4.4.07

Kritik terhadap TJ

Dari suaratransjakarta diposting oleh Adhitya mulya:

Beberapa terakhir ini member milis udah membaca beberapa kritikan saya thd kita, sesama pengguna TJ. memang benar seperti yang salah satu dari kita bilang bahwa customer adalah raja. Tapi kalo raja gak mau liat kondisi, itu namanya raja pandir. Saya simply nyoba ngajak temen-temen utk sedikit lebih bijak karena kelemahan utama dari TJ adalah sistem dan desain produknya. tapi yang pertama kena imbas dari keluhan kita adalah pegawai-pegawai TJ-nya. bagi saya, itu gak adil karena pegawai hanya mengikuti instruksi dan bergerak di batasan-batasan yang sistem TJ berikan.

Kritik saya thd TJ

1. (primer) Armadanya kurang.
Ini orang bego juga tau. Tapi kunci penyelesaian *semua *keluhan konsumen justru terletak di armada. Kalo armada cukup, maka:
- waiting time di halte berkurang
- kepadatan dalam bus berkurang
- Supir gak perlu ngebut utk jemput penumpang, karena supir lain pasti sudah jemput.

Kemarin ada diskusi offline dengan seorang teman. Dia mengabarkan bahwa sebenernya ada 80 unit TJ siap pakai. tapi TJ-nya masih dalam proses rekrut dan beberapa unit itu belum punya ijin operasi.
2. (primer) Rute transit yang dijalankan tidak manusiawi
Ambil halte transit dukuh atas 2 dan halimun. Keduanya dijadikan halte transit namun seseorang yang sangat 'jenius' dari TJ memutuskan untuk membuat kedua halte itu sempit. jelas banget bahwa siapa pun (mau bule kek mau orang indonesia kek) yang mendesain halte transit sesempit itu, gak mikir dan gak ngitung proyeksi jumlah pengguna pas bikin. yang ada adalah waiting time selama 1-2 jam untuk 1 oran bisa masuk ke koridor yang dia inginkan.

3. (primer) jangan tergesa-gesa meluncurkan produk rute
Jika memang masih kurang tenaga kerja, jangan tergesa-gesa daripada ngoyo luncurin tapi servicenya mengundang banyak kritik seperti yang terjadi setelah peluncuran 4-6. Mohon ini dijadikan pertimbangan untuk peluncuran koridor 7 8 9 (dan katanya ada 10 ya?)

4. (primer) Antara peluncuran produk rute dan pemisahan jalur busway, jangan terlalu lama
Dari pengamatan banyak orang, sepertinya kor 4-6 sudah selesai dipisahkan jalur buswaynya, armada dan tenaga kerja belum siap. Yang ada jalanan macet, tapi busway tidak terpakai. Sekarang saya tanya apakah ini yang membuat kor 4-6 diluncurkan dengan ala kadarnya? karena hasilnya cukup mengecewakan bagi pelanggan. Jujur aja, penyelarasan timeline antara proses rekrut, pengadaan unit bus, perijinan dan pembangunan jalur busway itu cuman butuh project management yang baik. gak butuh orang yang kerja di NASA untuk mikir bahwa itu penting. yang penting, dipikirin.

5. (primer) Desain produk yang tidak tepat guna
Di ilmu dasar teknik transportasi ada yang namanya bangkitan dan tarikan (referensi: permodelan transpotasi - Ofyar Z Tamin). bangkutan adalah area di mana titik awal penumpang berada dan tarikan adalah destinasi yang mereka tuju.

Koridor 1 didesain untuk menghubungkan kota-blok m. dalam skala kecil kita lihat selalu penuh. tapi kalo kita lihat demografi dan penyebaran penduduk Jakarta, rute ini gak ada gunanya. Ngapain sih menghubungkan sentra bisnis dengan sentra bisnis? keduanya kan tarikan. Jutaan orang kerja di kota tapi jutaan orang juga kerja di blok m juga. Sedangkan ada jutaan orang yang kerja di sentra bisnis dan bermukim di sentra perumahan (depok, ragunan, pasar jumat, bekasi). yang ada, orang yang kerja di sudirman dan tinggal di pasar jumat, gak make busway. dan akhirnya idealisme TJ untuk memberikan solusi transportasi tidak tercapai.

