegas VP Marketing and CRM Telkomsel Henri Mulya Sjam kepada Jawa Pos kemarin. "Kalau masalahnya hanya putusnya listrik, kami masih bisa mengatasinya."

Henri belum bisa memastikan jumlah kerugian maupun lamanya proses pemulihan. Namun, dia memastikan bahwa jaringan Telkomsel akan dipulihkan secepat mungkin.

PT Indosat Tbk juga melaporkan, sejumlah BTS di kawasan Jakarta Selatan dan Pusat mengalami gangguan. Sekitar enam persen dari kurang lebih 1.000 BTS di Jabotabek kehabisan catuan listrik sehingga memaksa mereka untuk mengerahkan genset. PT Excelcommindo Pratama Tbk. (XL) juga terpaksa mematikan 1 BTS di Bekasi, Jawa Barat, dan 1 BTS di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, karena air sudah memasuki shelter tempat power listrik. Sejumlah BTS juga terpaksa menggunakan alternatif tenaga listrik yang berasal dari baterai dengan masa pakai sekitar 4 jam.

Terendamnya pusat data Telkom juga membuat situs-situs yang berada di server Telkom tidak berfungsi. Termasuk situs resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, www.presidensby.info.

Fasilitas umum lain yang terganggu adalah sarana kereta api. Sekitar 120 jadwal perjalanan kereta api dibatalkan. Hanya kereta tujuan Bogor yang dijalankan. "Yang lain dibatalkan," ujar Kahumas PT KA Daops I Jakarta Akhmad Sujadi.

Banjir memang merendam rel kereta api. Tercatat mulai Stasiun Tanah Abang-Serpong, dan sebaliknya, rel kereta api terendam banjir sekitar 1 meter. Stasiun Tanah Abang pun banjir dengan ketinggian air sekitar 50 cm. Akibatnya, tidak ada satu pun kereta api yang bisa lewat.

Fasilitas lain yang terganggu adalah busway. Transportasi andalan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso itu juga nyaris lumpuh. Di antara tujuh koridor yang ada, hanya tiga yang beroperasi. "Koridor I, V, dan VII terus beroperasi," kata Kepala Pengendalian Operasional Busway Rene N.

Koridor I melayani rute Blok M-Kota, koridor V untuk Kampung Melayu-Ancol, dan koridor VII Kampung Rambutan-Kampung Melayu. Sedangkan bus di koridor II, III, IV, dan VI lumpuh karena genangan air memenuhi ruas jalur busway. Contohnya di Pademangan, jalur busway itu digenangi air satu meter. Tidak hanya dipenuhi genangan air, aktivitas busway juga terganggu banyaknya kendaraan pribadi yang melintas di jalur khusus tersebut.

Kondisi banjir di Jakarta juga mengganggu jalur distribusi BBM (bahan bakar minyak). PT Pertamina (persero) harus melakukan berbagai langkah antisipasi. Kepala Divisi Komunikasi PT Pertamina (persero) Toharso mengemukakan, pihaknya memastikan bahwa kondisi depot-depot yang dimiliki Pertamina dalam status aman. Namun, dia mengakui bahwa terdapat gangguan distribusi di beberapa daerah. "Plumpang aman. Cuma, truk kalau keluar baliknya telat. Karena banjir, ada daerah-daerah yang macet," jelasnya di Jakarta kemarin.

Untuk mengantisipasi hal itu, Pertamina akan mengalihkan 15 persen beban Plumpang ke depot Cikampek jika depot Plumpang banjir. "Pengalihan tersebut untuk suplai di daerah Bekasi, Karawang, dan Purwakarta," tegasnya.

Dari pantauan Jawa Pos, tidak terlihat antrean kendaraan di beberapa SPBU untuk mendapatkan BBM. Namun, banyak SPBU digunakan sebagai tempat singgah pengendara bermotor dan parkir mobil untuk menghindari banjir.

Pada kesempatan tersebut, Toharso juga mengemukakan bahwa stok BBM hingga kini masih aman. "Stok Pertamina hari ini cukup untuk 24 hari ke depan. Minyak tanah 27 hari, solar 26 hari, dan premium 20 hari," katanya.

Masih Berlanjut

Meski tidak merata sampai 5 Februari nanti, curah hujan tinggi yang berpotensi mengakibatkan banjir berpeluang melanda Jabodetabek. Namun, bukan berarti banjir akan usai setelah hari itu. Menurut Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Sri Woro Budijati Harijono, jika serapan tanah di suatu daerah buruk, banjir bisa terjadi.

"Kalau memang serapan air di suatu daerah jelek, keguyur hujan sedikit bisa saja banjir," ungkapnya kepada Jawa Pos tadi malam. Masyarakat Jakarta harus siap menerima guyuran hujan deras, terutama pada malam.

Ternyata tidak hanya DKI Jakarta yang berpotensi banjir. Menurut Woro -panggilan kepala BMG itu-, curah hujan tinggi juga akan melanda beberapa daerah di Propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera, dan beberapa daerah di Kalimantan. Dengan potensi tersebut, Kepala BMG itu menyarankan masyarakat untuk selalu waspada terhadap kemungkinan banjir.

