30.1.07

Dewan Desak Operator Busway Diberi Sanksi

TEMPO Interaktif, Jakarta: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta mendesak Dinas Perhubungan DKI memberikan sanksi tegas kepada operator busway yang belum memenuhi kewajiban pengadaan busway koridor II-VII. "Kami minta mereka diganti atau diberi pinalti," kata Muhayar, Wakil Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta di gedung DPRD hari ini.

Menurut dia pada koridor II dan III, perusahaan yang belum memenuhi kewajibannya adalah Steady Safe dan PPD. Untuk itu, dia meminta agar perusahaan lain bisa diikutsertakan melalui beauty contest.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Herry Rotty mengatakan Dinas Perhubungan DKI harus bertanggung jawab atas kurangnya bus. ''Saya sudah ingatkan Dishub untuk melaksanakan beauty contest Agustus 2006. Tapi tidak dilakukan, " katanya. Tak heran, jika di koridor baru IV sampai VII hanya ada 10 unit.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Nurachman mengatakan, pihaknya akan memberikan pinalti kepada konsorsium untuk pengadaan busway di koridor IV sampai VII. Tapi, untuk koridor I dan II tidak diberi pinalti. Sedangkan untuk mengurangi penumpukan penumpang di koridor IV, dan VII, akan ditambah 138 armada busway sampai April mendatanga.

Yudha Setiawan
more

Mobil Pribadi Masih 'Sikat' Jalur

Busway Beroperasi, Mobil Pribadi Masih 'Sikat' Jalur Busway
Ine Yordenaya - detikcom

Jakarta - Kemacetan bisa membuat pengemudi berbuat apa saja. Jalan Mangga Besar kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, macet, pengemudi nekat lalui jalur busway.
Hadirnya busway di kawasan Mampang-Warung Buncit-Ragunan belum menyelesaikan kemacetan yang kerap terjadi di kawasan tersebut. Seperti pada Minggu (28/1/2007) siang, dua arah di jalan raya Mangga Besar padat merayap.

Menurut pengamatan detikcom, kemacetan jalan raya Mangga Besar berakibat antrian kendaraan sampai depan Halte Buncit Indah hingga perempatan lampu merah Mangga Besar. Arah Sebaliknya juga macet, dari perempatan Deptan (Departemen Pertanian) hingga perempatan Mangga Besar. Tak jelas apa penyebab kemacetan tersebut.

Kemacetan menimbulkan pengemudi seperti kehabisan kesabaran. Klakson berbunyi di sana-sini. Beberapa sopir bus, mobil pribadi dan angkot nekat masuk jalur busway. Namun hal itu tetap tidak mencairkan kemacetan yang terjadi di jalur tersebut. Tak terlihat seorang polisi lalu lintas pun di sana.

Akibat kendaraan yang tak berhak masuk jalur busway nekat melintas, busway yang beroperasi di koridor VI (menempuh jalur Kuningan-Ragunan) itu ikut mengantri dalam kemacetan. Untungnya tidak semua pengemudi nekat masuk jalur busway di kawasan tersebut.
(ana/mly)
more

29.1.07

Penumpang Busway Mengeluh Kedatangan Bus Lama

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sejumlah penumpang busway koridor VI (Ragunan - Kuningan) mengeluhkan lamanya kedatangan bustransjakarta di halte busway. "Bus datang setelah saya tunggu 1,15 jam di halte Patra Kuningan," kata Guntur, 30 tahun, yang hendak menuju Ragunan.

Faisal, penumpang lainnya mengeluhkan hal serupa. "Kalau ''Sarana dan prasarananya belum siap, jangan dipaksakan," kata pria berusia 35 tahun ini yang menunggu kedatangan bustransjakarta sekitar 30 menit.

Penumpang lainnya, Besri, 55 tahun, mengatakan infomasi tentang rute yang dapat dilalui busway juga belum terpasang. "Itu saja sudah membuat penumpang bingung, " ujarnya.