Koridor 6: menghubungkan halimun+kuningan dengan ragunan, buncit, pejaten dan sebagian ps. minggu). Nah, rute ini jauh lebih tepat guna karena menghubungkan sentra bisnis dan sentra pemukinan. bangkitannya kuat (3 pemukiman) tarikannya kuat (2 sentra bisnis).
Tolong kalo mau bikin rute mbok ya konsultasi dulu sama orang yang beneran ngerti transportasi. Gak usah teburu-buru.

6. (primer) Kualitas tenaga kerja
Tidak ada yang senang digampar satgas. Meski kita juga sepertinya buta kalo melihat satgas digampar penumpang. Stres yang terjadi pada satgas dan supir diturunkan dari frustrasinya penumpang yang diturunkan dari kurangnya armada. tapi terlepas dari kurangnya armada, mestinya pemukulan tidak pernah ada. Biar bagaimana pun itu salah. Saya setuju bahwa supir S1, tapi kenapa kalau satgas hanya SMEA? Kenapa gak D3 atau S1 juga? Toh jika mereka gak mau, masih banyak orang yang bersedia bekerja kan.

7. (sekunder) Infrastruktur di tiap kordior beda-beda
Di koridor 1, pake card
Di koridor 6, pake karcis
Emangnya belum punya cukup dana untuk penyelarasan ya?

8. (sekunder) ventilasi di tiap halte
Tiap halte memang ada ventilasi. tapi kurang. Kondisi di mana hampir semuanya kaca juga meningkatkan suhu dalam ruangan karena sinar matahari memanaskan udara di dalam tapi udara di dalam tidak bisa keluar.
Kalo pake kipas angin, pasti listriknya mahal. Apalagi AC. Jadi mungkin kritik ini gak menuju ke kita minta AC. Tapi setidaknya beberapa dari kaca itu dibuka aja. kalo takut ada orang stress dan loncat, yang dijeruji.
lagi-lagi gak perlu sarjana S3 untuk mikir bahwa ini adalah hal penting. Saya lihat beberapa halte kacanya pecah, saya justri senang. Setidaknya udara masuk.

9. (sekunder) batasan kecepatan mengemudi
Ini adalah kritik yang menrupakan perpanjangan dari masalah kurangnya armada. Sebaiknya kecepatan dikurangkan sejalan dengan makin banyaknya unit.
Saya sering mendapati gini:
Ketika penumpang dalam bus, mereka teriak: "Pelan-pelan dong!"
Giliran mereka di dalam halte, mereka teriak: "Aduh cepetan dong!"
Keduanya valid tapi tergantung sama banyaknya unit. Ini sebabnya saya taro di prioritas sekunder karena penumpang pun terkadang permintaannya double standard.

10. (sekunder) Fasilitas Pendukung
TJ bisa menarik pemasukan tambahan jika menyediakan WC dan kulkas yang menjual minuman dingin. Jual yang simple-simple aja agar tidak terlalu banyak sampah. Ekses yang mesti dikontrol mungkin adalah penumpang bertendensi membawa minuman itu ke dalam bus dan minum di dalam bus yang mana, menurut instruksi di dalam bus, dilarang makan/minum.

Nah, baik temen-temen pengguna dan pihak TJ bisa melihat bahwa banyak dari kritikan di atas sebenernya *NON-manusia*. tapi manusia lah yang berkonflik karenanya. Tolong ini dibenahi segera karena banyak di antaranya sangat vital.

Rgds.

