5.1.04

Madu dan Racun 'Busway'

Majalah Tempo Edisi. 45/XXXII/05 - 11 Januari 2004

Proyek ini mendatangkan rezeki ratusan miliar bagi sejumlah pengusaha. Tapi pengusaha dan sopir angkutan rute Blok M-Kota menjerit.

Proyek busway tak pelak mendatangkan berkah bagi sekelompok orang. Tapi, bagi kelompok yang lain, seperti angkutan bus dengan trayek Blok M-Kota, jelas merupakan musibah.

Buat sejumlah pengusaha dan kontraktor, proyek bernilai Rp 132 miliar yang masuk dalam anggaran Pemerintah DKI Jakarta tahun 2003 itu ibarat madu. Dan tak kurang dari 37 perusahaan ikut berpesta menikmati manisnya.

Jumlah perusahaan yang akan mendapat proyek kemungkinan akan terus bertambah. "Soalnya, tahun ini bakal ada anggaran tambahan," kata Asisten Pembangunan Sekretaris Daerah Pemerintah Jakarta, Irzal Djamal. Sebab, pengerjaan proyek ternyata membutuhkan biaya lebih banyak. Selain itu, anggaran tambahan diperlukan untuk melanjutkan program. Misalnya untuk penambahan bus atau memulai pembangunan koridor Pulogadung-Kalideres dan Bekasi-Harmoni.

Sampai saat ini, penikmat terbesar proyek busway adalah PT Armada Usaha Bersama dan PT Restu Ibu, yang menang tender untuk pembuatan 56 bus dengan total nilai mencapai Rp 50 miliar. Armada, yang berdomisili di Magelang, memperoleh pesanan pembuatan 43 bus. Sedangkan Restu Ibu, yang pabriknya berada di Bogor, kebagian jatah membuat 13 bus.

Sisa duit anggaran sebesar Rp 82 miliar dibagi rata oleh 35 perusahaan yang kebagian membangun aneka proyek, dari membangun halte, separator, jembatan penyeberangan orang, dan sarana pendukung lain. Termasuk film untuk sosialisasi, yang dikerjakan PT Karya Set Film milik sutradara Garin Nugroho.

Bagi Armada, proyek ini jelas proyek kakap yang harus disambar, meski waktu yang dibutuhkan sangat mepet, hanya satu setengah bulan. "Normalnya butuh waktu dua bulan," kata Edy Djunarko, General Manager Marketing Armada.

Untuk mengejar waktu pembuatan bus, Armada mengerahkan sekitar 600 karyawan. Mereka bahkan masih harus kerja lembur paling tidak empat jam dalam sehari. Toh, tenggat penyelesaian pada akhir Desember lalu tetap tak terpenuhi. Hingga 2 Januari 2004, New Armada baru menyerahkan 23 unit. "Hari ini kami mengirim dua unit lagi ke Jakarta," katanya akhir pekan lalu.

Keterlambatan penyerahan bus, menurut Edy, karena ada perubahan sejumlah aksesori. "Ada permintaan perubahan kipas, speaker, serta penambahan rantai pengikat palu pemecah kaca agar tidak mudah hilang," ia menjelaskan. Namun, ia optimistis bisa menyerahkan seluruh pesanan pada 15 Januari mendatang.

Bus bercat merah dan kuning dengan tulisan "TransJakarta" dan gambar elang di lambung ini memiliki daya angkut 31 penumpang duduk dan 50 penumpang berdiri. Kendaraan berukuran panjang 11,97 meter, lebar 2,5 meter, dan tinggi 3,3 meter itu juga memberi porsi yang sama antara faktor keselamatan penumpang dan kapasitas angkut.

Bus tersebut menggunakan model Genesia, yang mulai diperkenalkan New Armada sejak dua tahun lalu. Bus model Genesia menggunakan bahan fiberglass reinforcement plastic untuk bodi depan dan belakang. Bahan ini sengaja dipilih karena lebih tahan benturan dan mudah diperbaiki sehingga biaya perawatannya akan jadi lebih murah.

Kendaraan buatan New Armada dan Restu Ibu tersebut juga sudah memenuhi uji tipe yang digariskan Departemen Perhubungan.

"Secara uji tipe dan rancang bangun, keduanya sudah disetujui," kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Iskandar Abubakar.

Namun, harga satu unit bus yang mencapai Rp 850 juta dipandang terlalu mahal. Seorang pengusaha angkutan umum yang tak mau disebut namanya mengatakan, nilai yang wajar cuma Rp 720 juta per unit. Edy mengaku tak tahu mengapa harga bus yang dibuatnya lebih mahal. Tapi ia menjelaskan busnya menggunakan teknologi sensor pintu. "Ini kan juga memakan biaya," katanya berkilah.