Pantauan Tempo di dalam bus transjakarta, bus bergerak lancar di jalurnya. Sedangkan kendaraan lainnya di luar jalur busway di kawasan buncit berjalan merayap. Sesekali terlihat masyarakat menyeberang melintasi jalur busway. Sopir busway terlihat belum trampil. Bus berhenti tidak tepat di depan pintu halte, sehingga bus harus maju mundur mengepaskan badan bus dengan pintu halte.

Rudy Prasetyo
more

Nyasar di Halte Kp Melayu

Banyak Penumpang Busway Nyasar di Halte Kp Melayu
Ari Saputra - detikcom

Jakarta - Baru beroperasi, busway baru di Terminal Kampung Melayu sudah membuat bingung. Tak ada penunjuk arah transit, banyak orang tersasar.

Sulastri celingukan mencari petugas busway di Terminal Kampung Melayu. Dia berusaha mencari petugas busway untuk bertanya. Rupanya, wanita berusia 42 tahun itu baru saja tersasar.

Sulastri adalah penumpang busway dari Ancol yang hendak ke Kampung Rambutan. Bukannya sampai di terminal Kampung Rambutan, Sulastri malah mampir ke Harmoni. Padahal, seharusnya dia transit di Kampung Melayu untuk menuju ke tujuannya.

"Saya mau ke Kampung Rambutan, tapi kesasar sampai Harmoni karena kurang petunjuk tentang transit," kata Sulastri di Halte Kampung Melayu, Jakarta Timur, Minggu (28/1/2007).

Menurut Sulastri, dia sudah bertanya ke petugas halte. Namun informasi yang didapatnya berbeda-beda. Ada yang bilang turun di Kampung Melayu, ada juga yang bilang turun di Harmoni. Tak heran dia dibuat kebingungan.

Berdasarkan pantauan detikcom, petujuk transit di Halte Kampung Melayu memang sangat minim. Tidak lebih dari empat kertas HVS print out yang memberikan petunjuk. Tulisannya juga tidak terlalu besar.

Saat memasuki bus, penumpang masih dibuat kecewa. Pemberitahuan mengenai pemberhentian yang sering diumumkan melalui rekaman suara tidak terdengar sama sekali. Mulai dari Halte Ancol sampai Kampung Melayu penumpang kebingungan, padahal bus sudah terisi penuh.

Sementara itu, loket halte Ancol sistemnya buka tutup. Jika halte sudah penuh, loket tiket busway ditutup sementara sambil menunggu penumpang terangkut.

"Sebentar mas, tunggu yang di dalam habus dulu. Soalnya busnya terbatas,"jelas penunggu loket. (mly/ana)
more

28.1.07

Pelecehan Seksual

Pelecehan Seksual di Jalur Busway
Maryadi - detikcom

Jakarta - Janji Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menambah armada busway memang telah terrealisasi. Namun penambahan jumlah bus tetap tidak sebanding kenaikan jumlah penumpang. Busway pun menjadi makin tak nyaman karena padatnya penumpang. Pelecehan seksual terhadap perempuan menjadi pemandangan yang lazim.

Pemandangan seperti ini kerap terjadi di jalur Busway koridor II Kalideres menuju Harmoni. Terutama ketika pagi dan sore hari, ketika penumpang tengah padat-padatnya. Mahfum, warga Barat Jakarta lebih menyukai moda angkutan massal ini karena jalan Daan Mogot yang menjadi akses jalan ke tengah kota pada pagi dan sore selalu macet.

Namun keinginan untuk cepat sampai ke kantor kerap harus dibayar mahal dengan ulah laki-laki bejat yang memanfaatkan situasi. Para penumpang perempuan kerap menjadi obyek pelecehan seksual.

Model pelecehan seksual terhadap perempuan bermacam-macam. Mulai dari menggesek-gesekkan kemaluan penumpang laki-laki kebagian bokong perempuan atau menyentuhkan bagian tubuh laki-laki ke payudara penumpang perempuan.

Malah pernah ada yang kurang ajar hingga meremas pantat penumpang perempuan. "Saya pernah mengalami ini. Makanya saya selalu naik dari terminal Kalideres biar dapat tempat duduk," kata Sandra (nama disamarkan), warga Taman Kota, Jakarta Barat kepada detikcom, Minggu (28/1/2007).