Potensi banjir itu, diakui oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup (Men LH) Rachmat Witoelar, adalah akibat efek rumah kaca. "Kalau hujan, biang keladinya efek rumah kaca. Tapi, kalau banjir, penyebabnya ya sampah," bebernya ketika ditemui di Taman Ismail Marzuki kemarin.

Tanpa takut, dia menegaskan, saat ini faktor penyebab banjir yang paling besar adalah hilangnya daerah resapan air. Menurut dia, banyaknya mal yang muncul belakangan ini, contohnya di Jakarta, telah menghilangkan daerah resapan air. "Orang bikin mal di tempat resapan air, pengusaha dapat profit, rakyat dapat banjir," kritiknya. (tom/ein/nue/aan/rdl/art/dil/dni/aak) indopos
more

30.1.07

Dewan Desak Operator Busway Diberi Sanksi

TEMPO Interaktif, Jakarta: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta mendesak Dinas Perhubungan DKI memberikan sanksi tegas kepada operator busway yang belum memenuhi kewajiban pengadaan busway koridor II-VII. "Kami minta mereka diganti atau diberi pinalti," kata Muhayar, Wakil Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta di gedung DPRD hari ini.

Menurut dia pada koridor II dan III, perusahaan yang belum memenuhi kewajibannya adalah Steady Safe dan PPD. Untuk itu, dia meminta agar perusahaan lain bisa diikutsertakan melalui beauty contest.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Herry Rotty mengatakan Dinas Perhubungan DKI harus bertanggung jawab atas kurangnya bus. ''Saya sudah ingatkan Dishub untuk melaksanakan beauty contest Agustus 2006. Tapi tidak dilakukan, " katanya. Tak heran, jika di koridor baru IV sampai VII hanya ada 10 unit.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Nurachman mengatakan, pihaknya akan memberikan pinalti kepada konsorsium untuk pengadaan busway di koridor IV sampai VII. Tapi, untuk koridor I dan II tidak diberi pinalti. Sedangkan untuk mengurangi penumpukan penumpang di koridor IV, dan VII, akan ditambah 138 armada busway sampai April mendatanga.

Yudha Setiawan
more

Mobil Pribadi Masih 'Sikat' Jalur

Busway Beroperasi, Mobil Pribadi Masih 'Sikat' Jalur Busway
Ine Yordenaya - detikcom

Jakarta - Kemacetan bisa membuat pengemudi berbuat apa saja. Jalan Mangga Besar kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, macet, pengemudi nekat lalui jalur busway.
Hadirnya busway di kawasan Mampang-Warung Buncit-Ragunan belum menyelesaikan kemacetan yang kerap terjadi di kawasan tersebut. Seperti pada Minggu (28/1/2007) siang, dua arah di jalan raya Mangga Besar padat merayap.

Menurut pengamatan detikcom, kemacetan jalan raya Mangga Besar berakibat antrian kendaraan sampai depan Halte Buncit Indah hingga perempatan lampu merah Mangga Besar. Arah Sebaliknya juga macet, dari perempatan Deptan (Departemen Pertanian) hingga perempatan Mangga Besar. Tak jelas apa penyebab kemacetan tersebut.

Kemacetan menimbulkan pengemudi seperti kehabisan kesabaran. Klakson berbunyi di sana-sini. Beberapa sopir bus, mobil pribadi dan angkot nekat masuk jalur busway. Namun hal itu tetap tidak mencairkan kemacetan yang terjadi di jalur tersebut. Tak terlihat seorang polisi lalu lintas pun di sana.

Akibat kendaraan yang tak berhak masuk jalur busway nekat melintas, busway yang beroperasi di koridor VI (menempuh jalur Kuningan-Ragunan) itu ikut mengantri dalam kemacetan. Untungnya tidak semua pengemudi nekat masuk jalur busway di kawasan tersebut.
(ana/mly)
more

29.1.07

Penumpang Busway Mengeluh Kedatangan Bus Lama

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sejumlah penumpang busway koridor VI (Ragunan - Kuningan) mengeluhkan lamanya kedatangan bustransjakarta di halte busway. "Bus datang setelah saya tunggu 1,15 jam di halte Patra Kuningan," kata Guntur, 30 tahun, yang hendak menuju Ragunan.

Faisal, penumpang lainnya mengeluhkan hal serupa. "Kalau ''Sarana dan prasarananya belum siap, jangan dipaksakan," kata pria berusia 35 tahun ini yang menunggu kedatangan bustransjakarta sekitar 30 menit.

Penumpang lainnya, Besri, 55 tahun, mengatakan infomasi tentang rute yang dapat dilalui busway juga belum terpasang. "Itu saja sudah membuat penumpang bingung, " ujarnya.

Pantauan Tempo di dalam bus transjakarta, bus bergerak lancar di jalurnya. Sedangkan kendaraan lainnya di luar jalur busway di kawasan buncit berjalan merayap. Sesekali terlihat masyarakat menyeberang melintasi jalur busway. Sopir busway terlihat belum trampil. Bus berhenti tidak tepat di depan pintu halte, sehingga bus harus maju mundur mengepaskan badan bus dengan pintu halte.