Ditanggapi oleh dhikoen ady, 5 April 2007:

Saya tertarik melihat komentar dari sdr.Adhitya Mulya, emang benar yang saudara katakan bahwa semuanya masih ada kekurangannya, tp yang jlas saya sebagai penumpang
yang tiap hari naik busway (P. gadung-Dkh atas) patut bersyukur krn jakarta udah memiliki transportasi massal yang cukup bagus.

Dan oleh Deddy Arief, 10 April 2007:

Salut utk kritiknya mas Adhitya yang bagus sekali, hanya ada sedikit catatan kecil saya utk point 5 sbb.

CMIIW, setahu saya "committed project" Subway Lebak Bulus - Dukuh Atas katanya akan selesai terbangun di tahun 2014-2015.
Kalau koridor Busway I diperpanjang dari Blok M sampai Lebak Bulus guna menjangkau area pemukiman, maka selain akan mengikut-sertakan upaya pembebasan tanah untuk pelebaran jalan yang signifikan dan membutuhkan waktu ber-tahun2 karena terbatasnya kondisi fisik jalan Fatmawati, namun hal ini juga akan mengakibatkan terjadinya duplikasi terhadap rencana Subway dan tentu akan berujung kepada kelebihan kapasitas angkut (over capacity) yang sangat signifikan pada segmen koridor yang tidak terlalu padat ini jika kedua system tersebut dioperasikan secara bersama2.

Menurut hemat saya, dalam konteks azas manfaat berkelanjutan (sustainable benefits), apabila busway pada segmen koridor ini nantinya harus dibongkar sementara baru beroperasi seumur jagung, maka akan mengakibatkan terjadinya pemborosan sumber daya yang sangat signifikan, sehingga tentu akan lebih tepat guna apabila resouces pemerintah yang terbatas dapat dialokasikan pada koridor lain guna menjangkau seluruh pelosok Jakarta yang luas ini.

Puluhan studi yang melibatkan "pakar transport kelas dunia", termasuk JMATS '72, JUTP '86, TNPR '92, JSTSMP '99, BDP '00, PTM '03 telah menetapkan Blok M-Kota sebagai koridor mass transit.
Sebagian mereka berpendapat bahwa utk efisiensi sistem, seperti yang disampaikan juga oleh Pak Dave, "Main Haul Corridor" tidak harus mencapai area pemukiman yang pada umumnya tersebar luas diseantero kota, sepanjang feeder service point-nya telah tersedia dengan baik. Terminal Blok M memenuhi syarat ini, karena puluhan rute bus dari berbagai area pemukiman berujung pada terminal ini.
Salam - DA

1 comment:

Dewi Rumapea said...

Nama saya Dewi Rumapea, saya dari Indonesia, tolong dengarkan, beberapa pemberi pinjaman di sini tidak bersedia untuk membantu Anda, semua yang mereka inginkan adalah untuk merobek Anda uang Anda sulit diperoleh. Suami saya dan saya, mencari pinjaman dari kreditur yang berbeda online tapi pada akhirnya, kami ditipu dan merobek uang kita tanpa mendapatkan pinjaman kami dari perusahaan-perusahaan pinjaman yang berbeda secara.
Kami bahkan meminjam uang untuk membayar pemberi pinjaman ini online tapi pada akhirnya, kita punya apa-apa.
Suami saya dan saya berada di utang, dan kami tidak punya satu untuk lari ke bantuan, bisnis keluarga kami hancur dan kami di mana tidak bisa mendapatkan uang untuk memenuhi biaya sehari-hari sampai kami diperkenalkan kepada Ibu Glory yang membantu kami dengan menawarkan kita jumlah pinjaman tanpa jaminan dari 500 juta tanpa agunan.
Untuk informasi lebih lanjut tentang bagaimana untuk mencapai Ibu. Glory atau mengikuti prosedur pinjamannya, hubungi saya melalui email saya: dewiputeri9@gmail.com
Atau Anda dapat mengirim email ke Ibu Glory ke: gloryloanfirm@gmail.com