Sandra sengaja naik busway ke arah Kalideres terlebih dulu dari arah Taman Kota yang penumpangnya sepi agar bisa mendapatkan tempat duduk. Karena kalau dari halte busway Taman Kota dipastikan dia tidak akan mendapatkan tempat duduk karena terlanjur penuh. "Peristiwa ini saya alami sekali sih," ujar pegawai bank yang berkantor di Jalan Sudirman ini.

Hal yang sama juga dialami Indira, sebut saja namanya demikian. Namun Indira tak kuasa untuk melawannya walaupun di dalam busway ada petugas keamanan. "Gimana gue mau protes, cowok kurang ajar itu ambil kesempatan saat sopir busway mengerem mendadak," ujarnya. Sopir busway di jalur ini memang kadang harus mengerem mendadak karena menghindari motor yang sering nyelonong masuk jalur busway.

"Mestinya petugas busway tidak usah menerima penumpang lagi kalau busnya sudah penuh. Ini untuk menghindari pelecehan seksual kepada kami," pintanya. (mar/ana)
more

25.1.07

Penggusuran Pedagang Kaki Lima Senen Besok Malam

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah Jakarta Pusat akan menertibkan pedagang kaki lima di kawasan Pasar Senen besok malam. Penertiban dilakukan menjelang beroperasinya jalur busway Koridor IV yang melintasi kawasan itu.

Camat Senen, Hidayatullah, mengatakan penertiban akan digelar pada pukul 20.00 WIB besok. Ada 418 pedagang kaki lima di sana.

Hidayatullah mengatakan kehadiran mereka sanga mengganggu kelancaran lalu lintas di Stasiun Senen dan Jalan Gunung Sahari. Maka, jauh-jauh hari para pedagang sudah dikabari soal rencana peneribtan tersebut.

Arus lalu lintas di Jalan Gunung Sahari memang selalu macet saban hari. Para pedagang kaki lima dan penjual pakaian bekas tumpah sampai ke badan jalan. Kondisi ini kian parah setelah jalur busway dibangun.

Walbed, 40 tahun, salah seorang pedagang handuk di emperan Blok 6 Pasar Senen menolak penggusuran itu. Menurutnya aparat pemerintah tidak pernah memberikan tanggal pasti kapan pelaksanaan penertiban.

Walbed membenarkan bahwa seminggu yang lalu ada surat edaran dari Camat. "Nanti saya mau berjualan di mana?" kata ibu empat anak ini.

Hidayatullah mengatakan para pedagang untuk sementara ditempatkan di lahan kosong di RW 04 Kelurahan Senen dan Jalan Bungur Raya, Jakarta Pusat. Tapi itu pun tak akan dilakukan serta merta dengan penggusuran. Soalnya, perijinan untuk pemakaian lahan itu dari Pemerintah Kota Jakarta Pusat belum turun. "Pokoknya dibersihkan dulu biar lancar," katanya.

Mustafa Moses
more

20.1.07

DPRD tolak keaikan tarf

Kenaikan Tarif Busway Ditentang

TEMPO Interaktif, Jakarta: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta menolak rencana pemerintah Jakarta menaikkan tarif busway. Pelayanan busway dinilai masih jauh dari memuaskan.
“Tarif busway tetap seperti saat ini sebesar Rp 3500,” kata Acmad Suadi, Ketua Komisi A, dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, di Jakarta hari sabtu lalu.

Normansyah Lubis, anggota Komisi B, mengatakan banyak prasarana busway yang rusah dan tak ramah bagi penyandang cacat. “Contohnya lift di halte Sarinah masih rusak, padahal itu untuk penyandang cacat,” katanya.

Namun pemerintah Jakarta tampaknya tetap akan memutuskan kenaikan itu sebelum hari sabtu pekan ini. Gubernur Sutiyoso mengatakan tarif baru sudah ditetapkan sebelum koridor yang baru, yakni koridor IV sampai VI, diresmikan. | YUDHA SETIAWAN | REZA MAULANA
more