Rudy Prasetyo
more

Nyasar di Halte Kp Melayu

Banyak Penumpang Busway Nyasar di Halte Kp Melayu
Ari Saputra - detikcom

Jakarta - Baru beroperasi, busway baru di Terminal Kampung Melayu sudah membuat bingung. Tak ada penunjuk arah transit, banyak orang tersasar.

Sulastri celingukan mencari petugas busway di Terminal Kampung Melayu. Dia berusaha mencari petugas busway untuk bertanya. Rupanya, wanita berusia 42 tahun itu baru saja tersasar.

Sulastri adalah penumpang busway dari Ancol yang hendak ke Kampung Rambutan. Bukannya sampai di terminal Kampung Rambutan, Sulastri malah mampir ke Harmoni. Padahal, seharusnya dia transit di Kampung Melayu untuk menuju ke tujuannya.

"Saya mau ke Kampung Rambutan, tapi kesasar sampai Harmoni karena kurang petunjuk tentang transit," kata Sulastri di Halte Kampung Melayu, Jakarta Timur, Minggu (28/1/2007).

Menurut Sulastri, dia sudah bertanya ke petugas halte. Namun informasi yang didapatnya berbeda-beda. Ada yang bilang turun di Kampung Melayu, ada juga yang bilang turun di Harmoni. Tak heran dia dibuat kebingungan.

Berdasarkan pantauan detikcom, petujuk transit di Halte Kampung Melayu memang sangat minim. Tidak lebih dari empat kertas HVS print out yang memberikan petunjuk. Tulisannya juga tidak terlalu besar.

Saat memasuki bus, penumpang masih dibuat kecewa. Pemberitahuan mengenai pemberhentian yang sering diumumkan melalui rekaman suara tidak terdengar sama sekali. Mulai dari Halte Ancol sampai Kampung Melayu penumpang kebingungan, padahal bus sudah terisi penuh.

Sementara itu, loket halte Ancol sistemnya buka tutup. Jika halte sudah penuh, loket tiket busway ditutup sementara sambil menunggu penumpang terangkut.

"Sebentar mas, tunggu yang di dalam habus dulu. Soalnya busnya terbatas,"jelas penunggu loket. (mly/ana)
more

28.1.07

Pelecehan Seksual

Pelecehan Seksual di Jalur Busway
Maryadi - detikcom

Jakarta - Janji Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menambah armada busway memang telah terrealisasi. Namun penambahan jumlah bus tetap tidak sebanding kenaikan jumlah penumpang. Busway pun menjadi makin tak nyaman karena padatnya penumpang. Pelecehan seksual terhadap perempuan menjadi pemandangan yang lazim.

Pemandangan seperti ini kerap terjadi di jalur Busway koridor II Kalideres menuju Harmoni. Terutama ketika pagi dan sore hari, ketika penumpang tengah padat-padatnya. Mahfum, warga Barat Jakarta lebih menyukai moda angkutan massal ini karena jalan Daan Mogot yang menjadi akses jalan ke tengah kota pada pagi dan sore selalu macet.

Namun keinginan untuk cepat sampai ke kantor kerap harus dibayar mahal dengan ulah laki-laki bejat yang memanfaatkan situasi. Para penumpang perempuan kerap menjadi obyek pelecehan seksual.

Model pelecehan seksual terhadap perempuan bermacam-macam. Mulai dari menggesek-gesekkan kemaluan penumpang laki-laki kebagian bokong perempuan atau menyentuhkan bagian tubuh laki-laki ke payudara penumpang perempuan.

Malah pernah ada yang kurang ajar hingga meremas pantat penumpang perempuan. "Saya pernah mengalami ini. Makanya saya selalu naik dari terminal Kalideres biar dapat tempat duduk," kata Sandra (nama disamarkan), warga Taman Kota, Jakarta Barat kepada detikcom, Minggu (28/1/2007).

Sandra sengaja naik busway ke arah Kalideres terlebih dulu dari arah Taman Kota yang penumpangnya sepi agar bisa mendapatkan tempat duduk. Karena kalau dari halte busway Taman Kota dipastikan dia tidak akan mendapatkan tempat duduk karena terlanjur penuh. "Peristiwa ini saya alami sekali sih," ujar pegawai bank yang berkantor di Jalan Sudirman ini.

Hal yang sama juga dialami Indira, sebut saja namanya demikian. Namun Indira tak kuasa untuk melawannya walaupun di dalam busway ada petugas keamanan. "Gimana gue mau protes, cowok kurang ajar itu ambil kesempatan saat sopir busway mengerem mendadak," ujarnya. Sopir busway di jalur ini memang kadang harus mengerem mendadak karena menghindari motor yang sering nyelonong masuk jalur busway.

"Mestinya petugas busway tidak usah menerima penumpang lagi kalau busnya sudah penuh. Ini untuk menghindari pelecehan seksual kepada kami," pintanya. (mar/ana)
more