Showing posts with label fasilitas. Show all posts
Showing posts with label fasilitas. Show all posts

11.4.08

This is my way

Belajar busway ke Bogota tapi tidak belajar bikeway. Absurd sebetulnya, tapi di seputar kita memang banyak hal yang absurd. Saya sering merefer ke Bogota karena mendambakan pengelola kota seperti mereka —yang manusiawi dan banyak memberi pada warganya, terutama yang kurang mampu.
Bayangkan, di setiap komunitas kecil dibangun perpustakaan, bahkan ada tiga perpustakaan mewah multi-lantai dilengkapi komputer dan internet, di tengah pemukiman-pemukiman kaum tidak mampu. Tidak mampu beli buku tapi diupayakan bisa baca.
Seratus persen rumah penduduk sudah dialiri air bersih sejak lima tahun lalu. Padahal jabatan pemimpin hanya tiga tahun dan tidak boleh dua kali berturut-turut. Padahal jumlah populasiya tidak jauh beda dengan Jakarta.

Barangkali solusinya bukan hanya terletak pada individu pemimpin, melainkan pada aturan perundangan yang mendorong calon pemimpin untuk memiliki visi dan ketangkasan yang memadai. Nanti akan ditulis di sini kalau sudah dapat jawabannya.

Ini denah kota Bogota. Garis merah adalah koridor busway, titik-titik merah itu terminal busway. Jalur sepeda digambarkan dengan garis biru, titik biru adalah terminal busway yang meenyediakan fasilitas parkir sepeda.

Ini elemen penting yang diabaikan dalam konsep TransJakarta. Di Bogota ia terintegrasi dalam sistem TransMilenio. Total panjang jaringannya sekitar 240 km, menghubungkan area pemukiman dengan halte-halte dan pusat-pusat kegiatan.

Berbagai kampanye dan dorongan untuk bersepeda dilakukan dengan gencar dan terarah. Setiap hari Minggu dan hari libur adalah hari bersepeda — mereka sebut ciclovia— setahun sekali seluruh jalan tertutup bagi kendaraan bermotor. Walikota dan para pejabat pada hari-hari tertentu bersepeda ke kantor. Peraturan dan hukumnya juga disosialisasikan.

Interkoneksi antar busway dan bikeway memperlihatkan bahwa mobilitas kalangan kurang mampu yang menjadi prioritas, dirancang agar siapa pun bisa kemana saja dengan mudah dan murah. Dari rumah bersepeda, titipkan di terminal atau taruh di hidung bus, lanjutkan perjalanan dengan busway. Jika mampu, beli saja sepeda kedua, simpan di sekitar kantor untuk memudahkan akses dari kantor ke terminal.

Mobilitas menggunakan kombinasi bus dan sepeda semakin banyak diterapkan di berbagai kota. Di Amerika dan Italia programnya disebut Bike ‘N Ride; di Austalia ada BikeBus, Jerman menyebutnya Bus & Bike. Umumnya baru beberapa bus saja dari tiap armada yang dilengkapi rak sepeda, dioperasikan pada jam-jam tertentu saja.

Di luar sana orang sedang berupaya keras agar anak cucu tidak diwarisi kerusakan alam, bahkan ada jalan-jalan tol dihancurkan, diganti dengan taman (Big Dig - Boston, USA). Sementara di sini malah akan dibangun jalan tol-dalam-kota. Enam ruas, lagi.
Di era keterbukaan informasi ini ternyata kita masih berada di dalam tempurung. 

more

21.1.08

Toilet di halte...

Wanita setengah baya itu terlihat meringis di ujung kursi sebelah kanan dalam busway, Sabtu (18/1) petang. Sesekali wanita yang mengaku Rina ini memegangi perutnya, menahan rasa sakit. Wanita berbaju hijau dan bercelana hitam itu mengaku hendak menuju ke kawasan Blok M.

Rasa sakit yang diderita tampaknya sudah tak terkirakan dan tertahankan lagi. Perasaan malu pun, tidak dia hiraukan. Sehingga, secara tiba-tiba, dia menanyakan tempat toilet, kepada penumpang di sampingnya. Bahkan dia juga menayakan kepada kernet busway yang ditumpanginya.

''Bang di mana halte busway yang ada toiletnya,'' tanya wanita itu tanpa malu-malu di depan para penumpang lainnya.

Kernet busway itu pun hanya bisa tersenyum. Jawabannya, hampir semua halte busway masih belum dilengkapi fasilitas umum berupa toilet itu. Wanita itu, terus saja bertanya dan bertanya soal keberadaan toilet.

''Kalau mau kencing di mana dong. Sudah tidak kuat lagi nih. Tolong dong,'' keluhnya.

Rengekan itu tentu saja tidak bisa menyelesaikan penderitaan yang dialami untuk membuang air kecilnya. Hingga akhirnya wanita itu pun minta diturunkan di halte busway yang berdekatan dengan permukiman penduduk. Dia pun akhirnya, turun di halte busway Depkes. Dia berlari, mencari rumah warga atau perkantoran yang memiliki kamar mandi dan bisa dijadikan tumpangan untuk membuang air kecil.

Pengalaman wanita yang kesulitan membuang air kecil itu, boleh jadi dialami penumpang busway lainnya. Bahkan, petugas busway TransJakarta ini pun mengaku kesulitan bila hendak membuang air kecil. Tidak tahu secara persis, ke mana dan dimana bila sewaktu-waktu mereka harus membuang air kecil atau air besar. Padahal, para petugas di halte-halte busway itu tidak hanya satu jam dua jam, namun sehari penuh.

''Kebetulan selama bertugas, tidak pernah buang air kecil atau besar,'' tutur Dede salah seorang petugas TransJakarta di halte Dukuh Atas.

Sementara itu, jumlah halte busway yang dilalui busway itu jumlahnya sekitar 109 halte. Itu berarti, khusus untuk petugas di masing-masing busway ada sekitar 250-an yang sebenarnya kesulitan dan susah mencari toilet bila sewaktu-waktu harus membuang air kecil atau air besar.

Demikian pula dengan penumpangnya. Mereka akan lebih kesulitan lagi ketimbang petugas halte. Seperti yang dialami Rina. Padahal, rute busway itu hampir memasuki seluruh penjuru di kawasan DKI Jakarta. Jaraknya yang dilalui masing-masing koridor rata-rata belasan kilometer. Belum lagi ketika harus transit di salah satu halte untuk selanjutnya menuju koridor lainnya.

Makanya, tidak berlebihan bila warga pemakai jasa busway berharap agar tiap halte diberi fasilitas umum berupa toilet. Halte-halte yang perlu dilengkapi fasilitas umum berupa toilet itu memang tidak perlu semuanya. Namun, cukup halte-halte yang difungsikan sebagai tempat perpindahan penumpang (halte transit).

Berbeda dengan halte lainnya, seperti halte Blok M, halte Kota, halte Pulogadung, Kalideres, Ancol, Ragunan, dan Kampung Rambutan bisa saja memanfaatkan fasiltas toilet yang ada di terminal tersebut. ''Namun, kalau haltel lainnya, ya minimal di enam halte transit itu yang perlu dilengkapi toilet,'' ujar Ilham, salah seorang penumpang busway lainnya. Sayangnya, pimpinan di Dishub DKI belum bisa memberikan keterangan ihwal masalah ini. Kepala Dishub DKI, Nurachman maupun wakilnya Udar Pristono tak bisa dihubungi karena telepon selularnya dalam keadaan dimatikan.[Republika]

more