Sementara para kontraktor proyek dan pembuat bus untuk busway berpesta, tak demikian halnya dengan pengusaha angkutan. Buat mereka, terutama yang trayeknya dilalui busway, proyek itu ibarat racun pahit.

Ketua Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja), Rasmani Hadi Sasmito, mengaku memang tak ada rute Kopaja yang tergusur, karena tak seratus persen sama dengan rute busway. Tapi ia mengeluh pendapatan anggotanya yang melintasi rute Blok M-Kota akan berkurang 10-20 persen gara-gara beroperasinya busway.

Soalnya, kemacetan diperkirakan akan bertambah tinggi sehingga rotasi menjadi berkurang. Bila sebelumnya dalam sehari satu mobil bisa mengangkut sampai tujuh rit, "Setelah busway beroperasi, paling-paling cuma mencapai 5-6 rit saja," ujarnya kepada Nurhayati dari Tempo News Room.

Pendapatan Kopaja juga berkurang lantaran busway menjadi pesaing dalam menarik penumpang. Kendati tarifnya berbeda, busway Rp 2.500 sedangkan Kopaja Rp 1.200, diperkirakan akan ada penumpang yang pindah menggunakan busway, terutama mereka yang lebih mengejar kenyamanan.

Keluhan serupa disuarakan Tasmiyati. Wanita pengusaha pemilik bus Bianglala ini mengaku mengalami kerugian besar gara-gara beroperasinya busway. Armada bus patas AC dan non-AC jurusan Ciputat-Kota kepunyaannya, yang berjumlah 38 unit, praktis bakal terpukul oleh busway.

Semula, dari bus-bus yang beroperasi di jalur yang disebutnya "primadona" itu, Tasmiyati rata-rata memperoleh pemasukan Rp 20 juta di hari biasa dan Rp 18 juta di hari Sabtu-Minggu. Sekarang, ia memperkirakan jumlah penumpang akan berkurang sampai 75 persen, demikian pula pendapatannya.

Lantaran jengkel oleh kebijakan Pemerintah DKI Jakarta, Tasmiyati sempat menawarkan untuk menjual busnya kepada pemda. "Tapi mereka tak mau beli."

Nasib sial tak cuma dialami pengusaha angkutan. Ihmansyah, sopir patas AC Bianglala jurusan Ciputat-Kota, mengaku busway belum beroperasi saja pemasukannya sudah menurun drastis. Biasanya ia menghasilkan Rp 350 ribu, setelah dipotong setoran. "Dari jumlah itu pun harus dibagi dengan kondektur dan kernet."

Sekarang, lantaran jalur menyempit dan kemacetan bertambah, penghasilannya paling banyak cuma Rp 50 ribu sehari.

Dulu Ihmansyah bisa menjalankan busnya rata-rata sepuluh kali dalam sehari (lima rit). Sekarang? "Wah, macet," cetusnya kepada Istiqomatul Hayati dari Tempo News Room.

Perjalanan dari Harmoni ke Kota saja bisa menghabiskan waktu sejam. Alhasil, sekarang dalam sehari ia cuma bisa menempuh tiga rit.

Para sopir seperti Ihmansyah ini bekerja 15 hari dalam sebulan. Sistemnya, sehari masuk, sehari libur. Setiap kali mengemudikan bus, mereka harus membayar setoran sebesar Rp 762 ribu.

Dan tak jarang mereka kekurangan setoran sehingga terpaksa harus mengutang. Ketika Tempo News Room datang ke kantor Bianglala, di salah satu dinding tergantung papan pengumuman yang berisi daftar belasan sopir yang mengutang karena kurang setoran. Padahal, sopir baru bisa menjalankan busnya jika sudah melunasi utangnya.

Para pemilik bus pun sudah memperkirakan menciutnya pendapatan akan membuat para sopir menuntut pengurangan setoran. "Para sopir pasti menuntut begitu, dan ini akan merugikan pemilik," ujar Rasmani.

Kini, harapan para pengusaha angkutan untuk menekan kerugian adalah pemerintah memberikan kompensasi kepada mereka. Bentuknya? "Kami minta izin trayek baru untuk feeder busway," ujar Rasmani dan Tasmiyati bak paduan suara.

Mereka mengaku sangat keberatan bila izin feeder diberikan kepada pengusaha baru. "Soalnya, kami yang sudah lama berkecimpung dan membantu pemerintah memberi subsidi angkutan buat pelajar dan mahasiswa," kata Rasmani.

Selain itu, para pengusaha menuntut diikutsertakan dalam konsorsium TransJakarta yang akan mengelola busway. "Dengan memberi kompensasi itu," kata Rasmani," pemerintah kan tak rugi apa-apa."

Nugroho Dewanto, Dara Meutia Uning, Heru C. Nugroho (Magelang)

No comments: